.

     

Archive for the ‘Berita’ Category

BANTEN-(onlineberita)-Suhu politik di Muktamar Pelajar Islam Indonesia (PII) ke 27, yang digelar Puriresto Rescou, Anyer-Banten, di hari keempat ini mulai menghangat. Rabu (14/7) dini hari, usai rapat pleno Moh Rusli yang merupakan perwakilan PII Maluku Utara dalam sebuah pertemuan khusus mulai berstatement.

Statement Moh Rusli tersebut terlontar dalam sebuah perteman khusus yang hanya diikuti sekitar 200-an perwakilan PII dari Indonesia Timur (IT), seperti Sulawesi, Maluku dan Papua, bertempat di Bukit Pasau Resort, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari tempat Muktamar dilaksanakan.

Pertemuan tersebut tak lebih dari dua jam, yaitu dari jam 01.00 s/d 2.30 Wib–dan pertemuan ini disebut-sebut sebagai jawaban atas munculnya 3 nama calon kuat di Muktamar hari ke 4.

Dalam pertemuan tersebut, Rusli mengatakan, PII IT juga akan mengikut sertakan perwakilannya untuk tampil di bursa pemilihan ketua umum, yang akan dilaksanakan, Kamis (15/7) sore. Ini semata-mata sebagai calon alternatif.

“Selama ini, PII selalu dipimpin oleh kader dari Pulau Jawa dan Sumatera. Kita bukan meragukan kepemimpinannya selama ini, tapi ingin regenerasi kepemimpinannya itu kepada kader PII se-Nusantara. Ini sebagai bukti, PII berhasil menciptakan regenerasi kepemimpinan, dan kader PII IT juga memiliki kemampuan untuk memimpin”, terang Rusli.

Dijelaskannya, saat ini PII IT sudah mengantongi dua nama kader terbaiknya. Mereka yaitu, Yudi (PII Papua Barat) dan Manaf (PII Manado). “Dua nama ini akan digodok menjadi 1. Untuk mensukseskan ini, kami juga akan mengajak PII Kalimatan, Bali dan NTB untuk bersama bersama dalam 1 barisan. Ini semata-mata untuk mengakomodir kepentingan PII se-IT, yang selama ini selalu termarjinalkan”, jelasnya.

Rusli berharap, Muktamar PII ke 28, tahun 2012 nanti dapat dilaksanakan di IT. “Dimanapun tempatnya, kami selalu siap menjadi tuan rumah yang penting wilayah IT”, tegasnya.

Lebih jauh dikatakan, IT selama ini dipandang sebagai daerah rawan konflik agama dan sebagai monoritas. Dengan demikian, kepemimpinan IT dapat membuktikan bahwa wilayah IT adalah damai meski tak menafikan sering terjadinya pemurtadan dan intimidasi, seperti yang terjadi di Kota Injil, Papua.

Ditempat yang sama, perwakilan PII Sulawesi Tengah, Rahman menegaskan, kader PII IT juga sanggup memimpin PII ke depan. “Ini bukan persoalan menang atau kalah, tapi sebagai kader PII harus selalu siap memimpin dan berjihad kapanpun dan dimanapun”, tegasnya. (rojak daud)

http://onlineberita.com/berita-409-suhu-politik-muktamar-pii-menghangat-it-siap-munculkan-kadernya-sebagai-calon-alternatif.html

TOR Samnas dan Muknas

Posted by admin On Mei - 22 - 2010

Assalamu’alaikum,
Bagi PW PII Tanah Air yang belum mendapatkan TOR Samnas dan Muknas silakan download di sini http://www.4shared.com/file/xperzhkY/Berkas_Samnas-Muknas.html
Syukran,
Wassalamu’alaikum.

-tertanda-
Wasekjend

Ujian Nasional, Cacat Hukum

Posted by admin On Mei - 15 - 2010

Berbagai diskusi dan seminar tentang ujian nasional (UN) telah banyak digelar oleh sejumlah pelajar, pakar dan praktisi pendidikan, hasilnya adalah bahwa UN bukanlah sistem yang baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tahun 2006 Tim Advokasi korban Ujian Nasional (TeKun) telah mengajukan Citizen Law Suit tentang Ujian Nasional terhadap Negara Republik Indonesia co. Presiden Republik Indonesia (sebagai tergugat I) Wakil Presiden Republik Indonesia (sebagai tergugat II), Menteri Pendidikan Nasional (sebagai tergugat III), dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (sebagai tergugat IV).

Dari putusan pengadilan tersebut, para tergugat terbukti melakukan perbuatan melawan hukum dan lalai dalam melindungi dan memenuhi Hak Asasi Manusia (HAM). Bahkan KOMNAS HAM telah memperingatkan pemerintah melalui suratnya dengan nomor 3.676/K/PMT/XII/2009 yang ditujukan kepada Presiden RI, dalam surat tersebut Komnas HAM menjelaskan bahwa UN melanggar HAM dan meminta kepada pemerintah untuk menghentikannya karena berdasarkan ketentuan dari pasal 8 Undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang HAM, perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi tanggung jawab pemerintah.

Secara konstitusi, pelaksanaan UN cacat hukum akan tetapi putusan tersebut tidak dipenuhi oleh para tergugat, bahkan ujian nasional (UN) tetap dilaksanakan pada tahun 2010. Dengan arogansinya pemerintah tetap melaksanakan UN padahal negara Indonesia dengan tegas dinyatakan dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 3 sebagai negara hukum, ini sebagai bukti bahwa panglima di republik ini realitasnya bukanlah hukum tapi penguasa. Dalam hal ini pun, pemerintah telah melanggar UUD 1945 sebagai hukum dasar Republik Indonesia yang semestinya menjadi pijakan utama dalam melaksanakan sebuah aturan perundang-undangan.

Ujian Nasional dan “Masa Depan Bangsa”

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh selalu mengatakan bahwa UN diselenggarakan demi masa depan bangsa, penulis yakin semua masyarakat Indonesia menyepakati akan tujuan sakral yang dimaksud. Suatu I’tikad yang sangat baik tapi sayang jalan yang ditempuh adalah jalan berliku sehingga bagaimana kita akan sampai secara cepat dan tepat pada sebuah kemajuan sementara mentalitas generasi bangsa dirusak secara sistemik.

UN 2010 baik SMA maupun SMP telah diselenggarakan dan hasilnya pun sudah diumumkan, kita semua melihat fenomena yang terjadi setelah hasilnya diumumkan. Akumulasi kekecewaan menghiasi dunia pendidikan kita, banyak sekali yang menangis, marah, merusak sekolah, gantung diri seperti yang menimpa saudara kita Adek siswa kelas 3 SMP warga Kelurahan Bumi Ayu, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Provinsi Riau, Adek sendiri selamat karena keburu ketahuan oleh ibunya. Nasib nahas menimpa saudara kita Wahyuningsih, siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Muaro Jambi, bunuh diri karena tidak lulus UN.

Ini adalah dua contoh tragis yang penulis kemukakan yang merupakan dampak dari sebuah sistem yang salah, masih banyak penderitaan lain yang menimpa para siswa/siswi korban UN. Seperti inikah potret pendidikan kita, menyiksa, sangat kejam dan sangat tidak humanis. Apakah jalan berliku seperti ini untuk memajukan masa depan bangsa yang taruhannya mesti dibayar oleh nyawa yang notabene mereka adalah para calon pemimpin yang akan melanjutkan masa depan bangsa ini.

Hasil ujian nasional tingkat SMA/MA tahun ini menurun cukup signifikan, tingkat kelulusan tahun ini 89,61 persen sedangkan pada tahun 2009 yaitu 95,05 persen. Begitupun dengan tingkat SMP/Tsanawiyah yang pada tahun 2009 yaitu 95,09 persen menjadi 90,27 persen pada tahun 2010. Menurut Mendiknas Mohammad Nuh, angka penurunan kelulusan ini justru membuktikan bahwa UN berjalan baik dan ketat. Penulis tidak sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Mendiknas tersebut, berdasarkan laporan yang kami terima telah terjadi kebocoran soal yang sangat luar biasa, sehingga terjadi fenomena yang diluar nalar rasional manusia misalnya ada siswa yang tidak menguasai matematika bahkan dia pun pesimistis untuk mendapat nilai baik tapi malah mendapatkan nilai 8 bahkan ada yang 10, ini kan sangat paradoks.

Penurunan ini mestinya menjadi bahan evaluasi dan bukan kebanggaan bagi pemerintah yang seolah-olah UN berjalan jujur, tanpa ada masalah sedikitpun, bahkan supaya pemerintah dianggap ketat sampai menurunkan pihak kepolisian demi sebuah citra. Padahal dalam konteks ini saja, pemerintah sudah salah kaprah, lembaga pendidikan layaknya tempat narapidana, bagaimana siswa akan merasakan pendidikan yang nyaman dan merdeka sementara psikologisnya dibunuh oleh sistem yang ngawur.

UN bukanlah alat pengukur utama untuk menilai kualitas siswa bahkan dalam prosesnya pun banyak sekali persoalan moral yang dilanggar, kalau Mendiknas selalu bicara UN adalah untuk kemajuan masa depan bangsa, apakah masa depan seperti ini yang hendak diciptakan, generasi tidak berkarakter. Penulis dapat informasi dari seorang guru salah satu SMA Negeri di Bandung yang mendapatkan email dari siswanya yang lulus UN, dia mengatakan “Saya dukung pak tolak UN 2011, biar angkatan di bawah saya tidak merasakan kegelisahan, ketidakadilan, tidak merasakan dosa yang angkatan kami dapatkan karena mengisi jawaban bukan karena pemikiran kita sendiri. Saya juga sebenarnya malu pak dengan nilai 10 itu, takut tidak bisa mempertanggungjawabkan nilai tersebut”.

Ini adalah pernyataan jujur dan curahan hati dari seorang siswa kepada gurunya. Kita sangat menunggu jawaban yang lebih komprehensif dari Mendiknas karena dia sudah tahu, surat tersebut pernah dibacakan oleh salah seorang guru dihadapannya ketika dalam sebuah acara beberapa minggu yang lalu di salah satu stasiun TV swasta. Jadi tema UN tahun ini yaitu prestasi dan jujur hanyalah slogan belaka, Mendiknas mestinya melihat ini secara jujur, jangan terlalu arogan dan anti kritik.

Dalam suasana kebatinan yang resah seperti ini, patut bagi kita melihat ulang isi dari UU Sisdiknas pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Penulis berpendapat ujian nasional sangat jauh dari nilai-nilai yang diamanahkan oleh UUD 1945 dan UU Sisdiknas pasal 3 ini, artinya adalah bahwa ujian nasional bukan hanya cacat secara hukum tapi juga hampa dari ruh pendidikan itu sendiri, pendidikan di republik ini bukan melahirkan kualitas tapi melahirkan air mata kering, solusinya adalah hapus UN dan ganti dengan sistem yang lebih humanis dan memerdekakan peserta didik.

Ali Rasyid
Ketua Tim Advokasi UN Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII)
Anggota Pelajar dan Masyarakat Tolak UN
(//mbs)

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2010/05/14/95/332473/ujian-nasional-cacat-hukum

PII: UN Merusak Kejiwaan Anak Indonesia

Posted by admin On Mei - 11 - 2010

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim advokasi ujian nasional (UN), Pelajar Islam Indonesia (PII), mengeritik pelaksanaan ujian nasional (UN) untuk menguji kemampuan siswa dianggap memberikan efek serius terhadap kejiwaan anak-anak Indonesia.

“Pelaksanaan UN dari tahun ke tahun terbukti mengakibatkan efek dan imbas kejiwaan yang serius bagi anak-anak Indonesia. Ini permasalahan krusial yang tidak hanya berdampak pada pelanggaran hak-hak asasi anak, tetapi juga dampak moral imbas sistem pendidikan yang masih kacau,” ujar Ali Rasyid, Tim advokasi UN PB PII, saat ditemui Tribunnews.com, Selasa (11/5/2010), di sekretariat PB PII.

Mendiknas adalah orang pertama yang seharusnya bertanggungjawab atas beragam persoalan tersebut. Kami tegas meminta supaya beliau dengan rendah hati mengundurkan diri dari jabatannya,” ujar Ali.

Tim Advokasi PB PII juga mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah preventif agar korban UN tidak lagi berjatuhan. Mereka bahkan dengan tegas mendesak agar pemerintah tidak lagi menyelenggaran UN pada tahun-tahun kedepan.

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/05/11/pii-un-merusak-kejiwaan-anak-indonesia

Dinilai Gagal, Mendiknas Diminta Mundur

Posted by admin On Mei - 11 - 2010

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelajar Islam Indonesia (PII) menyatakan bahwa pelaksanaan ujian nasional (UN) tidak sejalan dengan janji pemerintah untuk menyempurnakan sistem pendidikan dan menganggap pelaksanaan UN telah melanggar HAM.

Karena itu PII mendesak agar Mendiknas M Nuh sebagai orang tertinggi dalam lingkup pendidikan nasional dengan rendah hati mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas beragam persoalan serta peristiwa setelah UN diselenggarakan.

Ali Rasyid, Tim advokasi UN PB PII, saat ditemui Tribunnews.com, Selasa (11/5/2010), di sekretariat PB PII, menegaskan, seruan agar mantan rektor ITS tersebut turun bukan hanya karena Nuh dinilai gagal dalam memperbaiki kualitas pendidikan nasional dengan indikasi merosotnya jumlah kelulusan siswa tahun ini, tetapi juga beragam persoalan yang membelenggu dunia pendidikan Indonesia.

Ia menambahkan, sejak Nuh memimpin, belum dirasakan perubahan signifikan ke arah yang posifif yang dirasakan dari dunia pendidikan nasional. Bahkan, permasalahan baru kerap terjadi. Mulai persoalan sekolah gratis yang hanya isapan jempol hingga makin tingginya anggaran pendidikan yang tidak berbanding lurus dengan penyelenggaraan dan kualitas pendidikan tanah air.

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/05/11/dinilai-gagal-mendiknas-diminta-mundur

UN Kembali Dikecam Banyak Pihak

Posted by admin On Mei - 10 - 2010

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Setelah kemarin puluhan pelajar yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII), berkumpul untuk mendeklarasikan sikap penolakan terhadap Ujian Nasional, kini sikap yang sama dilontarkan berbagai pihak. Tak hanya itu, puluhan baliho serta poster-poster ukuran besar berisi kecaman terhadap UN juga masih terlihat di Jakarta. Minggu (9/5/2010).

Ali Rasyid, Tim advokasi UN PB PII mengatakan, pelaksanaan Ujian Nasional yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu, terbukti tidak sejalan dengan janji pemerintah untuk bisa menyempurnakan serta memperbaiki sistem UN.
Padahal, terlepas dari kabar baik penerintah yang mengklaim pelaksanaan UN tahun ini yang dibilang ketat dan jujur, tersimpan permasalahan krusial yang tidak hanya berdampak pada pelanggaran hak-hak asasi anak, tetapi juga dampak moral imbas UN tersebut.

Ali menilai, masalah pelaksanaan UN tersebut harus dikaji ulang lagi secara komprehensif agar Pemerintah betul-betul sadar akan manfaat dan mudharat pelaksanaan UN. Mereka juga melihat pelaksanaan ujian tersebut dari tahun ke tahun terbukti mengakibatkan efek dan imbas kejiwaan yang sangat serius bagi anak-anak Indonesia.

Kekhawatiran tersebut terbukti dengan beberapa kasus kematian siswa akibat terlalu depresi setelah pelaksanaan UN. Tidak hanya kasus meninggal dunia saja, PII juga mencatat sejumlah gangguan psikis juga dialami banyak siswa pasca UN tersebut.

“Suara menolak UN masih besar. Pemerintah dan mendiknas seharusnya mendengar suara-suara tersebut. Tak hanya satu dua kelompok masyarakat saja yang menyuarakannya. Para pengkaji kebijakan, tokoh akademisi bahkan pengamat HAM juga sepakat memandang UN ini sangat tidak layak dipakai untuk alat ukur kelulusan. Saya kira pandangan dan temuan-temuan ini cukup representatif untuk menolak UN,” ujar Ali saat ditemui Tribunnews.com kemarin.

Tim Advokasi PB PII juga mendesak Pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah preventif agar korban UN tidak lagi berjatuhan. Mereka bahkan dengan tegas mendesak agar Pemerintah tidak lagi menyelenggarakan UN pada tahun-tahun berikutnya.

Mereka memandang, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menentukan standar kelulusan siswa dibanding pelaksanaan UN tersebut. Apalagi, dalam UN, hanya ada beberapa mata pelajaran saja sebagai indikator pokok penilaian yang bisa mempunyai kekuatan untuk mengaburkan tiga tahun penilaian masa belajar.

“Jelas kami mendorong dan mendesak agar UN tidak dilaksanakan lagi. Jika memang bicara tentang evaluasi, pemerintah harus melihat hal-hal lain sebagai indikator kelulusan. Okelah jika harus bicara konsisten tentang pemetaan. Tapi masa iya pemetaan terus tiap tahun tanpa ada perubahan perbaikan, ini jelas bentuk arogansi pemerintah saja,” ungkap Ali. (*)

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/05/09/un-kembali-dikecam-banyak-pihak

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) meminta pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan ujian nasional sebelum mampu meningkatkan anggaran pendidikan, kualitas guru, dan akses informasi. Hal tersebut dinyatakan Ketua Umum PB PII Nasrullah kepada Tempo di Jakarta, Sabtu (8/5).

Menurutnya, pelaksanaan ujian nasional telah memakan banyak korban, di antaranya menyebabkan siswa dan orang tua tertekan, bahkan tak jarang bunuh diri karena putus asa.

Oleh karena itu, jelas pimpinan organisasi pelajar periode 2008-2010, pemerintah harus memperhatikan keputusan Mahkamah Agung yang meminta menghentikan seluruh kegiatan ujian nasional.

“Kami bukan tak setuju pelaksanaan ujian nasional, namun pemerintah perlu memperhatikan beberapa faktor,” ujarnya.

Faktor tersebut, tambahnya, soal anggaran pendidikan. Meskipun dalam APBN anggaran pedidikan meningkat hingga 20 persen, namun belum bisa menjangkau ke seluruh jenjang pendidikan nasional.

Kedua, masalah kualitas guru. Upaya pemerintah melakukan peningkatan mutu guru dengan berbagai cara patut diapresiasi, namun tidak merata ke seluruh pelosok negeri. Ketiga, akses informasi. Tak semua siswa dan sekolah di republik ini memiliki akses bagus di bidang pendidikan, menyebabkan daerah-daerah yang tak terjangkau informasi dari pusat kerap kelabakan jika harus berhadapan dengan kebijakan pemerintah.

Melihat fakta di atas, sekali lagi Nasrullah meminta pemerintah segera mengevaluasi total pelaksanaan ujian nasional, bila perlu menghentikan sementara sebelum ketiga faktor tersebut diselesaikan.

Yang memprihatinkan, katanya, guru dan murid hanya mengejar kelulusan bukan meningkatan kualitas pendidikan atau membangun karakter, sehingga menggunakan berbagai cara agar bisa lulus. “Termasuk mencontek atau berbuat curang.”

Siang ini Sabtu (8/5) pukul 14.00, PB PII mengadakan mimbar bebas di Jalan Menteng Raya 58, Jakarta Pusat. Acara ini digelar selain untuk memperingati Hari Kebangkitan PII ke-63 sekaligus menyampaikan aspirasi pelaksanaan ujian nasional diikuti oleh pelajar se-Jakarta.

CHOIRUL

sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/05/08/brk,20100508-246526,id.html

Hari Berkabung Nasional

Posted by admin On Mei - 2 - 2010

Sekelompok masa yang menamakan diri Komite Bersama Aksi Rakyat 2 Mei (Kobar 2 Mei) mengubah Hari Pendidikan Nasional sebagai Hari Berkabung Nasional. Ini terkait dengan adanya sejumlah pelajar yang mencoba bunuh diri karena tidak lulus Ujian Nasional (UN).

Kobar juga menuntut pemerintah harus bertanggung jawab atas adanya siswa yang bunuh diri karena tidak lulus UN.

Sebut saja Wahyuningsih, siswi SMK Negeri 3 Muarojambi, Jambi, yang mengakhiri hidupnya karena tidak lulus pada satu mata ujian UN. Shock membuat siswi itu meminum racun serangga.

Komite Bersama Aksi Rakyat 2 Mei (Kobar 2 Mei) menilai peristiwa bunuh diri ini disebabkan oleh pemerintah yang tetap bersikukuh menyelenggarakan UN.

“Pemerintah harus bertanggung jawab adanya pelajar yang bunuh diri karena UN. Itu akibat pemerintah tetap ngotot menyelenggarakan UN. Oleh karena itu, hari ini bukan Hari Pendidikan Nasional, tapi Hari Berkabung Nasional,” ujar salah satu pengurus besar Pelajar Islam Indonesia yang tergabung dalam kelompok tersebut, A Basori, dalam orasinya di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (2/5).

Sementara itu, Kobar 2 Mei juga menuntut agar pemerintah mewujudkan anggaran pendidikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Mereka juga menyerukan penolakan terhadap komersialisasi pendidikan. (*/OL-7)

sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/02/139975/88/14/Hari-Pendidikan-Nasional-Jadi-Hari-Berkabung-Nasional-

sementara itu, ada juga siswi yang bunuh diri di Wonogiri karena tidak lulus UN. serta masih banyak lagi kasus lain yang tidak terekspos oleh media.. UN dilaksanakan hanya sebagai arogansi pemerintah saja untuk merealisasikan kehendak yang tidak punya makna bagi dunia pendidikan.. penolakan akan pelaksanaan UN akan terus dilakukan oleh PII sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah yang tidak bijak mengelola pendidikan di Bumi Peritwi ini.. Arogansi atau Kebodohan dan Ketulian?? Kita akan lihat perkembangannya untuk masa mendatang..

berbuat lebih

Posted by iqro On Maret - 30 - 2010

Seorang pencari bambu yang biasa nya untuk dijadikan sebagai kayu api akan menmperoleh sekedar api yang menyala dan menjadikan makanan yang di atas tungku menjadi matang tanpa mendapatkan tembahan finansial dai bambu yang di peroleh nya. tetapi alangkah bijak nya jika sang pencari bambu tersebut bisa mengolah bambu yang di dapatnya tidak hanya sekedar di jadikan kayu api tetapi bambu tersebut di raut kecil-kecil dan dijadikan tsuk gigi,tentu harga nya akan menjadi labih mahal dan bisa mennambah penghasilan ketimbang hanya dijadikan kayu api.

Begitu juga ketika kita ibadah puasa misalnya. tentu jika hanya mengharapkan ibadah puasa maka pahala yang di dapat juga hanya sebanding dengan usaha yang kita lakukan, tetapi jika ibadah puasa yang dilakukan dibarengi dengan tadarus serta sholat malam pada pertiga malam nya tentu akan mendapatkan pahala yang lebih di sisi Allah. bukankah Allah telah berfirman bahwa Allah akan membalas kebaikan ,usaha yang kita lakukan sekecil apapun. seringkali ibadah yang kita lakukan hanya sekedar mengugurkan kewajiban saja tetapi apakah kita pernah berpikir untuk menjadikan ibadah itu sebagai lahan untuk kita semakin dekat dan mendapatkan nilai positif dari Allah SWT.

Seorang mahasiswa saja ketika dia ingin mendapatkan nilai yang tinggi pada suatu mata kuliah maka dia mendekatkan diri pada dosen yang memberikan mata kuliah tersebut, kenapa kita tidak mencoba lebih mendekatkan diri kita terhadap Allah untuk mengambil hati sang khalik agar rahmat Nya selalu mengucur kepada kita?????????

BCA syariah akhirnya dibuka

Posted by admin On Maret - 10 - 2010

Bank Indonesia (BI) telah resmi memberikan izin operasi kepada Bank Central Asia Syariah (BCA Syariah) pada tanggal 2 Maret 2010.

Dengan ini BCA Syariah menjadi bank syariah ke-7 di Indonesia yang beroperasi khusus dalam usaha syariahnya.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Ramzi A Zuhdi kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (9/3/2010).

“Ya, (BCA Syariah) sudah mendapatkan izin,” ujarnya.

Sebelumnya, Bank-bank yang telah beroperasi sebelum BCA Syariah yakni Bank Muamalat, Bank Mandiri Syariah, Bank Mega Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank BRI Syariah dan Bank Panin Syariah.

Ramzi menambahkan bank selain BCA Syariah, bank syariah yang tengah dalam proses pemberian izin oleh BI adalah Bank BNI Syariah, Bank Victoria Syariah, dan Bank Jabar Banten Syariah.

Dihubungi di tempat terpisah, Wakil Direktur Utama BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan telah menunjuk calon Direktur Utama BCA Syariah. “Calon Dirutnya yakni Ibu Yana Rosiana,” tutur Jahja.

BCA Syariah merupakan hasil konversi Bank UIB (Utama International Bank) yang diakusisi pada Oktober 2008.

Sumber: Detik.com

Jakarta – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan melakukan penertiban sekolah berlabel internasional. Aturan ini dilakukan seiring diberlakukannya PP No 17/2010.

“Otomatis akan ada sweeping. Jangan sampai masyarakat mendapatkan kualitas pendidikan yang semu. Akan ada upaya penertiban,” kata Kepala Humas Kemendiknas Muhajir saat dihubungi detikcom, Selasa (9/3/2010).

Dia menjelaskan, aturan ketat ini diberlakukan karena banyaknya sekolah yang berlabel internasional tapi hanya sekadar label saja.

“Yang tidak masuk kriteria otomatis gugur, seleksi akan sangat ketat agar tidak ada bayang-bayang kualitas semu,” tambahnya.

Dalam PP 17/2010 diterangkan sekolah internasional yang dimaksud wajib menyesuaikan dengan kurikulum nasional. Syarat ini mesti dilakukan oleh sekolah berlabel internasional.

“Semuanya ada standarisasinya. Standar nasional itu harus masuk, jangan sampai ada nuansa mengkomersilkan pendidikan, harus ada nilai sesuai moral, integritas,” tutupnya.

Sumber: Detik.com

Kabar Duka Cita Mujahid Muda Jawa Tengah

Posted by admin On Februari - 27 - 2010

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un

Telah berpulang ke rahmatullah salah satu kader terbaik PII Jawa Tengah, sahabat dan saudara perjuangan kita:

MUSTAFID AMNA (David)
Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Jawa Tengah Periode 2009-2011

Semoga amal ibadah beliau diganjarkan pahala yang berlipat dari Allah dan memperoleh maghfirah-Nya, amin.

Selamat jalan pejuang PII yang selalu mengemban amanah kader umat. Hidup di sisi Rabb untuk nikmat yang terbaik.

Berita duka kami peroleh dari M Zainul Arifin (Kabider PB PII) pada Sabtu, 27 Februari 2010; pukul 10.43 WIB, Zainul mengabarkan almarhum bersama Aji Aflakhi (kritis di RS) mengalami musibah terjatuh dari kereta api dari Semarang menuju Tegal.

CP:

Mirza Hayati-Korwil Brigade PII Jawa Tengah (0856 95 388 407)

Ridwan Zulmi
Wakil Sekretaris Jenderal
PB PII

Menguak Misi Terselubung di Balik Infoteinmnet

Posted by bayong_smd On Februari - 22 - 2010

Penguasaan media merupakan salah satu alat penting dalam penanaman nilai-niai dalam kehidupan masyarakat. Saking pentingnya media, Paul Friedman sampai mengatakan, “Siapa pun yang menguasai media, maka ia akan merubah masyarakat.” Pernyataan yang cukup beralasan, sebab media sekarang justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab yang berupaya mencari keuntungan dengan dengan segala cara, sehingga menimbulkan ekses-ekses negatif. Lebih memprihatinkan lagi, ekses-ekses negatif ini telah merubah gaya hidup sebagian masyarakat kita, khususnya para remaja yang sedang berupaya utuk mencari jati diri mereka.

Masyarakat modern, meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang, berada pada sebuah realitas semu, mereka berada pada homogenisasi budaya dan nilai-nilai sehingga seakan kehilangan makna dan jati diri mereka. Apalagi nilai lebih yang ditawarkan media tertentu bearda pada kontrol pasar dan harus menyesuaikan dengan keinginan pangsa pasar, sehinga prioritas utama yakni orientasi pada keuntungan semata. Akibatnya masyarakat dituntut untuk terus mengkonsumsi atau pihak perusahaan akan kehilangan profit mereka. Orientasi untuk profit (profit oriented) harus terus dikerahkan, sementara masyarakat hanya boleh menonton.

Salah satu elemen media yang paling sering kita hadapi adalah dunia Infotainment. Muncul sebuah pertanyaan, sebegitu burukkah peranan media dalam era kapitalisme global yang mana nilai-nilai komoditas menjadi tujuan utama melalui budaya konsumtifnya? Kenapa penulis hanya memusatkan peranan media hanya sebatas seputar infotainemnt belaka, sementara masih banyak elemen-elemen atau ranting-rating media lainnya yang juga perlu menjadi pembahasan?. Hemat penulis, infoteinment merupakan sebuah instrument praktis yang kerapkali dipakai dan ditonton masyarkat. Oleh karenanya misi terselubung dibalik maraknya infoteinment patut kta cermati dan perlu telaah lebih mendalam secara bersama.

Infoteinment Sampai Mati

Infotainment; informasi enterteinment adalah sebuah penyampai informasi ringan yang berisi hiburan. Rating penonton di Indonesia yang menyaksikan tayangan infoteinment mencapai hampir 10 juta (viva.news.com), dengan kata lain sekitar 6,25% penduduk Indonesia menjadi penikmat tayangan infoteinment. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita sebagian besar menggandrungi infotainment. Padahal, dunia hiburan dan kepuasan yang menjadi tujuan dari kapitalsme telah meracuni pemikiran sebagian masyarakat kita.

Seorang ibu-ibu rela menyisakan waktu luang mereka, hanya untuk menyaksikan kehidupan beberapa artis, sekalipun mereka tidak tahu atau bahkan tidak akan pernah merasakan kehidupan artis idaman mereka. Beberapa remaja terkontaminasi serangan budaya yang globa (culture attack), sehingga kehilangan identitas diri. Rasanya tidak asik kalau seorang remaja tidak mempunyai band favorit atau mengikuti gaya pakaian idola mereka. Bahkan anak-anak yang masih harus mendapat perlindungan -bukan hanya secara pemenuhan kebuthan fisik seperti yang lazim kita ketahui- akan kehilangan hak intelektual mereka dengan semakin meningkatnya jenis-jenis infotainment yang ditayangkan setiap harinya. Dunia anak-anak yang peuh dengan hiburan seakan-akan hilang ketika gaya hidup orang dewasa telah berhasil masuk dalam pemikiran dan merusak kehidupan mereka. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengantongi data, hanya 30 persen acara televisi yang aman ditonton anak-anak pada 2006, dan tidak ada perubahan tahun 2007.

Ini hanya segelintir fakta yang sekarang sedang terjadi di depan mata kita. Kepandaian atau kepiawaian dunia enterteinment terlihat, ketika mereka berhasil masuk kedunia imajinasi masarakat yang secara psikologis mengalami kejenuhan serta berhasil mengangkat pencitraan yang dinilai tabu menjadi biasa. Manusia memiliki rasa keingintahuan sangat besar terhadap suatu hal. Selama yang disampaikan merupakan sesuatu yang tabu atau jarang tersentuh dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat menyenangkan untuk dilihat. Dunia glamour para artis yang disajikan adalah contohnya.

Bukan hanya itu, munculnya tayangan-tayangan yang berusaha untuk menunjukan pencitraan manusia juga mendapat nilai komodoti tertinggi. Lihat saja dari tayangan Take Me/Him Out yang merupakan acara pencarian jodoh. Pencarian pasangan hidup yang semestinya merupakan urusan pribadi, jurtru telah berhasil dijadikan sebagai sebuah tontonan menarik bagi para pemirsanya. Sekalipun penonton tidak punya urusan dengan tawaran pasangan yang ditampilkan, namun kemasan atau pengolahan pencitraan yang menyajikan hiburan secara mengasikkan telah berhasil meghipnotis berjuta-juta penonton di Indoneisa.

Tayangan Curhat yang ditayangkan salah satu satasiun TV Swastamenanyangkan persoalan pribadi masyarakat, juga berhasil menjadi tontonan menarik. Betapa tidak, problematika rumah tangga sampai prerselinguhan pasangan yang semestinya diselesaikan secara kekeluargaan, malah ditayangkan secara vulgar di televisi. Bahkan salah satu stasuun TV Swastalain, setiap malam menayangkan problem keluarga-keluarga bermasalah dengan wajah mereka yang disensor.

Dunia infoteinmen pun telah berhasil masuk kedalam dunia privat para figur publik, sebut saja selebriti. Seperti kejadian yang menimpa artis Luna Maya. Merasa dirugikan oleh ulah para wartawan infotainment, Luna Maya mengeluarkan pernyataan emosional melalui Twitter, sehingga menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan Infotainmen menyerang balik dengan menggunakan kekuatan hukum untuk demi melindungi kepentingan di balik acara infoteinment tersebut. Tidak heran mulai bermunculan kecaman untuk mengharamkan inofeteinmemt mulai dari keputusan PBNU sampi kepada fatwa haram MUI (detik.com)

Apa yang membuat acara-acara ini dapat tetap bertahan? Rating, itulah kiranya yang menjadikan tayangan-tayangan hiburan tersebut selalu dapat bertahan. Jumlah rating yang tinggi musti tetap dipertahankan, itulah barangkali yang terjadi di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia yang menepati urutan kedua terbesar. Tayangan mulai Take Me/Him Out, Curhat, bahkan Mama Mia yang pernah fenomenal menempati rating teringgi yang selalu ditonton banyak orang. Sebagai misal, Mama Mia menurut hasil survey yang dilakukan AC Nielsen, dinyatakan meraih rating rata-rata 6.5 dengan share penonton 19,4 %. Bahkan pada tayangan hari Jumat 15/6-2007, Mama Mia mampu meraup 20 juta pemirsa untuk Coverage Indosiar, mengalahkan jumlah penonton `Indonesian Idol` pada jam tayang yang sama.

Menurut pihak Indosiar tentang kesuksesan acara Mama Mia, ”Fokus penggarapan 70 % pada anak dan 30 % pada peran ibu memang telah menjadi target format kami sejak awal. Terlebih-lebih program ini memiliki keistimewaan tidak memilih-milih peserta untuk ikut. Artinya untuk yang bertubuh normal atau cacat. Siapa saja boleh ikut, dan ini yang menjadikan format Mama Mia jadi lebih punya daya jual.” Rating yang semakin tinggi akan memliki daya jual yang tinggi pula, apa pun bentuknya harus tetap dipertahankan.

Bahkan, agama tak luput dari cengkraman racun infoteinment. Pembauran antara dunia hiburan dengan dunia spiritual telah memudarkan atau mengaburkan makna lain dari dunia ritual tersebut. Dunia ritual yang ditawarkan para penguasa entertainment-enterteintment tidak lebih dari ajang bisnis yang menampilkan sesuatu yang sifatnya semu. Jean Baudrillard menyebutnya dengan Hiperrealitas, yakni kenyataan yang semu seakan-akan nyata, kenyataan adalah kesemuan itu sendiri. Tidak ada perbadaan fiksi dan kenyataan, karena garis pemisahnya benar-salah menjadi satu, palsu atau buram.

Meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang lagi, fenomena ini termasuk kedalam aestetichism yaitu pengindahan visual menjadi seakan-akan nyata dengan begitu indahnya. Semua wacana dijadikan dan ditata secara begitu indah dengan menonjolkan kesenangan-kesenangan atau hiburan, sehingga tidak terlihat keburukan yang ditampilkan di belakangnya, atau misi terselubung di baliknya.

Orientasi Keuntungan Kebablasan, Ancaman Masa Depan Manusia

Kenyataan tersselubung tersebut bukan hanya pembodohan secara tidak langusng, namun juga berakibat pemiskinan-pemiskinan intelektual maupun pemiskinan material. Dunia infotainment yang berlindung di balik tirai kapitlaisme global melalui mekainsme pasarnya secara tidak langsung telah mematikan industri hiburan yang jauh lebih mendidik. Apalagi dengan dibukanya pasar bebas atau free trade area (pasar bebas 2010) semakin membuka harapan sekalgus Ancaman. Harapan bagi para pengusaha infotainment untuk memajukan bisnis mereka yang mengalami peningkatan rating dari tahun ke tahun. Pertahankan keuntungan atau akan jatuh bangkrut tak peduli bagaimana caranya. Sementara industri hiburan yang lebih edukatif, selain miskin pangsa pasar, malah akan tersisihkan dan kalah bersaing. Inilah pemiskinan secara struktural di kancah doemsetik. Karenanya pembukaan pasar bebas bukan hanya mematikan industri-industri kecil masyrakat kita, namun juga masa depan hiburan yang jauh lebih edukatif akan mati.

Apalagi bila sampai memasukan unsur agama yang begitu sakral ke dalam mekanisne pasar, maka secara tidak langsung nilai-niai kebajikan yang ditawarkan agama akan pudar, bahkan kehilangan maknanya sebagai control sosial dan sakral. Agama akan mengalami semacam “privatisasi agama” (khoirul faizin) atau komodivikasi agama, yaitu sekadar pemuas indivudu dan harus menyesuaikan dengan kemauan pasar, bukan lagi pemaknaan agama secara spiritual, moral, sakral dan sosial. Singkat kata, dunia infoteinment yang berusaha masuk ke dalam agama telah merusak pemaknaan agama secara lebih mendalam.

Menurut Eko Prasetyo bahwa bisnis adalah bisnis, dan akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berbujung pada pencarian keuntugan. Atau seperti kata Karl Marx dalam Das Capital, kapitalisme berorientasi pada keuntungan, dan untuk mendapat keuntungan dibutuhkan modal. Dari mana modalnya? Eksploitasi segala hal yang menguntungkan.

Bisnis infoteinment hanya akan berujung pada keuntungan, bukan trasnformasi nilai yang lebih konstruktif. Perubahan sosial yang ditawarkan adalah perubahan yang berupaya menjadikan hiburan sebagai komoditas utama selama dapat meningkatkan keuntungan finansial dalam skala dan jumlah yang besar, itulah rekayasa sosial yang terjadi. Itulah sisi terleubung dari dunia infoteinment yang setiap hari menyajikan hiburan tanpa tapal batas, dan manusia menjadi objek yang dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pasar. Manusa ditentukan dari pemberitaan yang disampaiakan, bukan berdasarkan kemauan sendiri, akibanya ialah dehumanisasi.

Memang tidak bisa dipungkiri era globalisasi sekarang tidak ada sekat antara kebijakan (policy) dan moral (morality), sehingga menciptakan tatanan masyarakat glamour, hedonis dan konsumtif. Hal ini mengakibatkan dekadensi moral, krisis identitas, dan kerancuan nilai. Dunia yang mengalami keterbukaan berlebihan (overtrasnparansi) yang di luar batas nalar dan etika manusia telah menimbukan efek-efek negatif dalam kehidupan kita. Dunia hiburan yang tadinya menjadi kebutuan sekunder, nyatanya telah menjadi sebuah kebutuhan primer..

Masyarakat yang terpengaruh media infotainment bukan hanya menghilangkan daya kritis, sikap rasional dan bijaksana masyarakat, namun juga menciptakan homogenisasi kehidupan yang seolah dipaksakan. Akhirnya manusia akan mengalami kepunahan, yakni kepunahan rasionalitas dan berkurangnya kebijaksanaan. Mungkinkah ini tanda kalau Kiamat 2012 akan terjadi?

Oleh: Baharunsyah
Aktivis PII dan mahasiswa FISIPOL Universitas Mulawarman Kaltim

KIRIM SMS GRATIS

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook