Penguasaan media merupakan salah satu alat penting dalam penanaman nilai-niai dalam kehidupan masyarakat. Saking pentingnya media, Paul Friedman sampai mengatakan, “Siapa pun yang menguasai media, maka ia akan merubah masyarakat.” Pernyataan yang cukup beralasan, sebab media sekarang justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab yang berupaya mencari keuntungan dengan dengan segala cara, sehingga menimbulkan ekses-ekses negatif. Lebih memprihatinkan lagi, ekses-ekses negatif ini telah merubah gaya hidup sebagian masyarakat kita, khususnya para remaja yang sedang berupaya utuk mencari jati diri mereka.
Masyarakat modern, meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang, berada pada sebuah realitas semu, mereka berada pada homogenisasi budaya dan nilai-nilai sehingga seakan kehilangan makna dan jati diri mereka. Apalagi nilai lebih yang ditawarkan media tertentu bearda pada kontrol pasar dan harus menyesuaikan dengan keinginan pangsa pasar, sehinga prioritas utama yakni orientasi pada keuntungan semata. Akibatnya masyarakat dituntut untuk terus mengkonsumsi atau pihak perusahaan akan kehilangan profit mereka. Orientasi untuk profit (profit oriented) harus terus dikerahkan, sementara masyarakat hanya boleh menonton.
Salah satu elemen media yang paling sering kita hadapi adalah dunia Infotainment. Muncul sebuah pertanyaan, sebegitu burukkah peranan media dalam era kapitalisme global yang mana nilai-nilai komoditas menjadi tujuan utama melalui budaya konsumtifnya? Kenapa penulis hanya memusatkan peranan media hanya sebatas seputar infotainemnt belaka, sementara masih banyak elemen-elemen atau ranting-rating media lainnya yang juga perlu menjadi pembahasan?. Hemat penulis, infoteinment merupakan sebuah instrument praktis yang kerapkali dipakai dan ditonton masyarkat. Oleh karenanya misi terselubung dibalik maraknya infoteinment patut kta cermati dan perlu telaah lebih mendalam secara bersama.
Infoteinment Sampai Mati
Infotainment; informasi enterteinment adalah sebuah penyampai informasi ringan yang berisi hiburan. Rating penonton di Indonesia yang menyaksikan tayangan infoteinment mencapai hampir 10 juta (viva.news.com), dengan kata lain sekitar 6,25% penduduk Indonesia menjadi penikmat tayangan infoteinment. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita sebagian besar menggandrungi infotainment. Padahal, dunia hiburan dan kepuasan yang menjadi tujuan dari kapitalsme telah meracuni pemikiran sebagian masyarakat kita.
Seorang ibu-ibu rela menyisakan waktu luang mereka, hanya untuk menyaksikan kehidupan beberapa artis, sekalipun mereka tidak tahu atau bahkan tidak akan pernah merasakan kehidupan artis idaman mereka. Beberapa remaja terkontaminasi serangan budaya yang globa (culture attack), sehingga kehilangan identitas diri. Rasanya tidak asik kalau seorang remaja tidak mempunyai band favorit atau mengikuti gaya pakaian idola mereka. Bahkan anak-anak yang masih harus mendapat perlindungan -bukan hanya secara pemenuhan kebuthan fisik seperti yang lazim kita ketahui- akan kehilangan hak intelektual mereka dengan semakin meningkatnya jenis-jenis infotainment yang ditayangkan setiap harinya. Dunia anak-anak yang peuh dengan hiburan seakan-akan hilang ketika gaya hidup orang dewasa telah berhasil masuk dalam pemikiran dan merusak kehidupan mereka. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengantongi data, hanya 30 persen acara televisi yang aman ditonton anak-anak pada 2006, dan tidak ada perubahan tahun 2007.
Ini hanya segelintir fakta yang sekarang sedang terjadi di depan mata kita. Kepandaian atau kepiawaian dunia enterteinment terlihat, ketika mereka berhasil masuk kedunia imajinasi masarakat yang secara psikologis mengalami kejenuhan serta berhasil mengangkat pencitraan yang dinilai tabu menjadi biasa. Manusia memiliki rasa keingintahuan sangat besar terhadap suatu hal. Selama yang disampaikan merupakan sesuatu yang tabu atau jarang tersentuh dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat menyenangkan untuk dilihat. Dunia glamour para artis yang disajikan adalah contohnya.
Bukan hanya itu, munculnya tayangan-tayangan yang berusaha untuk menunjukan pencitraan manusia juga mendapat nilai komodoti tertinggi. Lihat saja dari tayangan Take Me/Him Out yang merupakan acara pencarian jodoh. Pencarian pasangan hidup yang semestinya merupakan urusan pribadi, jurtru telah berhasil dijadikan sebagai sebuah tontonan menarik bagi para pemirsanya. Sekalipun penonton tidak punya urusan dengan tawaran pasangan yang ditampilkan, namun kemasan atau pengolahan pencitraan yang menyajikan hiburan secara mengasikkan telah berhasil meghipnotis berjuta-juta penonton di Indoneisa.
Tayangan Curhat yang ditayangkan salah satu satasiun TV Swastamenanyangkan persoalan pribadi masyarakat, juga berhasil menjadi tontonan menarik. Betapa tidak, problematika rumah tangga sampai prerselinguhan pasangan yang semestinya diselesaikan secara kekeluargaan, malah ditayangkan secara vulgar di televisi. Bahkan salah satu stasuun TV Swastalain, setiap malam menayangkan problem keluarga-keluarga bermasalah dengan wajah mereka yang disensor.
Dunia infoteinmen pun telah berhasil masuk kedalam dunia privat para figur publik, sebut saja selebriti. Seperti kejadian yang menimpa artis Luna Maya. Merasa dirugikan oleh ulah para wartawan infotainment, Luna Maya mengeluarkan pernyataan emosional melalui Twitter, sehingga menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan Infotainmen menyerang balik dengan menggunakan kekuatan hukum untuk demi melindungi kepentingan di balik acara infoteinment tersebut. Tidak heran mulai bermunculan kecaman untuk mengharamkan inofeteinmemt mulai dari keputusan PBNU sampi kepada fatwa haram MUI (detik.com)
Apa yang membuat acara-acara ini dapat tetap bertahan? Rating, itulah kiranya yang menjadikan tayangan-tayangan hiburan tersebut selalu dapat bertahan. Jumlah rating yang tinggi musti tetap dipertahankan, itulah barangkali yang terjadi di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia yang menepati urutan kedua terbesar. Tayangan mulai Take Me/Him Out, Curhat, bahkan Mama Mia yang pernah fenomenal menempati rating teringgi yang selalu ditonton banyak orang. Sebagai misal, Mama Mia menurut hasil survey yang dilakukan AC Nielsen, dinyatakan meraih rating rata-rata 6.5 dengan share penonton 19,4 %. Bahkan pada tayangan hari Jumat 15/6-2007, Mama Mia mampu meraup 20 juta pemirsa untuk Coverage Indosiar, mengalahkan jumlah penonton `Indonesian Idol` pada jam tayang yang sama.
Menurut pihak Indosiar tentang kesuksesan acara Mama Mia, ”Fokus penggarapan 70 % pada anak dan 30 % pada peran ibu memang telah menjadi target format kami sejak awal. Terlebih-lebih program ini memiliki keistimewaan tidak memilih-milih peserta untuk ikut. Artinya untuk yang bertubuh normal atau cacat. Siapa saja boleh ikut, dan ini yang menjadikan format Mama Mia jadi lebih punya daya jual.” Rating yang semakin tinggi akan memliki daya jual yang tinggi pula, apa pun bentuknya harus tetap dipertahankan.
Bahkan, agama tak luput dari cengkraman racun infoteinment. Pembauran antara dunia hiburan dengan dunia spiritual telah memudarkan atau mengaburkan makna lain dari dunia ritual tersebut. Dunia ritual yang ditawarkan para penguasa entertainment-enterteintment tidak lebih dari ajang bisnis yang menampilkan sesuatu yang sifatnya semu. Jean Baudrillard menyebutnya dengan Hiperrealitas, yakni kenyataan yang semu seakan-akan nyata, kenyataan adalah kesemuan itu sendiri. Tidak ada perbadaan fiksi dan kenyataan, karena garis pemisahnya benar-salah menjadi satu, palsu atau buram.
Meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang lagi, fenomena ini termasuk kedalam aestetichism yaitu pengindahan visual menjadi seakan-akan nyata dengan begitu indahnya. Semua wacana dijadikan dan ditata secara begitu indah dengan menonjolkan kesenangan-kesenangan atau hiburan, sehingga tidak terlihat keburukan yang ditampilkan di belakangnya, atau misi terselubung di baliknya.
Orientasi Keuntungan Kebablasan, Ancaman Masa Depan Manusia
Kenyataan tersselubung tersebut bukan hanya pembodohan secara tidak langusng, namun juga berakibat pemiskinan-pemiskinan intelektual maupun pemiskinan material. Dunia infotainment yang berlindung di balik tirai kapitlaisme global melalui mekainsme pasarnya secara tidak langsung telah mematikan industri hiburan yang jauh lebih mendidik. Apalagi dengan dibukanya pasar bebas atau free trade area (pasar bebas 2010) semakin membuka harapan sekalgus Ancaman. Harapan bagi para pengusaha infotainment untuk memajukan bisnis mereka yang mengalami peningkatan rating dari tahun ke tahun. Pertahankan keuntungan atau akan jatuh bangkrut tak peduli bagaimana caranya. Sementara industri hiburan yang lebih edukatif, selain miskin pangsa pasar, malah akan tersisihkan dan kalah bersaing. Inilah pemiskinan secara struktural di kancah doemsetik. Karenanya pembukaan pasar bebas bukan hanya mematikan industri-industri kecil masyrakat kita, namun juga masa depan hiburan yang jauh lebih edukatif akan mati.
Apalagi bila sampai memasukan unsur agama yang begitu sakral ke dalam mekanisne pasar, maka secara tidak langsung nilai-niai kebajikan yang ditawarkan agama akan pudar, bahkan kehilangan maknanya sebagai control sosial dan sakral. Agama akan mengalami semacam “privatisasi agama” (khoirul faizin) atau komodivikasi agama, yaitu sekadar pemuas indivudu dan harus menyesuaikan dengan kemauan pasar, bukan lagi pemaknaan agama secara spiritual, moral, sakral dan sosial. Singkat kata, dunia infoteinment yang berusaha masuk ke dalam agama telah merusak pemaknaan agama secara lebih mendalam.
Menurut Eko Prasetyo bahwa bisnis adalah bisnis, dan akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berbujung pada pencarian keuntugan. Atau seperti kata Karl Marx dalam Das Capital, kapitalisme berorientasi pada keuntungan, dan untuk mendapat keuntungan dibutuhkan modal. Dari mana modalnya? Eksploitasi segala hal yang menguntungkan.
Bisnis infoteinment hanya akan berujung pada keuntungan, bukan trasnformasi nilai yang lebih konstruktif. Perubahan sosial yang ditawarkan adalah perubahan yang berupaya menjadikan hiburan sebagai komoditas utama selama dapat meningkatkan keuntungan finansial dalam skala dan jumlah yang besar, itulah rekayasa sosial yang terjadi. Itulah sisi terleubung dari dunia infoteinment yang setiap hari menyajikan hiburan tanpa tapal batas, dan manusia menjadi objek yang dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pasar. Manusa ditentukan dari pemberitaan yang disampaiakan, bukan berdasarkan kemauan sendiri, akibanya ialah dehumanisasi.
Memang tidak bisa dipungkiri era globalisasi sekarang tidak ada sekat antara kebijakan (policy) dan moral (morality), sehingga menciptakan tatanan masyarakat glamour, hedonis dan konsumtif. Hal ini mengakibatkan dekadensi moral, krisis identitas, dan kerancuan nilai. Dunia yang mengalami keterbukaan berlebihan (overtrasnparansi) yang di luar batas nalar dan etika manusia telah menimbukan efek-efek negatif dalam kehidupan kita. Dunia hiburan yang tadinya menjadi kebutuan sekunder, nyatanya telah menjadi sebuah kebutuhan primer..
Masyarakat yang terpengaruh media infotainment bukan hanya menghilangkan daya kritis, sikap rasional dan bijaksana masyarakat, namun juga menciptakan homogenisasi kehidupan yang seolah dipaksakan. Akhirnya manusia akan mengalami kepunahan, yakni kepunahan rasionalitas dan berkurangnya kebijaksanaan. Mungkinkah ini tanda kalau Kiamat 2012 akan terjadi?
Oleh: Baharunsyah
Aktivis PII dan mahasiswa FISIPOL Universitas Mulawarman Kaltim