.

     

Archive for the ‘Berita’ Category

BCA syariah akhirnya dibuka

Posted by admin On Maret - 10 - 2010

Bank Indonesia (BI) telah resmi memberikan izin operasi kepada Bank Central Asia Syariah (BCA Syariah) pada tanggal 2 Maret 2010.

Dengan ini BCA Syariah menjadi bank syariah ke-7 di Indonesia yang beroperasi khusus dalam usaha syariahnya.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Ramzi A Zuhdi kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (9/3/2010).

“Ya, (BCA Syariah) sudah mendapatkan izin,” ujarnya.

Sebelumnya, Bank-bank yang telah beroperasi sebelum BCA Syariah yakni Bank Muamalat, Bank Mandiri Syariah, Bank Mega Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank BRI Syariah dan Bank Panin Syariah.

Ramzi menambahkan bank selain BCA Syariah, bank syariah yang tengah dalam proses pemberian izin oleh BI adalah Bank BNI Syariah, Bank Victoria Syariah, dan Bank Jabar Banten Syariah.

Dihubungi di tempat terpisah, Wakil Direktur Utama BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan telah menunjuk calon Direktur Utama BCA Syariah. “Calon Dirutnya yakni Ibu Yana Rosiana,” tutur Jahja.

BCA Syariah merupakan hasil konversi Bank UIB (Utama International Bank) yang diakusisi pada Oktober 2008.

Sumber: Detik.com

Jakarta - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan melakukan penertiban sekolah berlabel internasional. Aturan ini dilakukan seiring diberlakukannya PP No 17/2010.

“Otomatis akan ada sweeping. Jangan sampai masyarakat mendapatkan kualitas pendidikan yang semu. Akan ada upaya penertiban,” kata Kepala Humas Kemendiknas Muhajir saat dihubungi detikcom, Selasa (9/3/2010).

Dia menjelaskan, aturan ketat ini diberlakukan karena banyaknya sekolah yang berlabel internasional tapi hanya sekadar label saja.

“Yang tidak masuk kriteria otomatis gugur, seleksi akan sangat ketat agar tidak ada bayang-bayang kualitas semu,” tambahnya.

Dalam PP 17/2010 diterangkan sekolah internasional yang dimaksud wajib menyesuaikan dengan kurikulum nasional. Syarat ini mesti dilakukan oleh sekolah berlabel internasional.

“Semuanya ada standarisasinya. Standar nasional itu harus masuk, jangan sampai ada nuansa mengkomersilkan pendidikan, harus ada nilai sesuai moral, integritas,” tutupnya.

Sumber: Detik.com

Kabar Duka Cita Mujahid Muda Jawa Tengah

Posted by admin On Februari - 27 - 2010

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un

Telah berpulang ke rahmatullah salah satu kader terbaik PII Jawa Tengah, sahabat dan saudara perjuangan kita:

MUSTAFID AMNA (David)
Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Jawa Tengah Periode 2009-2011

Semoga amal ibadah beliau diganjarkan pahala yang berlipat dari Allah dan memperoleh maghfirah-Nya, amin.

Selamat jalan pejuang PII yang selalu mengemban amanah kader umat. Hidup di sisi Rabb untuk nikmat yang terbaik.

Berita duka kami peroleh dari M Zainul Arifin (Kabider PB PII) pada Sabtu, 27 Februari 2010; pukul 10.43 WIB, Zainul mengabarkan almarhum bersama Aji Aflakhi (kritis di RS) mengalami musibah terjatuh dari kereta api dari Semarang menuju Tegal.

CP:

Mirza Hayati-Korwil Brigade PII Jawa Tengah (0856 95 388 407)

Ridwan Zulmi
Wakil Sekretaris Jenderal
PB PII

Menguak Misi Terselubung di Balik Infoteinmnet

Posted by bayong_smd On Februari - 22 - 2010

Penguasaan media merupakan salah satu alat penting dalam penanaman nilai-niai dalam kehidupan masyarakat. Saking pentingnya media, Paul Friedman sampai mengatakan, “Siapa pun yang menguasai media, maka ia akan merubah masyarakat.” Pernyataan yang cukup beralasan, sebab media sekarang justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab yang berupaya mencari keuntungan dengan dengan segala cara, sehingga menimbulkan ekses-ekses negatif. Lebih memprihatinkan lagi, ekses-ekses negatif ini telah merubah gaya hidup sebagian masyarakat kita, khususnya para remaja yang sedang berupaya utuk mencari jati diri mereka.

Masyarakat modern, meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang, berada pada sebuah realitas semu, mereka berada pada homogenisasi budaya dan nilai-nilai sehingga seakan kehilangan makna dan jati diri mereka. Apalagi nilai lebih yang ditawarkan media tertentu bearda pada kontrol pasar dan harus menyesuaikan dengan keinginan pangsa pasar, sehinga prioritas utama yakni orientasi pada keuntungan semata. Akibatnya masyarakat dituntut untuk terus mengkonsumsi atau pihak perusahaan akan kehilangan profit mereka. Orientasi untuk profit (profit oriented) harus terus dikerahkan, sementara masyarakat hanya boleh menonton.

Salah satu elemen media yang paling sering kita hadapi adalah dunia Infotainment. Muncul sebuah pertanyaan, sebegitu burukkah peranan media dalam era kapitalisme global yang mana nilai-nilai komoditas menjadi tujuan utama melalui budaya konsumtifnya? Kenapa penulis hanya memusatkan peranan media hanya sebatas seputar infotainemnt belaka, sementara masih banyak elemen-elemen atau ranting-rating media lainnya yang juga perlu menjadi pembahasan?. Hemat penulis, infoteinment merupakan sebuah instrument praktis yang kerapkali dipakai dan ditonton masyarkat. Oleh karenanya misi terselubung dibalik maraknya infoteinment patut kta cermati dan perlu telaah lebih mendalam secara bersama.

Infoteinment Sampai Mati

Infotainment; informasi enterteinment adalah sebuah penyampai informasi ringan yang berisi hiburan. Rating penonton di Indonesia yang menyaksikan tayangan infoteinment mencapai hampir 10 juta (viva.news.com), dengan kata lain sekitar 6,25% penduduk Indonesia menjadi penikmat tayangan infoteinment. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita sebagian besar menggandrungi infotainment. Padahal, dunia hiburan dan kepuasan yang menjadi tujuan dari kapitalsme telah meracuni pemikiran sebagian masyarakat kita.

Seorang ibu-ibu rela menyisakan waktu luang mereka, hanya untuk menyaksikan kehidupan beberapa artis, sekalipun mereka tidak tahu atau bahkan tidak akan pernah merasakan kehidupan artis idaman mereka. Beberapa remaja terkontaminasi serangan budaya yang globa (culture attack), sehingga kehilangan identitas diri. Rasanya tidak asik kalau seorang remaja tidak mempunyai band favorit atau mengikuti gaya pakaian idola mereka. Bahkan anak-anak yang masih harus mendapat perlindungan -bukan hanya secara pemenuhan kebuthan fisik seperti yang lazim kita ketahui- akan kehilangan hak intelektual mereka dengan semakin meningkatnya jenis-jenis infotainment yang ditayangkan setiap harinya. Dunia anak-anak yang peuh dengan hiburan seakan-akan hilang ketika gaya hidup orang dewasa telah berhasil masuk dalam pemikiran dan merusak kehidupan mereka. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengantongi data, hanya 30 persen acara televisi yang aman ditonton anak-anak pada 2006, dan tidak ada perubahan tahun 2007.

Ini hanya segelintir fakta yang sekarang sedang terjadi di depan mata kita. Kepandaian atau kepiawaian dunia enterteinment terlihat, ketika mereka berhasil masuk kedunia imajinasi masarakat yang secara psikologis mengalami kejenuhan serta berhasil mengangkat pencitraan yang dinilai tabu menjadi biasa. Manusia memiliki rasa keingintahuan sangat besar terhadap suatu hal. Selama yang disampaikan merupakan sesuatu yang tabu atau jarang tersentuh dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat menyenangkan untuk dilihat. Dunia glamour para artis yang disajikan adalah contohnya.

Bukan hanya itu, munculnya tayangan-tayangan yang berusaha untuk menunjukan pencitraan manusia juga mendapat nilai komodoti tertinggi. Lihat saja dari tayangan Take Me/Him Out yang merupakan acara pencarian jodoh. Pencarian pasangan hidup yang semestinya merupakan urusan pribadi, jurtru telah berhasil dijadikan sebagai sebuah tontonan menarik bagi para pemirsanya. Sekalipun penonton tidak punya urusan dengan tawaran pasangan yang ditampilkan, namun kemasan atau pengolahan pencitraan yang menyajikan hiburan secara mengasikkan telah berhasil meghipnotis berjuta-juta penonton di Indoneisa.

Tayangan Curhat yang ditayangkan salah satu satasiun TV Swastamenanyangkan persoalan pribadi masyarakat, juga berhasil menjadi tontonan menarik. Betapa tidak, problematika rumah tangga sampai prerselinguhan pasangan yang semestinya diselesaikan secara kekeluargaan, malah ditayangkan secara vulgar di televisi. Bahkan salah satu stasuun TV Swastalain, setiap malam menayangkan problem keluarga-keluarga bermasalah dengan wajah mereka yang disensor.

Dunia infoteinmen pun telah berhasil masuk kedalam dunia privat para figur publik, sebut saja selebriti. Seperti kejadian yang menimpa artis Luna Maya. Merasa dirugikan oleh ulah para wartawan infotainment, Luna Maya mengeluarkan pernyataan emosional melalui Twitter, sehingga menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan Infotainmen menyerang balik dengan menggunakan kekuatan hukum untuk demi melindungi kepentingan di balik acara infoteinment tersebut. Tidak heran mulai bermunculan kecaman untuk mengharamkan inofeteinmemt mulai dari keputusan PBNU sampi kepada fatwa haram MUI (detik.com)

Apa yang membuat acara-acara ini dapat tetap bertahan? Rating, itulah kiranya yang menjadikan tayangan-tayangan hiburan tersebut selalu dapat bertahan. Jumlah rating yang tinggi musti tetap dipertahankan, itulah barangkali yang terjadi di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia yang menepati urutan kedua terbesar. Tayangan mulai Take Me/Him Out, Curhat, bahkan Mama Mia yang pernah fenomenal menempati rating teringgi yang selalu ditonton banyak orang. Sebagai misal, Mama Mia menurut hasil survey yang dilakukan AC Nielsen, dinyatakan meraih rating rata-rata 6.5 dengan share penonton 19,4 %. Bahkan pada tayangan hari Jumat 15/6-2007, Mama Mia mampu meraup 20 juta pemirsa untuk Coverage Indosiar, mengalahkan jumlah penonton `Indonesian Idol` pada jam tayang yang sama.

Menurut pihak Indosiar tentang kesuksesan acara Mama Mia, ”Fokus penggarapan 70 % pada anak dan 30 % pada peran ibu memang telah menjadi target format kami sejak awal. Terlebih-lebih program ini memiliki keistimewaan tidak memilih-milih peserta untuk ikut. Artinya untuk yang bertubuh normal atau cacat. Siapa saja boleh ikut, dan ini yang menjadikan format Mama Mia jadi lebih punya daya jual.” Rating yang semakin tinggi akan memliki daya jual yang tinggi pula, apa pun bentuknya harus tetap dipertahankan.

Bahkan, agama tak luput dari cengkraman racun infoteinment. Pembauran antara dunia hiburan dengan dunia spiritual telah memudarkan atau mengaburkan makna lain dari dunia ritual tersebut. Dunia ritual yang ditawarkan para penguasa entertainment-enterteintment tidak lebih dari ajang bisnis yang menampilkan sesuatu yang sifatnya semu. Jean Baudrillard menyebutnya dengan Hiperrealitas, yakni kenyataan yang semu seakan-akan nyata, kenyataan adalah kesemuan itu sendiri. Tidak ada perbadaan fiksi dan kenyataan, karena garis pemisahnya benar-salah menjadi satu, palsu atau buram.

Meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang lagi, fenomena ini termasuk kedalam aestetichism yaitu pengindahan visual menjadi seakan-akan nyata dengan begitu indahnya. Semua wacana dijadikan dan ditata secara begitu indah dengan menonjolkan kesenangan-kesenangan atau hiburan, sehingga tidak terlihat keburukan yang ditampilkan di belakangnya, atau misi terselubung di baliknya.

Orientasi Keuntungan Kebablasan, Ancaman Masa Depan Manusia

Kenyataan tersselubung tersebut bukan hanya pembodohan secara tidak langusng, namun juga berakibat pemiskinan-pemiskinan intelektual maupun pemiskinan material. Dunia infotainment yang berlindung di balik tirai kapitlaisme global melalui mekainsme pasarnya secara tidak langsung telah mematikan industri hiburan yang jauh lebih mendidik. Apalagi dengan dibukanya pasar bebas atau free trade area (pasar bebas 2010) semakin membuka harapan sekalgus Ancaman. Harapan bagi para pengusaha infotainment untuk memajukan bisnis mereka yang mengalami peningkatan rating dari tahun ke tahun. Pertahankan keuntungan atau akan jatuh bangkrut tak peduli bagaimana caranya. Sementara industri hiburan yang lebih edukatif, selain miskin pangsa pasar, malah akan tersisihkan dan kalah bersaing. Inilah pemiskinan secara struktural di kancah doemsetik. Karenanya pembukaan pasar bebas bukan hanya mematikan industri-industri kecil masyrakat kita, namun juga masa depan hiburan yang jauh lebih edukatif akan mati.

Apalagi bila sampai memasukan unsur agama yang begitu sakral ke dalam mekanisne pasar, maka secara tidak langsung nilai-niai kebajikan yang ditawarkan agama akan pudar, bahkan kehilangan maknanya sebagai control sosial dan sakral. Agama akan mengalami semacam “privatisasi agama” (khoirul faizin) atau komodivikasi agama, yaitu sekadar pemuas indivudu dan harus menyesuaikan dengan kemauan pasar, bukan lagi pemaknaan agama secara spiritual, moral, sakral dan sosial. Singkat kata, dunia infoteinment yang berusaha masuk ke dalam agama telah merusak pemaknaan agama secara lebih mendalam.

Menurut Eko Prasetyo bahwa bisnis adalah bisnis, dan akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berbujung pada pencarian keuntugan. Atau seperti kata Karl Marx dalam Das Capital, kapitalisme berorientasi pada keuntungan, dan untuk mendapat keuntungan dibutuhkan modal. Dari mana modalnya? Eksploitasi segala hal yang menguntungkan.

Bisnis infoteinment hanya akan berujung pada keuntungan, bukan trasnformasi nilai yang lebih konstruktif. Perubahan sosial yang ditawarkan adalah perubahan yang berupaya menjadikan hiburan sebagai komoditas utama selama dapat meningkatkan keuntungan finansial dalam skala dan jumlah yang besar, itulah rekayasa sosial yang terjadi. Itulah sisi terleubung dari dunia infoteinment yang setiap hari menyajikan hiburan tanpa tapal batas, dan manusia menjadi objek yang dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pasar. Manusa ditentukan dari pemberitaan yang disampaiakan, bukan berdasarkan kemauan sendiri, akibanya ialah dehumanisasi.

Memang tidak bisa dipungkiri era globalisasi sekarang tidak ada sekat antara kebijakan (policy) dan moral (morality), sehingga menciptakan tatanan masyarakat glamour, hedonis dan konsumtif. Hal ini mengakibatkan dekadensi moral, krisis identitas, dan kerancuan nilai. Dunia yang mengalami keterbukaan berlebihan (overtrasnparansi) yang di luar batas nalar dan etika manusia telah menimbukan efek-efek negatif dalam kehidupan kita. Dunia hiburan yang tadinya menjadi kebutuan sekunder, nyatanya telah menjadi sebuah kebutuhan primer..

Masyarakat yang terpengaruh media infotainment bukan hanya menghilangkan daya kritis, sikap rasional dan bijaksana masyarakat, namun juga menciptakan homogenisasi kehidupan yang seolah dipaksakan. Akhirnya manusia akan mengalami kepunahan, yakni kepunahan rasionalitas dan berkurangnya kebijaksanaan. Mungkinkah ini tanda kalau Kiamat 2012 akan terjadi?

Oleh: Baharunsyah
Aktivis PII dan mahasiswa FISIPOL Universitas Mulawarman Kaltim

Malaysia Menculik Doktor-Doktor Indonesia

Posted by Ali Asnawi On Februari - 22 - 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan bahwa banyak orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, yang kemudian memilih tinggal dan bekerja di Malaysia, Singapura atau Brunei. “Parahnya, mereka ini yang benar-benar jago-jago. Doktor-doktor lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain,” ujar Satryo ketika ditemui seusai acara Seminar Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi di Komplek Bidakara, Jakarta, Kamis (19/6) siang.

Menurut Satryo, mereka yang kabur ini semuanya adalah doktor bidang ilmu eksakta seperti teknik, fisika, computer dan sejenisnya. Data yang pada pihak Dikti, saat ini sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri telah “diculik” Malaysia. “Sisanya, sekitar 2-3 orang bekerja di Brunei dan sekitar lima orang bekerja di Singapura,” katanya.

Eksodus orang-orang jenius ini, menurut Satryo, disebabkan PTN tempat mereka bekerja sebelumnya tidak mampu memberikan renumerasi yang layak. “Guru besar (profesor) seperti saya hanya menerima Rp 2,5 juta per bulan. Sementara gaji mereka di Malaysia, kalau dikonversi ke rupiah, sekitar Rp 50 juta per bulan. Itu belum termasuk fasilitas perumahan dan pendidikan gratis untuk anak mereka,” katanya dengan senyum miris.

Selain alasan renumerasi, banyak dari mereka yang merasa membutuhkan situasi tempat kerja yang benar-benar membawa tantangan. Mereka, kata Satryo, ingin sekali agar ilmu yang mereka dapatkan benar-benar dapat didayagunakan secara optimal.

“Dan harus diakui, Malaysia dan Negara-negara lain mampu menghadirkan hal tersebut,” ujar Satryo. Salah satunya contohnya, adalah Malaysia saat ini telah mengembangkan Pusat Biotech Valley di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, semacam Silicon Valley di Amerika Serikat.

Pihaknya, menurut Satryo, sebenarnya sudah mencoba habis-habisan untuk membujuk mereka tetap tinggal. Tetapi karena kebanyakan dari mereka sudah menyelesaikan ikatan dinas mengajar selama sembilan tahun, maka ia tidak punya kekuasaan untk menahan.

“Bahkan saat ini saya sudah menerima 20-an permohonan ijin dari doktor-doktor lain untuk bekerja di Malaysia. Bahkan perusahaan disana, sudah bersedia mengganti biaya kompensasi beassiwa pendidikan dan ikatan dinas yang sudah dibayar pemerintah,” katanya lagi-lagi dengan nada miris.

Padahal biaya yang telah dikeluarkan pihak penyedia dana di luar negeri (tempat belajar sebelumnya) dan pemerintah tidaklah sedikit. “Untuk satu tahun pendidikan doktor di luar negeri, mereka bisa menghabiskan biaya sekitar US $ 30 ribu,” ujar Satryo.

Satryo menilai, hal ini harus mendapat perhatian yang serius karena kalau ini dibiarkan, Indonesia akan kehilangan banyak SDM berkualitas yang notebene tidak mudah untuk menghasilkannya. “Sementara Malaysia yang akan ongkang-ongkang kaki menikmati kerja keras kita,” ujarnya.

Pihak Dikti sebenarnya hendak mengusulkan agar pemerintah melakukan langkah khusus dengan meluncurkan crash program untuk memperbaiki renumerasi mereka. “Banyak dari mereka yang bicara sama saya, asalkan digaji Rp 7 juta sebulan, mereka mau bekerja di sini,” kata Satryo. Ia mengusulkan dana yang diterima Dirjen Dikti yang hanya Rp 4 milliar pertahun, menjadi Rp 14 milliar pertahun. (Amal Ihsan-TNR)

Pedang Nabi Muhammad SAW Ada di Blok M

Posted by admin On Januari - 22 - 2010

PERNAKAH Anda melihat pedang Nabi Muhammad SAW?

Jika belum pernah, inilah kesempatan untuk menyaksikannya dalam pameran yang akan diadakan di Hall Utama Blok M Square, Jakarta Selatan. Pameran dengan tema Pedang Nabi yang merupakan kerjasama antara Blok M Square dan Kedutaan Besar Turki akan berlangsung pada tanggal 23 Januari hingga 21 Februari 2010.

Dalam pameran ini terdapat tiga ruangan, ruangan yang pertama adalah ruangan video dimana pengunjung dapat menyaksikan sejarah tentang Salahudin Al Ayubi dengan durasi 10 menit. Setelah itu, menuju ruangan kedua, pengunjung akan menyaksikan reliki secara nyata dan juga leteratur-literatur penjelasannya. Di ruangan ini pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar tanpa izin khusus dari pihak panitia. Sedangkan pada ruangan ketiga atau terakhir, pengunjung dapat berfoto dengan latarbelakang pedang Al Mathur dan Al Qadib, yaitu pedang peninggalan Nabi Muhammad SAW.

Hall Utama Blok M Square kami desain sedemikian rupa hingga menyerupai Istana Topkapi di Istanbul Turki.. Disaat mal lainnya menyambut Imlek, justru kami membuat terobosan baru yang spektakuler, kata Tatu Hartoyo, Asisten General Manager Blok M Square, kemarin.

Menurut Tatu, dalam pameran Pedang Nabi ini masih ada kaitannya dengan Imlek yaitu pengunjung dapat menyaksikan Busur Panah hadiah dari kaisar China kepada Nabi Muhammad SAW serta pedang dari perbatasan China dan India.

Tidak hanya itu berbagai benda lain peninggalan para Nabi zaman dahulukala yang akan dipamerkan di ruangan berukuran 12 x 18 meter ini seperti pedang al Battar yang pernah dipergunakan Nabi Daud, tongkat Nabi Muhammad SAW, dan jejak kaki Nabi Muhammad SAW pada saat melaksanakan Isra Miraj dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha.
Pameran yang rencananya akan dibuka resmi oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia Aidyn Evirgen dan akan dihadiri oleh Walikota Jakarta Selatan pada tanggal 23 Januari 2010 pukul 11.00 WIB ini diharapkan dapat dijadikan sebagai ajang edukasi bagi masyarakat.

Selama ini masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim banyak yang salah kaprah mengira peninggalan para Nabi banyak terdapat di Arab, padahal peninggalan para Nabi banyak terdapat di Turki, tepatnya di Istana Topkapi, Istanbul, Turki.

Pameran ini merupakan pameran sejarah dimana banyak pembelajaran sejarah yang bisa dipelajari baik oleh siswa maupun guru. Bayangkan benda-benda bersejarah para Nabi dibawa langsung dari Turki ke Indonesia, benar-benar menakjubkan, jelas Tatu.

Untuk menyaksikan pameran ini para pengunjung harus membeli tiket masuk sebesar Rp15.000/orang hari Senin-Sabtu untuk umum, dan Rp20.000 pada hari Minggu. Sementara untuk siswa Rp10.000 pada hari Senin-Minggu dengan. Jam buka pukul 10.00-21.00 WIB.
Sejarah

Siapa yang membawa benda-benda bersejarah tersebut hingga ke Turki? Hal itu berawal dari perjuangan Salahudin Al Ayub yang mendirikan dinasti Ayubi di Mesir pada tahun 1174 Masehi. Dalam perkembangannya, Salahudin mengembangkan Islam sampai ke Eropa sehingga hampir seluruh bagian Negara Eropa dikuasainya.
Dalam perjuangannya Salahudin membebaskan budak-budak dari mamluk sebanyak 12.000 budak yang nantinya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mamluk yang menggulingkan dinasti Ayubid sepeninggalan Salahudin Al Ayubi. Di sisi lain tepatnya di Turki berdiri kerajaan kecil yang didirikan oleh Ertugul. Dalam perkembangannya kerajaan yang didirikan oleh Ertugul tersebut berkembang pesat hingga generasi ke generasi.
Pada saat kepemimpinan Sultan Selim I, yaitu Sultan generasi ke sembilan kesultanan Turki, Selim I berupaya mengembangkan daerah kekuasaannya hingga sampai ke Mesir. Pada saat menguasai mesir Sultan Selim I menemukan peninggalan para Nabi (reliki) yang dibawa oleh Salahudin Al Ayubi dari Irak sehingga ia memutuskan untuk membawanya ke Turki dan menyimpannya di Istana Topkapi Turki hingga saat ini.(evi)

Gerakan Amal Sholeh

Posted by admin On Januari - 14 - 2010

GERAKAN AMAL SHOLEH
( G A S )
PELAJAR ISLAM INDONESIA ( PII )

A. RUANG LINGKUP
1. Pengertian Amal Sholeh
Amal yang dimaksud di sini adalah semua perbuatan yang dikerjakan dengan niat karena Allah ( lillahi ta’ala ). Bertujuan untuk mencapai ridho Allah (mardhotillah) dan melaksanakan dengan cara yang dengan ketentuan-ketentuan Allah (billah), amalan mana yang sudah pasti akan membawa kemaslahatan bagi dirinya sendiri, orang lain dan alam semesta.

2. Batasan Gerakan Amal Sholeh
Amal sholeh menjadi program untuk setiap gerakan, terbatas pada amal yang sebaiknya dimiliki oleh para pemimpin umat. Tetapi pelaksanaannya menjadi sukar jika tidak dibiasakan melalui latihan dan praktek yang terus-menerus. Suatu amal sholeh biasanya menjadi pokok, artinya kalau suatu amal sholeh dapat menimbulkan amal sholeh yang lain.

B. GERAKAN AMAL SHOLEH ( GAS )
Gerakan Amal Sholeh ( GAS ) itu antara lain:
1. Tadarus Al-Qur’an, setiap bulan minimal khatam sekali.
2. Tahfidzul Qur’an ( menghafal Al-Qur’an ) terutama surat-surat atau ayat-ayat yang telah dijadikan wirid oleh Rasulullah dan apra sahabat-sahabatnya, seperti surat yasin, Al-Kahfi, As-Sajadah, Muhammad, Al-Fath, ayat kursi dana sebagainya.
3. tafhimul Qur’an ( memahami Al-Qur’an ) terutama ayat-ayat yang dijadikan wirid dalam bacaaan shalat dan yang dijadikan hafalan.
4. Menegakkan Qiyamullail dengan shalat tahajud, witir, tadarus, i’tikaf di masjid dll.
5. Membiasakan Shalat sunnah rawatib dan dhuha.
6. Membiasakan Dzikrullah melalui bacaaan-bacaan tasbih, tahlil, tahmid, takbir, secara rutin dan terus-menerus.
7. Membudayakan do’a pada setiap langkah dan tindakan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
8. Mangamalkan puasa sunnah utamanya senin kamis dan puasa sunnah lainnya.
9. Selalu menggalang ukhuwah islamiyah melalui silaturahmi.
10. Menolong sesama yang tertimpa musibah seperti bencana alam.
11. Menjaga rahasia aib sesama muslim baik pribadi maupun organisasi
12. Saling berwasiat untuk mengakkan kebenaran dan selalu bersabar dalam usaha menegakkan kebenaran.
13. Memiliki sifat pema’af
14. Menengok saudara yang sakit dan melakukan ta’zaiyah kepada keluarga yang meninggal dunia.
15. Turut mencari jalan keluar atau minimal turut dengan do’a bagi ikhwan yang mendapat kesulitan.
16. Mengucapkan tahniyah ( ucapan selamat dengan disertai do’a ) untuk ikhwan yang mendapat nikmat.
17. MENEPATI janji.
18. Meninggalkan ucapan-ucapan kotor ddan caci maki walaupun terhadap seseorang yang dibenci seperti:bangsat, kurang ajar, bego, laknat dll.
19. Menghindari perdebatan orang-orang bodoh.
20. Menyebarkan salam.
21. Menepati janji dan memenuhi undangan.
22. Menghindari fitnah, iri hati dan buruk sangka.
23. Menghindari sebutan / gelar yang merendahkan martabat seseorang, lebih-lebih yang bersifat i’tiqodiyah seperti munafiq, kafir dll.
24. Memberi fakiq miskin
25. Menyantuni anak yatim.
26. Membaela kaum dhu’afa.
27. Menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan menghargai yang sebaya.
28. Membatasi persoalan dengan orang / kelompok yang bisa merusak aqidah dan amal sholeh
29. Menghindari diri dari berseloroh, mengejek dan gurauan yang berlebihan .
30. Suka membersihkan tempat ibdah.
31. Suka memberi zakat, infak, dan shodaqah.
32. Tidak usah membanggakan diri sendiri ( ananiyah ) dan membanggakan kelompok / organisasi (ashabiyah).
33. Menghindari perbuatan sia-sia (laghwi) dan membuang-buang waktu yang dapat melupakan Allah SWT, seperti kecanduan musik, catur, main gaple, dan remi serta menghindari panjang angan-angan.
34. Berbuat baik kepada orang tua
35. Menghubungkan tali keluarga dengan sanak famili yang jauh atau yang terputus.
36. Berbusana Islami
37. Membaca kisah-kisah dan mengambil i’tibar dari riwayat para Nabi, Rasul dan umat terdahulu
38. Disiplin waktu.
39. Menyayangi binatang.
40. Menanam dan memelihara tumbuh-tumbuhan.
41. Memelihara keebrsihan kamar, rumah, kantor sekretariat.
42. Membina kesegaran kesehatan dan kekuatan jasmani.
43. Membina keindahan dan kehalusan budi bahasa, tutur sapa dan tingkah laku.
44. Menta’ati pemimpin di antara orang-orang mukmin.
45. Mengambil ibrah dari peristiwa sejarah, antara lain:
a. Hari diutusnya Nabi Muhammad SAW, 17 Ramadhan.
b. Hari diwajibkannya shalat, 27 Rajab.
c. Hari Hijarh, 28 Juni 622 M.
46. Meninggalkan hal-hal tidak baik dikerjakan dan dilarang Allah, antara lain : merokok, tidur berlebihan, makan dan minum berlebihan, boros dan lainnya.
47. Meninggalkan tindakan dan perbuatan menyakiti diri sendiri, baik secara badaniyah maupun bathiniyah.

C. PERIORITAS GERAKAN AMAL SHOLEH
Pada dasarnya Gerakan Amal Sholeh yang tertulis dalam lingkup GAS tidak ada yang di perioritaskan. Keseluruhannya harus diamalkan oleh setiap anggota PII berdasarkan kemampuan menurut syariat.
Akan tetapi penyelenggaraan GAS dalam sekali waktu yang sebelumnya belum pernah atau jarang dilaksanakan akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan GAS pada tahap permulaan, dapat diperioritaskan yang mana yang utama digerakkan.
Pilihan perioritas ini harus didasar tiga persyaratn, yaitu :
1. Amal uang diperioritaskan sangat penting dilakukan karena dapat menunjang pelaksanaan amal sholeh yang lain.
2. Dapat dilaksanakan oleh semua anggota.
3. Perioritas berfungsi sebagai tahapan-tahapan dalam gerakan.

D. METHODE
Pelaksanaan GAS ini menggunakan methode uswatun hasanah.

E. WAKTU
Waktu pelaksanaan gerakan, tergantung sepenuhnya dari amal gerakan. Bisa satu kali seminggu satu gerakan atau sampai dua bulan. Atau satu gerakan dilaksanakan terus-menerus tanpa batas waktu.

F. PENANGGUNG JAWAB
Penanggung jawab GAS adalah sebagai berikut :
1. Tingkat PB : Ketua Bidang Pembinaan Pengembangan Organisasi dan Pengkaderan
2. Tingkat Wilayah : Ketua Bidang Pembinaan Pengembangan Organisasi dan Pengkaderan.
2. Tingkat Daerah : Ketua Bidang yang membawahi GAS
3. Tingkat Komisariat : Ketua Bidang yang membawahi GAS.

G. PENGAWASAN, EVALUASI DNA PELAPORAN
1. Pengawasan dilakukan oleh Mu’alim di daerah dan penanggung jawab.
2. Evaluasi minimal dilaksanakan sebulan sekali oleh Pengurus Daerah (PD).
3. Laporan disampaikan ke wilayah mainimal 6 bulan sekali.

H. TEKNIS PELAKSANAAN
1. GAS dilaksanakan oleh keseluruhan anggota PII
2. Pelaksanaan bisa secara keseluruhan, individu maupun kelompok.

I. PENUTUP
Semoga Gerakan Amal Sholeh ( GAS ) akan dapat menjadi gerakan Islamisasi dan kaderisasi yang efektif. Dan mempercepat proses tercapainya kemenangan Islam dan kaum Muslimin.

Dan semoga kita mampu menjalankan GAS ini sebaik-baiknya denagn ridho dan bimbingan Allah. La haula wala quwwata illabillahil’aliyyil adzim. Robbanaa aatina fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah wa qina adzaabannaar. Amiin.

PPO PB PII

Depdiknas di Dunia Nyata Didemo, di Dunia Maya di-Hack

Posted by admin On Januari - 7 - 2010

Jakarta - Sekitar 1.000 orang hari ini akan melakukan aksi unjuk rasa menolak pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Mereka menuntut agar pemerintah dalam hal ini Depdiknas membatalkan Ujian Nasional sebagaimana putusan Mahkamah Agung.

Entah disengaja atau tidak, di dunia maca, situs Depdiknas juga mendapat ‘cobaan’. Situs yang beralamat di www.depdiknas.go.id tersebut di-hack oleh orang iseng.

Pantauan detikcom, Selasa (5/1/2010) pukul 05.30 WIB, tampilan depan situs tersebut diisi oleh gambar seseorang yang bernama Saksono Liliek Susanto. Sementara semua tampilan situs itu didominasi oleh warna hitam.

“Anda Pernah Betaruh “Apakah Saya Bisa Menjatuhkan Website DEPDIKNAS”
Sekarang Terbukti Sudah Wahai Drs. Saksono Liliek Susanto,M.Pd,” demikian kalimat yang tertulis di bawah foto Saksono Liliek Susanto. Si pelaku mengaku namanya adalah Anton.

Di atas gambar Saksono, terdapat sebuah sketsa yang berbentuk tangan yang sedang mengepal dan di bawahnya bertuliskan ‘hacked’.

Sementara itu, sekitar seribuan massa siang ini akan melakukan aksi demo di Bundaran Hotel Indonesia dan dilanjutkan ke Istana Merdeka. Para demonstran berasal dari Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia. (anw/mpr)

Source: http://www.detiknews.com/read/2010/01/05/055014/1271628/10/depdiknas-di-dunia-nyata-didemo-di-dunia-maya-di-hack

Kisruh UN, Kilas Balik Seputar Pendidikan Nasional 2009

Posted by admin On Januari - 6 - 2010

Rabu, 30 Desember 2009 | 13:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama kurun waktu 2009, penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), persoalan sertifikasi guru, serta anggaran pendidikan nasional menjadi tiga persoalan penting di antara berbagai persoalan lain yang masih membutuhkan perhatian besar dari dunia pendidikan di Indonesia.

Sebagai persoalan yang di awal dan akhir tahun 2009 sempat menjadi kontroversi, kiranya UN sangat tepat dijadikan bahasan pertama sebagai kilas balik di tahun 2009 ini. Karena seberapapun ramainya polemik tentang UN di awal penyelenggaraannya saat itu, UN tetap dilaksanakan oleh pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada April 2009 lalu.

Secara umum, memang, pelaksanaan UN SMP dan SMA/Sederajat dapat berjalan lancar, kendati tidak selancar seperti yang diklaim oleh Depdiknas, bahwa pelaksanaan UN berjalan lancar dengan tingkat keberhasilan 85 persen. Hal tersebut dipaparkan oleh Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, ketua Badan Sta ndar Nasional Pendidikan (BSNP) pada evauasi sementara UN kepada wartawan di Depdiknas, Jakarta, Senin (4/5/2009) lalu.

“Tetapi secara khusus kami akui pula bahwa masih ada beberapa permasalahan yang perlu diperbaiki dan diantisipasi untuk pelaksanaan UN mendatang, terutama yang sudah dekat yaitu UASBN,” ujar Mungin, saat itu.

Beberapa hasil evaluasi itu antara lain adalah kualitas penyetakan naskah UN yang ditetapkan oleh Panitia Penyelenggara Provinsi, yang dalam pengemasannya terjadi kekurangan halaman, tertukar soal yaitu soal untuk Paket B masuk ke Paket A dan sebaliknya, serta pengiriman naskah soal yang tidak disertai Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN). Kualitas LJUN yang kurang baik pun menjadi evaluasi BSNP.

Selain itu, ada juga laporan, bahwa kualitas kertas LJUN yang tidak baik. Banyak kertas LJUN sobek atau rusak, yang kemungkinan besar akibat dihapus terlalu keras oleh peserta UN.

Soal penyimpanan naskah soal UN menjelang UN dilaksanakan pun menjadi bahan evaluasi. Mungin menyayangkan, bahwa penyimpanan soal masih ada yang dilakukan di sekolah atau madrasah.

“Meskipun dijaga ketat oleh polisi hal itu tidak dibenarkan. Mestinya naskah soal tetap disimpan di Kabupaten atau Kota, Polres atau Polsek terdekat letaknya dengan Satuan Pendidikan sebagai penyelenggara UN, dan itu pun dikawal oleh pihak keamanan dan tim pemantau UN yang telah ditunjuk,” tandas Mungin.

Mungin menambahkan, dalam pelaksanaan UN tahun 2009 ini BSNP masih menemui banyak “kerikil” yang perlu diantisipasi bagi pelaksanaan UN selanjutnya. Ihwal evaluasi terhadap kualitas hasil cetak soal UN pun, Mungin mengatakan, bahwa BSNP akan meninjau dan mengkaji ulang penetapan naskah ujian oleh percetakan yang sudah ditetapkan oleh Penyelenggara UN tingkat Provinsi.

“Apakah nanti akan dilakukan dengan tender terbuka atau tidak, itu sedang kami pelajari lagi,” ujarnya.

Kecurangan

Hanya itukah persoalan yang perlu dievaluasi dari UN tahun 2009 lalu? Tentu saja, tidak. Pelaksanaan UN tahun ini ternyata masih meninggalkan banyak “pekerjaan rumah” (PR) yang betul-betul telah menjadikan UN cacat dalam pelaksanaannya, sehingga pada akhirnya kualitas hasil UN tetap dikatakan tidak jujur dan kredibel.

Faktor kecurangan dalam pelaksanaan UN, misalnya. Seperti UN tahun sebelumnya, kunci jawaban UN ternyata kembali beredar di tangan siswa. Pada UN 2009 ini, kunci jawaban itu beredar di Kabupaten Mandailing Natal dan Kota Medan. Muncul dugaan, bahwa peredaran soal terjadi sebelum UN berlangsung.

“Kami menduga peredaran kunci jawaban ini karena ada soal yang beredar. Kunci jawaban ini sebagian diketik dan digandakan melalui foto kopi. Semoga pengawas UN mengambil langkah tepat menangani persoalan ini,” tutur Dewan Pembina Komunitas Air Mata Guru (KAMG) Deni Boy Saragih di Medan, Senin (20/4/2009) lalu.

Secara total, tim menemukan lima lembar kertas kecil dan empat pesan pendek dari telepon seluler. Temuan itu berasal dari SMA Budi Murni II Medan dan SMA Methodist. “Laporan detail akan kami sampikan di akhir ujian nanti. Kami menduga ada lembar soal yang sudah beredar terlebih dahulu,” tambah Deni.

Lainnya, naskah soal UN SMA pun diduga bocor di sejumlah sekolah. Pada hari Senin (20/4/2009) lalu, sejumlah sekolah kedapatan mengumpulkan siswa pada pukul 05.00 pagi atau dua jam sebelum pelaksanaan UN. Tak lain, sejumlah sekolah itu diduga membagikan kunci jawaban.

Bahkan sebelumnya, pada Minggu (19/4/2009), Koordinator Pengawas UN dari Universitas Sriwijaya (Unsri) sempat bersitegang dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang karena koli berisi naskah soal UN sudah dibuka tanpa seizin mereka sebagai pengawas.

Informasi yang berhasil dihimpun saat itu, dua SMA di kawasan Lemabang meminta siswa kumpul di sekolah pukul 05.00. Ts, seorang pelajar, mengatakan, instruksi itu diberikan oleh wali kelas mereka masing-masing. Di sekolahnya terdapat empat kelas IPA dan tujuh kelas IPS.

Kasus terparah adalah dugaan kebocoran soal UN, yang terjadi sehari menjelang pelaksanaan UN di Bengkulu Selatan. Kasus pembocoran soal ini melibatkan 16 orang, yakni 10 kepala sekolah SMA Negeri, empat kepala sekolah swasta, satu kepala sekolah Madrasah Aliyah Negeri, serta seorang kabid Dikmenum Diknas setempat. Kecurangan tersebut segera diketahui polisi yang langsung menangkap basah saat terjadi pembagian berkas di antara ke-16 orang tersebut.

Kekurangan

Selain tindak kecurangan, persoalan kekurangan atau kurang maksimalnya kualitas penyelenggaraan UN tahun 2009 ini perlu menjadi perhatian publik. Masih belum hilang dalam ingatan, bahwa sebanyak tiga lembar jawaban komputer (LJK) UN tingkat SMA dan MA se-Jawa Barat tak bisa terbaca oleh komputer saat pemindaian dilakukan. Anehnya, Ketua Pelaksana Pemindaian Dr H Munir mengaku tak mengetahui sebabnya.

“Tapi bisa saja karena ukuran kertas terlalu lebar atau terlalu kecil sehingga tak bisa terbaca,” katanya, saat itu.

Bahkan, di Sumatera Utara, panitia UN tidak menyediakan soal dalam huruf braile. Akibatnya, pihak sekolah harus bekerja lebih panjang untuk menyiapkan soal UN agar bisa dibaca oleh para siswa tunanetra. Padahal, proses ini sangat tergantung pada keterbatasan kertas untuk huruf braile dan mesin pembaca huruf braile.

“Kami memakai kertas sisa sumbangan Pemerintah Norwegia tiga tahun lalu. Untungnya masih ada. Kami juga beruntung mesin (pembaca braile) sumbangan Norwegia masih bisa dipakai, jika tidak, murid-murid ini akan mengerjakan soal dari soal yang dibacakan pengawas ruang,” tutur guru Sekolah Luar Biasa Karya Murni, R Sinurat, Selasa (28/4/2009), saat ditemui seusai UN mata pelajaran Bahasa Inggris.

Murni menilai, panitia UN saat itu belum memberikan pelayanan yang sama kepada peserta ujian yang tunanetra. Sementara di Jawa, kata dia, peserta UN tunanetra langsung mendapatkan soal dalam bentuk huruf braile. Sebaliknya di Sumut, peserta harus menunggu pihak sekolah menyalin lebih dulu soal UN dalam huruf braile.

UN Digugat

Tanpa ada atau dilakukannya evaluasi besar penyelenggaraan UN 2009 kepada publik, pemerintah (Depdiknas dan BSNP) berencana tetap menggelar UN 2010. Bahkan, pemerintah telah mematok target memajukan jadwal UN sebulan lebih cepat. Jika sebelumnya UN dilaksanakan setiap April, pada 2010 mendatang UN digelar pada Maret.

Kontroversi pun menyeruak. Apalagi, gugatan masyarakat lewat citizen law suit soal penyelenggaraan UN kembali dimenangkan oleh Mahkamah Agung MA). Kasasi yang diajukan pemerintah yang menolak putusan pengadilan tinggi soal kemenangan masyarakat atas gugatan UN dinyatakan ditolak oleh MA.

Gatot Goeidari dari Tim Advokasi Korban UN dalam acara syukuran kemenangan gugatan UN di Jakarta, Rabu (25/11/2009), menyatakan, informasi ditolaknya kasasi pemerintah soal gugatan UN diketahui dari info perkara pada website Mahkamah Agung bernomor register 2596 K/PDT/2008 tanggal 14 September 2009.

Setelah putusan MA tersebut, polemik UN malah kian bertambah ramai, lantaran niat pemerintah yang ingin mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan tersebut. “Terus terang saya belum membaca keputusan MA. Yang jelas kita menghormati apa pun keputusan lembaga hukum. Siapa pun juga harus menghormati upaya-upaya hukum yang masih dilakukan. Untuk selanjutnya, tentu pemerintah akan menggunakan hak yang dimiliki,” kata Menteri Pendidikan Nasional RI Mohammad Nuh seusai upacara bendera Peringatan Hari Guru, Rabu (25/11/2009) di halaman Depdiknas, Jakarta.

Namun, kendati PK tersebut tidak jadi dilaksanakan, bukan berati polemik UN terhenti. Pemerintah tetap bertekad menjalankan UN 2010. Sistem yang disiapkan pun sedikit bergeser, yaitu UN sialng atau campur atau UN gabungan. Dengan sistem ini, peserta UN tidak hanya berasal dari satu sekolah, karena ujian dilakukan tidak di sekolah si peserta UN itu sendiri.

Kebijakan ini pun disambut dengan berbagai reaksi, baik itu dari pemerhati pendidikan, guru, siswa, dan masyarakat umum. Bahkan, siswa sekolah ada yang berdemo menuntut dihentikannya UN. Hal ini seperti dilakukan oleh sekitar 50 pelajar dari SMAN 38 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang berunjuk rasa di depan Gedung Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu (2/12) silam. Para siswa tersebut menolak penyelenggaraan UN dan menuntut pemerintah membatalkannya.

Sayangnya, sebelum kebijakan UU silang atau campuran dilaksanakan, pemerintah sudah kembali mencabut sistem pelaksanaan UN tersebut dan kembali ke sistem seperti sedia kala. Dari kasus ini banyak pihak mengatakan, pemerintah terkesan mencla-mencle dalam menggulirkan kebijakan ke publik sebelum meneliti dan mengujinya lebih dahulu.

UN 2010

Putusan MA, yang sebetulnya sudah mengacu pada putusan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi untuk meminta kepada para tergugat meninjau kembali UN, ternyata tidak diindahkan. Karena UN pada tahun ajaran 2007 dan 2008, serta 2009, tetap dilaksanakan. Kejadian serupa itu pula yang tentu akan terjadi di 2010 nanti.

Sejatinya dalam putusan MA tersebut, MA memang tidak pernah melarang UN. Hanya saja, jika tiga hal syarat utamanya sudah terpenuhi, yaitu perbaikan kualitas guru, peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, serta tersedianya akses informasi yang luas dan lengkap. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi, semestinya UN tidak dilaksanakan atau ditunda karena dianggap cacat hukum jika dilaksanakan.

Kenyataannya, seramai apapun polemik yang muncul, sebesar apapun gejolak penolakan atau penghentian dan penundaan UN mengemuka, toh, pemerintah tetap akan menggelar UN 2010. Apalagi, Mendiknas Mohammad Nuh sudah berteguh prinsip, bahwa pelaksanaan UN merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan. UN yang sekarang, menurutnya, adalah penyempurnaan dari model ujian-ujian negara yang pernah dilakukan di zaman-zaman dahulu.

“Kami ingin mengajak kepada masyarakat supaya tidak terjebak kepada ketidakpastian. Jadi, UN akan tetap jalan,” ujar Nuh di sela-sela kunjungannya ke Lapas Sukamiskin di Bandung, Rabu (16/12/2009) lalu.

Kiranya, perdebatan panjang UN masih akan terus terjadi seiring penyelenggaraan UN yang sedianya direncanakan Maret 2010 nanti. Karena dala perjalanannya sampai hari ini (Rabu/30/12/2009), UN belum juga dievaluasi secara menyeluruh di hadapan publik. Tidak kecuali, UN tetap dilaksanakan meski banyak pihak belum merasa puas terhadap rencana penyelenggaraan tersebut pada 2010 mendatang.

(sumber :http://edukasi.kompas.com/read/2009/12/30/1322030/Kisruh.UN..Kilas.Balik.Seputar.Pendidikan.Nasional.2009)

Pengaduan Pelajar ke Komnas HAM tentang UN

Posted by jay On Desember - 20 - 2009

Pada tanggal 21 Des 09, PB PII, LBH Jkt, BEM UI, dan elemen lainnya akan mengadakan “pengaduan” ke Komnas HAM tentang pelanggaran HAM oleh pemerintah terkait dilaksanakannya UN. Gerakan ini merupakan sebagian dari gerakan yang telah dan akan dilakukan oleh PB PII bersama elemen lainnya untuk menolak dijadikannya UN sebagai penentu kelulusan.

Hasil putusan MA menyatakan bahwa pelaksanaan UN sarat dengan pelanggaran HAM. Hanya saja Negara tidak mau mengakui kelemahan akan kelalaiannya terkait sistem evaluasi pendidikan nasional ini. Untuk itu, agar gerakan ini semakin menguat dan berbasis maka dipandang perlu mendapat dukungan dari Komnas HAM. Letupan kecil unjuk rasa (pengaduan) ini akan diikuti sekitar 60 orang.

Sementara itu, juga akan dilakukan aksi menentang UN oleh PB PII yang tergabung dalam Poros Pelajar pada tanggal 24 Desember 2009. Untuk itu, PB PII juga mengharapkan kepada seluruh kader PII dimanapun berada supaya melakukan aksi yang sama demi kepentingan pelajar..

JAKARTA (voa-islam.com) - Abdul Wahid Kadungga. Para aktivis Islam sudah tidak asing dengan nama ini. Kadungga juga kesohor di mata musuh-musuh Islam, baik di Indonesia maupun mancanegara.

Kadungga adalah menantu almarhum Kahar Mudzakkar, Panglima Hisbullah Makassar dan pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Semasa hidupnya, Kadungga tercatat sebagai salah seorang pentolah demonstran angkatan ‘66. Ketika memimpin PII, gelombang aksi menentang kekuasaan Soekarno untuk menumbangkan Orde Lama bergolak. Padatnya aktivitas di dunia pergerakan, membuat Kadungga tidak sempat menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Pria asal Masamba, Luwu Utara ini sempat disebut-sebut sebagai petinggi Jamaah Islamiyah (JI) karena ia dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir saat masih di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1985. Saat itu, Kadungga baru datang dari Belanda sementara Ba’asyir baru melarikan diri dari Indonesia.

Sabtu sore kemarin (12/12/2009) pukul 16.40 WIB, pendiri “Young Muslim in Europe” ini berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Darma Nugraha, Rawamangun, Jakarta Timur. Innalillahi wainna ilaihi roji’un…

Nama Kadungga begitu akrab bagi media antiislam, sehingga ia sering jadi target pembentukan opini. Sebut saja Sydney Morning Herald. Harian terkemuka di Australia ini Kadungga sebagai sosok yang misterius bahkan punya hubungan langsung dengan Usmah bin Ladin. “Ia tinggal di Belanda, tapi bisa dengan mudah berbicara via telepon dengan petinggi PAS (Partai Agama Se-Malaysia) di Malaysia. Tak lama kemudian, ia bisa berbicara langsung dengan Usamah bin Ladin yang berada di pedalaman Afghanistan,’ tulis Sydney Morning Herald.

…harian terkemuka di Australia menyebut Kadungga sebagai sosok yang misterius bahkan punya hubungan langsung dengan Usmah bin Ladin, yang bisa dengan mudah berbicara via telepon dengan petinggi PAS di Malaysia…

Beda lagi komentar International Crisis Center (ICG) lewat mulut koordinatornya, Sidney Jones. Lembaga yang berbasis di Brussel ini menuding profil yang satu ini sebagai penghubung internasional Jamaah Islamiyah. Lembaga yang disebut-sebut banyak pihak sebagai kepanjangan tangan intelijen ini mencatat namanya dibanyak medan konflik di seluruh dunia.

“Dia ada di Chechnya, Dagestan, Bosnia, Afghanistan, Indonesia….” Pendeknya, ia adalah orang penting dalam hubungan antargerakan Islam radikal di seluruh dunia, kira-kira begitu yang hendak disimpulkan oleh ICG.

Tapi ustadz yang ramah dan murah senyum ini tak menolak apapun yang dikatakan oleh Sidney Jones. “Dalam arti yang positif saya memang penghubung gerakan dakwah internasional. Saya bergerak dalam kebaikan, insya Allah. Tidak ada teror, tidak ada bom dan tidak pula kekerasan,” ungkapnya.

Meski darah biru sultan-sultan Bugis mengalir dalam tubuhnya, tapi ia terpaksa mengantongi kewarganegaraan Belanda. Sejarah politik dan kekuatan Orde Baru yang membuatnya memilih jalan pahit itu, meski hati kecilnya tidak mau jadi “Belanda hitam.”

Kadungga menjadi salah satu musuh politik Orde Baru karena perjuangan dan dakwahnya bersama-sama M Natsir dan aktivis Dewan Dakwah lainnya. Ia pernah diinterograsi oleh seorang kolonel, namanya Utomo. Kolonel ini menuding Kadungga dan orang-orang Dewan Dakwah sebagai tokoh dan pemikir negara Islam di Indonesia.

Kadungga menjadi salah satu musuh politik Orde Baru karena perjuangan dan dakwahnya bersama-sama M Natsir…

Ihwal Kadungga aktif dalam dunia dakwah ketika usianya menginjak 13 tahun. Seusai tamat Sekolah Rakyat, orang tuanya mengirim Kadungga ke Makassar untuk bersekolah di Sekolah Menengah Islam. Di sekolah ini ia terkaget-kaget. Belum lagi setahun, ia sudah mengenal Mr Prawoto yang diundang untuk berceramah di sekolahnya. Lalu ada pula Mohamad Roem dan tokoh-tokoh besar zaman itu.

Di sekolah ini pula Kadungga untuk pertama kali berkenalan dengan organisasi yakni Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia aktif berorganisasi dan menarik pelajaran yang luar biasa. Di sekolah ini ia merintis karir organisasinya sebagai Ketua Ranting PII. Setamat dari Sekolah Menengas Islam ia meneruskan pendidikan ke SMEA Negeri Makassar. Sekolah yang dimasukinya ternyata tidak sama dengan sekolah sebelumnya.

Di SMEA Negeri Makassar, organisasi siswa yang berkembang bukanlah PII melainkan Gerakan Siswa Nasionalis Indonesia (GSNI). Karenanya, Kadungga bersama teman-teman berjuang keras untuk mengubah sekolahnya menjadi salah satu motor PII di Makassar, dan akhirnya berhasil. Naiklah Kadungga menjadi Ketua PII di sekolah ini, didaulat teman-teman seangkatannya.

Pada tahun 1962, ia berangkat ke Medan mengikuti Kongres PII, dan kala itu ia sudah menjadi Pimpinan Cabang PII Makassar.

Perkenalannya dengan dakwah dan politik Islam kian kental setelah Kongres PII di Medan. Di PII inilah Kadungga dikader dengan baik. Konstelasi politik yang terus bergerak kala itu membuat PII menjadi salah satu organisasi pemuda yang berperan signifikan. Karena pasca pembubaran diri Masyumi, disusul dengan GPII, lalu HMI melunak sikapnya, maka tinggal PII saja yang terang-terangan menjadi musuh besar PKI.

Sebegai ilustrasi kerasnya konfrontasi PII dan PKI yang dialami Kadungga adalah peristiwa perayaan HUT PKI yang ke-40. PKI membawa bendera, long march dari Bali ke Jakarta. Pada saat yang sama, 4 Mei PII juga berulang tahun. Kota Surabaya menjadi merah saat itu, semua sudut ada tanda PKI. Mereka juga bikin menara dari bambu tinggi sekali dengan gambar palu arit. Tapi malamnya, Kadungga dan kader-kader PII bergerilya membersihkan semua atribut PKI.

Singkat cerita, aktivitas di PII mengantarkannya berkenalan dengan Adam Malik bahkan bekerja sebagai staf ahli di kementerian luar negeri zaman itu. Tapi itu pun tak lama ia jalani. Kadungga memutuskan untuk kembali menuntut ilmu dan Pakistan menjadi negara tujuan. Tapi setelah bermukim beberapa bulan di negera ini, aktivitas belajar belum bisa ia lakukan. Sebab, kondisi politik dalam negeri Pakistan sedang ricuh dan berimbas pada lembaga-lembaga pendidikan.

Mendapat kenyataan seperti itu, Kadungga mengalihkan pandangannya untuk belajar ke Eropa. Kini Belanda menjadi tujuannya. Di Eropa darah mudanya yang meluap membuat ia terus merintis jalan dakwah. Bahkan sampai-sampai, ia berhasil mendirikan gerakan mahasiswa Islam Indonesia yang bersaing ketat dengan organisasi mahasiswa Indonesia di Eropa. Tak hanya itu, ia juga berhasil mendirikan Young Muslim Asociation in Europe sebuah wadah yang menampung pemuda-pemuda Muslim di Eropa.

Setelah malang melintang akhirnya Kadungga kembali ke Indonesia. Saat kembali, salah satu kegiatannya adalah bekerja untuk dakwah di Dewan Dakwah Islam Indonesia. Kadungga yang sempat menjadi sekretaris pribadi M. Natsir ini memang punya sejarah unik. Tak lama ketika di Indonesia, pemerintahan Orde Baru dengan kegiatan intelijennya yang mencengkeram menjadikan Dewan Dakwah sebagai salah satu musuh utama. Kadungga tak luput dari itu semua.

…Dalam penangkapan yang diotaki Ali Moertopo, Kadungga bersama teman-temannya yang lain ditangkap di Bogor. Para aktivis disiksa habis-habisan dalam penangkapan ini…

Menjelang Sidang Umum MPR pada tahun 1974 terjadi penangkapan dan penculikan massal atas aktivis Islam. Menurut Kadungga, otak tragedi ini adalah Ali Moertopo. Kadungga bersama teman-temannya yang lain ditangkap di Bogor. Para aktivis disiksa habis-habisan dalam penangkapan ini. Ada yang disiram air kencing, ada yang dipukuli bahkan sampai ada yang trauma. Untuk menguatkan perjuangan, Kadungga memberikan taushiyah kepada teman-temannya untuk meningkatkan kesabaran dan tawakal, karena Allah selalu bersama mereka.

Waktu berlalu, akhirnya penahanan dilonggarkan. Mereka hanya dikenai tahanan kota dan wajib lapor sepekan sekali. Di saat itulah Kadungga memutuskan untuk berangkat ke Belanda dan mencari suaka politik atas perlakuan Orde Baru terhadap dirinya. Dalam kurun waktu itu pula secara semena-mena pemerintahan Orde Baru mencabut paspornya sebagai bukti warga negara. Padahal pencabutan paspor itu harus melalui pengadilan. Kadungga tidak pernah diadili maupun ditanya, langsung saja dicabut paspornya.

Saat di Eropa untuk kedua kalinya ini, panggilan jihad terdengar dari Afghanistan. Kadungga terhitung orang Indonesia pertama yang datang dari Eropa untuk masuk ke Afghanistan. Di medan jihad itulah Kadungga begitu takjub, berjuang bersama-sama dengan pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia.

…panggilan jihad terdengar dari Afghanistan. Abdul Wahid Kadungga terhitung orang Indonesia pertama yang datang dari Eropa untuk masuk ke Afghanistan. Jejak perjalanannya di Afghanistan itu menjadi ujian baru untuk Kadungga. Ia dituduh terlibat sebagai kaki tangan gerakan al Qaidah…

Jejak-jejak perjalanannya di Afghanistan pula kini menjadi ujian baru untuk Kadungga. Ia dituduh terlibat sebagai kaki tangan gerakan al Qaidah. Ia juga menyandang julukan penghubung internasional Jamaah Islamiyah. Tapi apakah itu semua membuatnya surut dari jalan dakwah?

Tidak. Kadungga begitu yakin atas takdir Allah. “Tidak ada satu daun pun yang jatuh dari pohon tanpa kehendak Allah. Begitu juga dengan diri saya, tidak seorang pun, bahkan Amerika, yang bisa menyentuh kita tanpa takdir Allah,” tegasnya. Karena itu langkah kaki tak bisa mundur meski setapak dari jalan dakwah.

Karena itu pula, Abdul Wahid Kadungga, meski perawakannya kecil, namanya begitu besar sampai-sampai puluhan intelijen dikerahkan saat ia datang dari Malaysia ke Kalimantan. Sampai-sampai, Amerika sendiri merasa harus melekatkan pandangannya terus menerus pada ustadz yang satu ini. Tapi Kadungga mengatakan, ia tidak akan tunduk apalagi menyerah, karena memang ia tak pernah bersalah. “Apalagi yang saya takuti hanya Allah semata,” tandasnya.

Kisah Mujahid Mungil Melawan Raksasa Media

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba raksasa koran Indonesia, Kompas menurunkan berita, Abdul Wahid Kadungga termasuk dalam jajaran teroris pelaku bom Bali I, pada tanggal 23/11/2005. Dalam berita berjudul ”Noordin M Top, Target Utama Penangkapan” yang dilengkapi dengan grafis sebagian pelaku teror bom, nama Abdul Wahid Kadungga tertulis dengan jelas pada sub judul ”Bom Bali 2002” bersama nama-nama Amrozi cs. Sejak itu, nama Kadungga menghiasi media massa nasional maupun internasional selama sepekan hingga tanggal 7 Januari 2005.

Dengan sebutan sebagai pelaku Bom Bali, ia kerap dikejar-kejar oleh Detasemen Antiteror 88. Takutkah Kadungga terhadap raksasa Kompas? Ternyata tidak! Aktivis Islam bertubuh mungil yang dikenal tegas dan keras ini berontak dan melawan. Kadungga berang, karena pencantuman namanya adalah fitnah.

Tidak sedikitpun Kadungga merasa gentar menghadapi Kompas yang merupakan raksasa media di tanah air. “Saya hanya takut kepada Allah. Di depan Allah, Kompas itu kecil,” katanya mengingatkan.

Suatu gejala baru muncul, seorang yang dituduh teroris malah melawan. Selama ini umat Islam terkesan bersikap defensif menghadapi berbagai pemberitaan maupun opini publik yang menyudutkan. Tidak demikian dengan seorang Kadungga.

Selain memberi pelajaran kepada Kompas, Kadungga bermaksud menyadarkan umat Islam bahwa saat ini umat Islam jadi korban fitnah. Dan teror di belakang semua ini adalah Amerika Serikat dan Yahudi, zionis internasional.

Kadungga bermaksud menyadarkan umat Islam bahwa saat ini umat Islam jadi korban fitnah. Dan teror di belakang semua ini adalah Amerika Serikat dan Yahudisekarang adalah era kebangkitan Islam. Ketakutan Amerika dan orang-orang kafir adalah merupakan abad kebangkitan Islam, dan inilah yang ingin mereka redam…

Menurut Kadungga, sekarang adalah era kebangkitan Islam. Ketakutan Amerika dan orang-orang kafir adalah merupakan abad kebangkitan Islam, dan inilah yang ingin mereka redam. Semakin ditindas, maka umat Islam harus semakin bangkit. Umat Islam Indonesia bangkit melawan.

Walhasil, raksasa media yang bernama Kompas pun ketakutan dan buru-buru meralat pemberitaan itu sepekan kemudian, pada edisi 03/12/2005 dengan alasan terdapat kesalahan data yang sangat mengganggu. “…atas kesalahan tersebut, Kompas menyampaikan permohonan maaf,” demikian ralat Kompas.

Meski Kompassudah meralat, hal itu tidak mengurangi tekad Kadungga untuk memberi pelajaran. Menurut aktivis bertubuh kecil namun bernyali raksasa ini, Kompas menyebut namanya dalam daftar teroris adalah by design. Oleh sebab itu, ketika Kompas menyebut pencantuman namanya sebagai sebuah kekeliruan, Kadungga menolak mentah-mentah, karena koran itu mengenal siapa dirinya.

Terakhir kali penulis bertemu almarhum di Masjid Al-Furqan Jakarta, hari kamis tepat satu hari sebelum Idul Adha dua pekan lalu. Malam itu almarhum bertindak sebagai imam shalat isya, sedangkan penulis berdiri menjadi makmum di shaff kedua. Tak disangka, shalat jamaah itu adalah pertemuan “pamit-pisah” penulis dengan almarhum.

Sang mujahid lintas negara itu telah menutup lembaran amalnya. Semoga semangat jihad dan istiqamahnya di jalan Allah, mengilmami perjuagan kita semua. Mudah-mudahan kita dipertemukan Allah di surga-Nya. Amin. [MA. Gani/voa-islam.com]

Info LBT PII Manado

Posted by admin On Desember - 14 - 2009

Liburan akan tiba, di Manado ada Info Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar atau Leadhership Basic Training di Kota Manado akan diadakan di MTs Negeri Manado yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 26 - 31 Desember 2009

Link di FB : http://www.facebook.com/event.php?eid=204627213743

PII Tolak Pelaksanaan UN

Posted by admin On Desember - 13 - 2009

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Bertempat di depan Gedung Agung Yogyakarta, sebanyak 20-an orang yang tergabung dalam Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia, Jumat (11/12) sore, berunjuk rasa menolak ujian nasional. Mereka menilai ujian nasional tidak mewakili kultur dan kearifan lokal yang berbeda satu dengan daerah lain.

Selain orasi, pengunjuk rasa sempat membentangkan sejumlah poster antara lain berbunyi “Serahkan kelulusan ke sekolah bukan lewat UN (ujian nasional)”, “Pelajar bergerak tolak UN”, dan “Pelajar cerdas tolak UN sekarang”.

Menurut pengunjuk rasa adalah sebuah kesalahan besar apabila mengukur keberhasilan pendidikan dengan UN. Ada sejumlah alasan, antara lain fungsi lembaga pendidikan menjadi sekadar lembaga khursus. Bahkan menjelang pelaksanaan UN, fenomena lembaga kursus menjadi lebih berarti dibanding institusi sekolah karena mereka bisa memandu siswa mengerjakan soal dengan cara cepat, bukan berdasar pemahaman.

UN juga dianggap membunuh potensi pelajar yang sesungguhnya. Jika UN tetap diselenggarakan maka kelulusan siswa hanya dipandang dari kemampuan kognitif yang dilakukan sesaat. UN juga dinilai sebagai bentuk pembodohan secara sistematik karena kemampuan mereka belajar tiga tahun hanya diukur dari keberhasilan mengerjakan soal selama tiga hari.

UN, menurut Pelajar Islam Indonesia (PII) juga berpotensi menjadi ladang korupsi bagi semua institusi, mencetak pelajar menjadi pembohong, serta tidak menunjukkan karakter pendidikan Indonesia itu sendiri. “Jika memang nilai kelulusan distandardisasi, maka setelah lulus harus ada jaminan dari pemerintah bahwa mereka tidak akan menganggur,” ujar Haris Kintoko, salah satu peserta aksi.

Fajar, peserta aksi yang lain berpendapat dana yang dikucurkan buat penyelenggaraan UN sebaiknya dialihkan untuk pemerataan pendidikan. Karena selama ini masih banyak gedung sekolah di daerah terpencil yang tidak layak untuk ditempati. Melihat fenomena ini, menurut Fajar apa layak jika siswa di tempat terpencil disamakan dengan siswa diperkotaan dengan sebuah standar kelulusan yang bernama UN.

“Saya kira akan lebih solutif apabila dana yang dipakai UN dimanfaatkan untuk pemerataan pendidikan. Ini jelas lebih bermanfaat,” ujarnya. Karena itu, PII mengeluarkan lima tuntutan, antara lain pemerintah harus mematuhi putusan Mahkamah Agung untuk tidak menyelenggarakan UN serta hilangkan diskriminasi di sekolah.

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook
    close
    Jangan lupa kunjungi Komunitas PII Cyber disini