.

     

Archive for the ‘Artikel’ Category

Meninggalkan Gaji Besar, Mengharap Ridho Allah dengan Berdagang

Posted by admin On Februari - 24 - 2010

Idealis, Saeful Aanwar Lepas Gaji Besar Pilih Jual Es Tebu Warga Menjuluki Tukang Tebu Terganteng

Tak banyak orang seperti Muhammad Saeful Aanwar. Ketika yang lain sulit mencari kerja, dia malah meninggalkan pekerjaan dengan gaji Rp 10 juta per bulan. Saeful lebih memilih berjualan es tebu keliling dan sales parfum murah.

ROMBONG es tebu itu dikerumuni ibu-ibu muda ketika melintas di kawasan Wage, Sidoarjo. Tawa riang dan canda mereka berbaur dengan suara anak-anak yang berebut membeli. Susana itu hampir terjadi tiap hari pukul 15.00-17.00.

Itulah rutinitas Muhammad Saeful Aanwa menjajakan es tebunya di kawasan tersebut. Pria 39 tahun itu berbeda dari penjual es tebu lain.
Penampilannya rapi, bersih, pakaian necis, dan wangi. Dengan tinggi badan sekitar 170 cm, kulit putih, paras tampan, pria berdarah
Banten-Sunda-Padang itu jauh dari mainstream penjual es tebu keliling.

Karena itu, tak heran Saeful Aanwa merupakan tukang tebu favorit -setidaknya- di kawasan Wage. Seorang warga perumahan bahkan menjuluki Saeful  sebagai tukang tebu terganteng se-Asia Tenggara.

Ada cerita, pernah seorang ibu yang naik sepeda terjebur got gara-gara meleng melihat Saeful  nggenjot rombong tebunya. ”Tapi, saya tak tahu cerita persisnya seperti apa. Saya hanya diberi tahu tetangga saya,” kata Ismail lalu tersenyum.

Pria ramah itu tak hanya punya nilai lebih dari segi fisik, tapi juga idealisme. Karena idealisme itulah dia memilih mundur dari
pekerjaannya sebagai legal staff di sebuah perusahaan rokok besar di Surabaya. Padahal, di tempat tersebut, dia punya gaji cukup besar, Rp 10 juta per bulan.

Sementara hasil jualan es tebu keliling itu, paling banter dia dapat Rp 1,5 juta per bulan. ”Ini pendapat saya pribadi, bukan bermaksud
memojokkan siapa-siapa,” katanya. ”Saya merasa bahwa rokok adalah sesuatu yang mudharat-nya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Itulah yang membuat saya bimbang, saya bekerja di industri yang seperti itu,” lanjut bapak satu anak tersebut. ”Makanya, saya lebih bahagia sekarang, meski pendapatan pas-pasan. Kedamaian hati, itu yang paling penting,” sambungnya.

Saeful  kemudian menuturkan kisahnya. ”Ketika kuliah, saya sudah bekerja di perusahaan advertising, anak perusahaan rokok itu,”
katanya. Itu terjadi pada 1991 saat kuliahnya di Fakultas Hukum Untag memasuki tahap akhir. Setahun kemudian, dia dipindahkan ke induknya, bagian legal department. ”Waktu pindah, saya belum lulus,” paparnya.

Saeful  baru lulus setahun kemudian. Kelulusan itu mendongkrak eselon dan gajinya di perusahaan tersebut. Konditenya selalu baik.
Pelan-pelan gajinya naik. Karena tempatnya bekerja merupakan salah satu perusahaan dengan rate gaji tertinggi di Surabaya, Saeful  hidup berkecukupan.

Hidupnya mapan, tinggal di rumah tipe 45 di Griyo Wage Asri. ”Hingga saya resign pada 2009, gaji saya Rp 10 juta. Itu belum termasuk bonus dan tunjangan lain,” kenangnya.

Meski gajinya besar, dia selalu gelisah. Puncaknya terjadi pada 2007. ”Saya merasa industri tempat saya bekerja tidak cocok dengan hati
nurani saya,” tuturnya. Rokok, bagi Saeful, adalah hal paling merugikan dalam kehidupan. Terutama dari sudut pandang imannya.

Saeful memang religius. ”Sejak kecil, orang tua saya selalu menekankan nilai-nilai Islam yang kuat kepada saya,” paparnya. Ajaran
itu terus terbawa hingga sekarang. Karena itu, Saeful  selalu berusaha ikut pengajian di mana pun. ”Untuk menambah ilmu,” tuturnya.

Hampir semua pengajian di Surabaya dan Sidoarjo pernah dia datangi. Bahkan, dia selalu menyempatkan ikut kuliah subuh di TVRI. Tapi, dia mengaku tak ikut sebuah organisasi keagamaan apa pun. ”Saya tak ikut PKS atau apa pun. Saya lebih suka begini saja,” katanya.

Dalam Islam, rokok dianggap makruh (sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan). Bahkan, sebagian ulama menilai haram. ”Itu yang
memengaruhi pemikiran saya,” katanya.

Apalagi, ikhwan-ikhwan (saudara) sepengajian sering mengingatkan dia. Juga mengirim e-mail berisi tulisan dan gambar tentang akibat merokok. ”Ngeri, ngeri, kalau melihat gambarnya. Paru-paru yang hitam membusuk, orang yang kondisinya sekarat, wahh… pokoknya
mengerikan,” tuturnya.

Satu pemikiran mulai menusuk dirinya. ”Masak sih saya memberi makan anak dan istri dengan uang yang dihasilkan dari industri yang merusak masyarakat,” katanya lalu buru-buru menambahkan bahwa itu pendapatnya pribadi.

Sejak itu, kinerja Saeful  melorot drastis. Manajemen perusahaan melihat perubahan tersebut. Manajemen yang bijak mengajak Saeful
berbicara dari hati ke hati. Karena memang sudah bimbang, Saeful memutuskan mundur dari perusahaan pada Juni 2009. ”Saya akan
merugikan perusahaan bila tidak bisa kerja maksimal. Karena situasinya seperti itu, saya pikir inilah titik untuk hijrah. Saya keluar secara
baik-baik,” urainya.

Atas jasa-jasanya selama 16 tahun bekerja, perusahaan memberi pesangon Rp 400 juta. Selepas dari perusahaan, Saeful  melakukan apa saja yang halal untuk menyambung hidup. Di antaranya, menjadi sales parfum tiruan. ”Saya menemukan dunia yang asyik.. Ternyata, saya juga punya potensi di bidang marketing,” katanya dengan mata berbinar.

Untuk menambah penghasilan, Saeful  berjualan es tebu. ”Saya bertemu pemilik Mr Tebu dan saya membeli franchise-nya seharga Rp 10 juta. Itu sudah dapat rombong dan peralatannya,” tuturnya. Dia menggenjot sendiri rombong tersebut.

Perubahan hidup itu membuat Sri Lestari -istri yang kini telah berpisah- kaget. Kata-kata seperti terus kerjo opo, Pa? sering kali
terucap. Ketika Saeful  memutuskan menggenjot sendiri rombong es tebunya, Sri nyaris tak percaya. ”Sing bener ae, Pa?” ujar Sri
sebagaimana ditirukan Saeful .

Namun, Saeful  bergeming. Melihat keteguhan hati suaminya, Sri bisa memahami. ”Apalagi, tetap harus ada penghasilan kan,” katanya.
Saeful  tak bersedia mengungkapkan alasan pisah dari istrinya.

Selain parfum dan es tebu, Saeful  mencoba jual beli apa saja. Mulai seprai hingga mobil. Namun, hanya eceran. ”Maklum, dana terbatas dan penghasilan harus ditingkatkan,” ungkapnya.

Dari berjualan parfum, Saeful  hanya mendapatkan rata-rata Rp 600 ribu per bulan, sedangkan dari es tebu dapat Rp 700 ribu-Rp 800 ribu. ”Tapi, saya bangga dengan pilihan ini. Meski hanya jadi tukang es tebu dan sales parfum, saya jauh lebih berbahagia daripada saat masih kerja di industri rokok,” tegasnya. (*/cfu)

Menguak Misi Terselubung di Balik Infoteinmnet

Posted by bayong_smd On Februari - 22 - 2010

Penguasaan media merupakan salah satu alat penting dalam penanaman nilai-niai dalam kehidupan masyarakat. Saking pentingnya media, Paul Friedman sampai mengatakan, “Siapa pun yang menguasai media, maka ia akan merubah masyarakat.” Pernyataan yang cukup beralasan, sebab media sekarang justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab yang berupaya mencari keuntungan dengan dengan segala cara, sehingga menimbulkan ekses-ekses negatif. Lebih memprihatinkan lagi, ekses-ekses negatif ini telah merubah gaya hidup sebagian masyarakat kita, khususnya para remaja yang sedang berupaya utuk mencari jati diri mereka.

Masyarakat modern, meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang, berada pada sebuah realitas semu, mereka berada pada homogenisasi budaya dan nilai-nilai sehingga seakan kehilangan makna dan jati diri mereka. Apalagi nilai lebih yang ditawarkan media tertentu bearda pada kontrol pasar dan harus menyesuaikan dengan keinginan pangsa pasar, sehinga prioritas utama yakni orientasi pada keuntungan semata. Akibatnya masyarakat dituntut untuk terus mengkonsumsi atau pihak perusahaan akan kehilangan profit mereka. Orientasi untuk profit (profit oriented) harus terus dikerahkan, sementara masyarakat hanya boleh menonton.

Salah satu elemen media yang paling sering kita hadapi adalah dunia Infotainment. Muncul sebuah pertanyaan, sebegitu burukkah peranan media dalam era kapitalisme global yang mana nilai-nilai komoditas menjadi tujuan utama melalui budaya konsumtifnya? Kenapa penulis hanya memusatkan peranan media hanya sebatas seputar infotainemnt belaka, sementara masih banyak elemen-elemen atau ranting-rating media lainnya yang juga perlu menjadi pembahasan?. Hemat penulis, infoteinment merupakan sebuah instrument praktis yang kerapkali dipakai dan ditonton masyarkat. Oleh karenanya misi terselubung dibalik maraknya infoteinment patut kta cermati dan perlu telaah lebih mendalam secara bersama.

Infoteinment Sampai Mati

Infotainment; informasi enterteinment adalah sebuah penyampai informasi ringan yang berisi hiburan. Rating penonton di Indonesia yang menyaksikan tayangan infoteinment mencapai hampir 10 juta (viva.news.com), dengan kata lain sekitar 6,25% penduduk Indonesia menjadi penikmat tayangan infoteinment. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita sebagian besar menggandrungi infotainment. Padahal, dunia hiburan dan kepuasan yang menjadi tujuan dari kapitalsme telah meracuni pemikiran sebagian masyarakat kita.

Seorang ibu-ibu rela menyisakan waktu luang mereka, hanya untuk menyaksikan kehidupan beberapa artis, sekalipun mereka tidak tahu atau bahkan tidak akan pernah merasakan kehidupan artis idaman mereka. Beberapa remaja terkontaminasi serangan budaya yang globa (culture attack), sehingga kehilangan identitas diri. Rasanya tidak asik kalau seorang remaja tidak mempunyai band favorit atau mengikuti gaya pakaian idola mereka. Bahkan anak-anak yang masih harus mendapat perlindungan -bukan hanya secara pemenuhan kebuthan fisik seperti yang lazim kita ketahui- akan kehilangan hak intelektual mereka dengan semakin meningkatnya jenis-jenis infotainment yang ditayangkan setiap harinya. Dunia anak-anak yang peuh dengan hiburan seakan-akan hilang ketika gaya hidup orang dewasa telah berhasil masuk dalam pemikiran dan merusak kehidupan mereka. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengantongi data, hanya 30 persen acara televisi yang aman ditonton anak-anak pada 2006, dan tidak ada perubahan tahun 2007.

Ini hanya segelintir fakta yang sekarang sedang terjadi di depan mata kita. Kepandaian atau kepiawaian dunia enterteinment terlihat, ketika mereka berhasil masuk kedunia imajinasi masarakat yang secara psikologis mengalami kejenuhan serta berhasil mengangkat pencitraan yang dinilai tabu menjadi biasa. Manusia memiliki rasa keingintahuan sangat besar terhadap suatu hal. Selama yang disampaikan merupakan sesuatu yang tabu atau jarang tersentuh dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat menyenangkan untuk dilihat. Dunia glamour para artis yang disajikan adalah contohnya.

Bukan hanya itu, munculnya tayangan-tayangan yang berusaha untuk menunjukan pencitraan manusia juga mendapat nilai komodoti tertinggi. Lihat saja dari tayangan Take Me/Him Out yang merupakan acara pencarian jodoh. Pencarian pasangan hidup yang semestinya merupakan urusan pribadi, jurtru telah berhasil dijadikan sebagai sebuah tontonan menarik bagi para pemirsanya. Sekalipun penonton tidak punya urusan dengan tawaran pasangan yang ditampilkan, namun kemasan atau pengolahan pencitraan yang menyajikan hiburan secara mengasikkan telah berhasil meghipnotis berjuta-juta penonton di Indoneisa.

Tayangan Curhat yang ditayangkan salah satu satasiun TV Swastamenanyangkan persoalan pribadi masyarakat, juga berhasil menjadi tontonan menarik. Betapa tidak, problematika rumah tangga sampai prerselinguhan pasangan yang semestinya diselesaikan secara kekeluargaan, malah ditayangkan secara vulgar di televisi. Bahkan salah satu stasuun TV Swastalain, setiap malam menayangkan problem keluarga-keluarga bermasalah dengan wajah mereka yang disensor.

Dunia infoteinmen pun telah berhasil masuk kedalam dunia privat para figur publik, sebut saja selebriti. Seperti kejadian yang menimpa artis Luna Maya. Merasa dirugikan oleh ulah para wartawan infotainment, Luna Maya mengeluarkan pernyataan emosional melalui Twitter, sehingga menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan Infotainmen menyerang balik dengan menggunakan kekuatan hukum untuk demi melindungi kepentingan di balik acara infoteinment tersebut. Tidak heran mulai bermunculan kecaman untuk mengharamkan inofeteinmemt mulai dari keputusan PBNU sampi kepada fatwa haram MUI (detik.com)

Apa yang membuat acara-acara ini dapat tetap bertahan? Rating, itulah kiranya yang menjadikan tayangan-tayangan hiburan tersebut selalu dapat bertahan. Jumlah rating yang tinggi musti tetap dipertahankan, itulah barangkali yang terjadi di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia yang menepati urutan kedua terbesar. Tayangan mulai Take Me/Him Out, Curhat, bahkan Mama Mia yang pernah fenomenal menempati rating teringgi yang selalu ditonton banyak orang. Sebagai misal, Mama Mia menurut hasil survey yang dilakukan AC Nielsen, dinyatakan meraih rating rata-rata 6.5 dengan share penonton 19,4 %. Bahkan pada tayangan hari Jumat 15/6-2007, Mama Mia mampu meraup 20 juta pemirsa untuk Coverage Indosiar, mengalahkan jumlah penonton `Indonesian Idol` pada jam tayang yang sama.

Menurut pihak Indosiar tentang kesuksesan acara Mama Mia, ”Fokus penggarapan 70 % pada anak dan 30 % pada peran ibu memang telah menjadi target format kami sejak awal. Terlebih-lebih program ini memiliki keistimewaan tidak memilih-milih peserta untuk ikut. Artinya untuk yang bertubuh normal atau cacat. Siapa saja boleh ikut, dan ini yang menjadikan format Mama Mia jadi lebih punya daya jual.” Rating yang semakin tinggi akan memliki daya jual yang tinggi pula, apa pun bentuknya harus tetap dipertahankan.

Bahkan, agama tak luput dari cengkraman racun infoteinment. Pembauran antara dunia hiburan dengan dunia spiritual telah memudarkan atau mengaburkan makna lain dari dunia ritual tersebut. Dunia ritual yang ditawarkan para penguasa entertainment-enterteintment tidak lebih dari ajang bisnis yang menampilkan sesuatu yang sifatnya semu. Jean Baudrillard menyebutnya dengan Hiperrealitas, yakni kenyataan yang semu seakan-akan nyata, kenyataan adalah kesemuan itu sendiri. Tidak ada perbadaan fiksi dan kenyataan, karena garis pemisahnya benar-salah menjadi satu, palsu atau buram.

Meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang lagi, fenomena ini termasuk kedalam aestetichism yaitu pengindahan visual menjadi seakan-akan nyata dengan begitu indahnya. Semua wacana dijadikan dan ditata secara begitu indah dengan menonjolkan kesenangan-kesenangan atau hiburan, sehingga tidak terlihat keburukan yang ditampilkan di belakangnya, atau misi terselubung di baliknya.

Orientasi Keuntungan Kebablasan, Ancaman Masa Depan Manusia

Kenyataan tersselubung tersebut bukan hanya pembodohan secara tidak langusng, namun juga berakibat pemiskinan-pemiskinan intelektual maupun pemiskinan material. Dunia infotainment yang berlindung di balik tirai kapitlaisme global melalui mekainsme pasarnya secara tidak langsung telah mematikan industri hiburan yang jauh lebih mendidik. Apalagi dengan dibukanya pasar bebas atau free trade area (pasar bebas 2010) semakin membuka harapan sekalgus Ancaman. Harapan bagi para pengusaha infotainment untuk memajukan bisnis mereka yang mengalami peningkatan rating dari tahun ke tahun. Pertahankan keuntungan atau akan jatuh bangkrut tak peduli bagaimana caranya. Sementara industri hiburan yang lebih edukatif, selain miskin pangsa pasar, malah akan tersisihkan dan kalah bersaing. Inilah pemiskinan secara struktural di kancah doemsetik. Karenanya pembukaan pasar bebas bukan hanya mematikan industri-industri kecil masyrakat kita, namun juga masa depan hiburan yang jauh lebih edukatif akan mati.

Apalagi bila sampai memasukan unsur agama yang begitu sakral ke dalam mekanisne pasar, maka secara tidak langsung nilai-niai kebajikan yang ditawarkan agama akan pudar, bahkan kehilangan maknanya sebagai control sosial dan sakral. Agama akan mengalami semacam “privatisasi agama” (khoirul faizin) atau komodivikasi agama, yaitu sekadar pemuas indivudu dan harus menyesuaikan dengan kemauan pasar, bukan lagi pemaknaan agama secara spiritual, moral, sakral dan sosial. Singkat kata, dunia infoteinment yang berusaha masuk ke dalam agama telah merusak pemaknaan agama secara lebih mendalam.

Menurut Eko Prasetyo bahwa bisnis adalah bisnis, dan akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berbujung pada pencarian keuntugan. Atau seperti kata Karl Marx dalam Das Capital, kapitalisme berorientasi pada keuntungan, dan untuk mendapat keuntungan dibutuhkan modal. Dari mana modalnya? Eksploitasi segala hal yang menguntungkan.

Bisnis infoteinment hanya akan berujung pada keuntungan, bukan trasnformasi nilai yang lebih konstruktif. Perubahan sosial yang ditawarkan adalah perubahan yang berupaya menjadikan hiburan sebagai komoditas utama selama dapat meningkatkan keuntungan finansial dalam skala dan jumlah yang besar, itulah rekayasa sosial yang terjadi. Itulah sisi terleubung dari dunia infoteinment yang setiap hari menyajikan hiburan tanpa tapal batas, dan manusia menjadi objek yang dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pasar. Manusa ditentukan dari pemberitaan yang disampaiakan, bukan berdasarkan kemauan sendiri, akibanya ialah dehumanisasi.

Memang tidak bisa dipungkiri era globalisasi sekarang tidak ada sekat antara kebijakan (policy) dan moral (morality), sehingga menciptakan tatanan masyarakat glamour, hedonis dan konsumtif. Hal ini mengakibatkan dekadensi moral, krisis identitas, dan kerancuan nilai. Dunia yang mengalami keterbukaan berlebihan (overtrasnparansi) yang di luar batas nalar dan etika manusia telah menimbukan efek-efek negatif dalam kehidupan kita. Dunia hiburan yang tadinya menjadi kebutuan sekunder, nyatanya telah menjadi sebuah kebutuhan primer..

Masyarakat yang terpengaruh media infotainment bukan hanya menghilangkan daya kritis, sikap rasional dan bijaksana masyarakat, namun juga menciptakan homogenisasi kehidupan yang seolah dipaksakan. Akhirnya manusia akan mengalami kepunahan, yakni kepunahan rasionalitas dan berkurangnya kebijaksanaan. Mungkinkah ini tanda kalau Kiamat 2012 akan terjadi?

Oleh: Baharunsyah
Aktivis PII dan mahasiswa FISIPOL Universitas Mulawarman Kaltim

Pesan untuk Intelektual Muda (Aktivis)

Posted by bayong_smd On Januari - 15 - 2010

“Kalau kaum politik tidak mengindahkan kepentingan rakyat, mestilah kaum penulis mengindahkannya.”
Pramoedya Ananta Toer


Sejarah negeri ini tidak pernah terlepas dari peran para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok aktivis. Mereka dengan kesadaran dan keamampuan untuk mengorganisir secara baik mampu membuat perubahan dibeberapa bidang. Contoh nyata adalah peristiwa reformasi 1998 yang dipelopori kaum mahasiswa sebagai intelektual muda. Namun saya juga tidak sepaham bila yang dikatakan kaum intelektual muda hanyalah mereka yang berada dijajaran universitas, kaum pelajar pun pernah menorehkan sejarah sebagai pelopor perubahan dan menjadi pengkritis kebijakan pemerintah pada masa itu, missal organisasi PII yang memilki basis pelajar menjadi salah satu penentang kebijakan represif Orde Baru.

Namun sayang perubahan yang terjadi bukan malah menjadikan mereka para aktifis muda ini menjadi lebih kritis dan memberikan nilai lebih dimasyarakat. Gaung reformasi yang dianggap sebagai sebuah prestasi para aktivis dalam merubah struktur dan tatananan sosial berbanding terbalik dengan yang terjadi dikalangan intelektual muda kita. Ujung-ujungnya mereka justru kembali terlena dengan gaya hidup yang tidak jelas, hedonis, kemampuan berpikir kritis yang amat minim, dan umumnya penyakit itu yang sekarang menerpa para aktifis-aktifis muda kita. Apa yang menyebabkan mereka menjadi sedemikian kaku begini?

Rabun membaca lumpuh menulis……

Saya kira itu persoalan yang menjadi penyebab kemunduran dari inteletual-intelektual muda kita khususnya para aktifis., walaupun mungkin masih banyak persoalan lain. Kemampuan mereka untuk berorasi, kemampuan untuk meyakinkan public tidak diimbangi dengan kemampuan mereka dalam membaca, buruknya kemampuan dalam hal menulis. Padahal membaca dan menulis adalah salah satu katalisator perubahan, sejarah perubahan negeri ini tidak pernah terlepas dari mereka para aktifis-aktifis yang memilki kemauan dalam memetakan pemikirannya melaui bentuk tulisan. Faktanya, hanya beberapa ekor aktivis 98 yang bersedia berjuang dalam kesunyian dan menjauhi dunia gemerlap keaktivisan untuk melahirkan tulisan-tulisan yang membawa propaganda penyadaran masyarakat (Anjrah Lelono Broto)..

Padahal tradisi menulis dan membaca memiliki nilai lebih mulia nan agung. Dalam agama pun membaca dan menulis tertuang didalam kitab suci, sebut saja ayat Iqra’ dalam surah al-‘alaq yang berarti ‘baca’,namun ummat nampaknya menanggapi ini dengan berlainan persepsi sehingga makna membaca ini adalah membaca secara empiris bukan secara visual.

Dalam Al-Qur’an sendiri terulis, “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.” (Qs. Al-Qolam [68] ayat 1). Dalam beberapa ayat al-Qur’an ketika ayat yang berbunyi demi matahari berarti menunjukkan sumpah Tuhan akan pentingnya peran matahari dalam siklus kehidupan kita, ’demi waktu’ mengartikan pentingnya efisiensi waktu agar dapat lebih memanfaatkannya secara produktif.  Nah, ketika ayat demi pena ini tertulis, menunjukan betapa pentingnya peran dari sebuah tulisan yang mengalir melalui tinta-tinta ilmuan atau para intelektual. Malahan dalam sebuah hadis disebutkan Nabi memuji para ulama yang menuangkan gagasannya kedapam tulisan, “Di akhirat nanti, tinta para ulama itu, akan ditimbang dengan darah para syuhada”.

Situasi semakin diperparah dengan sistem pembelajaran kita yang masih menempatkan budaya membaca dan menulis kedalam status anak tiri. Coba kita lihat sendiri tidak ada mata pelajaran manapun yang mewajbkan siswanya untuk aktif dan efektif menulis, menulis hanya sebagai bumbu dalam menerima pelajaran. Ketika menulis hanya diartikan sebagai bumbu atau menempati posisi anak tiri, maka otomatis budaya membaca pun akan semakin pudar.

Oleh karenanya ‘tidak ada hal yang paling memalukan dalam system pendidikan kita kecuali lenyapnya tradisi membaca dan menulis’ (Eko Prasetyo).

Kesadaran struktural dan personal………………

Maka apa yang perlu dilakukan?? diperlukan kesaran secara personal dari para intelektual-intelektual(aktivis) ini dengan menyadari bahwa membaca dan menulis memiliki peran nomor wahid dalam melaukan perubahan. Namun ini semua bukan semata-mata kesalahan dari para intelektual ini, sistem pendidikan negeri ini pun perlu sedikit dibenahi khususnya dalam penempatan tradisi membaca dan menulis. Pendidikan negeri semestinya menempatkan posisi membaca dan menulis dalam posisi pertama sebuah pembelajaran. Malahan bila perlu mewajibkan para siswanya untuk menghasilkan sebuah karya tulis dalam bentuk apapun.Karenanya problem kemiskinan literasi ini termasuk kedalam problem struktural pendidikan kita yang musti kita kikis bersama.

Melihat fenomena diatas sudah semestinya kita membuka kacamata kesadaran kita lebih luas untuk lebih berbenah diri. Bagaimana kita ingin merubah orang lain, bagaimana kita ingin merubah kondisi lingkungan yang buruk jika kita sendri masih terkungkung dalam lautan kemiskinan ilmu pengetahuan yang disebakan oleh miskinnya literatur. Kemiskinan literatur inilah yang menurut Prie G.S yang paling sering menerpa negeri kita, bukan hanya kemiskinan secara material. Dan akhirnya negeri kita berada pada dua probelm, pertama masalah kemiskinan material yang menerpa mayoritas masyarakat kita, kedua kemiskinan ilmu yang ditandai dengan minimnya daya kritis dan kemampuan berpikir secara sehat(khususnya membaca), dan ini mulai merasuk kedalam tubuh aktifis-aktifis modern sekarang.

Bila kita ingin berkaca sekali lagi tidak ada pendiri negeri ini yang paling banyak dan produktif menulis melebihi Bung Hatta. Tulisan dan gagasannya banyak dijadikan referensi oleh beberapa kaum intelektual dan beberapa ilmuan dunia dan lokal lainnya. Alangkah sayangnya bila Bung Hatta adalah generasi terkhir negeri ini yang memliki kemampuan literasi ini.

Karena dari itu tulisan ini sengaja saya tujukan sebagai upaya penyadaran kepada para aktifis-aktifis yang masih membara, yang masih memiki nilai idelalisme murni, yang masih memiliki niat utuk melakukan perubahan, kini saatnya kita menyongsong perubahan tersebut dengan berlandaskan ilmu pengetahuan dan akal sehat, bukan lagi sekedar omongan kosong yang tidak sarat nilai apalagi dengan jalan radikal sebagai problem solve nya. Sudah saatnya aktifis bukan hanya pandai dalam berorasi namun juga pandai dalam melahirkan karya tulis yang berguna bagi kemajuan bangsa ini kelak. Semoga…….

Oleh Baharunsyah
Mahasiswa FISIPOL Universitas Mulawarman,Kaltim
Aktifis PII Samarinda

10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru

Posted by admin On Desember - 30 - 2009

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar

penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.

Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti

Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.

Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:

  1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
  2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
  3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.

Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:

  1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
  2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-

Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.

Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).

Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]

Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru

Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.

Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”

Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud lantas berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).

Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]

Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu

Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!

Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina

Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]

Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin

Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]

Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!

Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan

Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]

Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga

Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]

Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.

Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]

Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id


[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.

Tuhan Sekolah!

Posted by admin On Desember - 15 - 2009

Saya mencoba memahami…

mengapakah sampai terjadi..
siswa bunuh diri..
siswa marah bakar sekolah
siswa stress pingsan tak sadar diri
siswa brutal melampiaskan hasrat diri..

tidak salah kalau Neil Postman mengatakan,
sekarang kita punya Tuhan banyak..
Tuhan konsumerisme, Tuhan tayangan TV,
Tuhan pekerjaan, Tuhan Uang, Tuhan Jabatan,dan masih banyak Tuhan-Tuhan yang lain..
Dan ini yang ditakutkan oleh Nabi Ibrahim…
yang beliau mohon diselamatkan Allah dari BERHALA-BERHALA…

Engkau mungkin menolak dengan tegas jika apa yang kutulis diatas dikatakan Tuhan…
Meski kenyataan yang engkau lakukan,
bagaimana engkau bersikap terhadap mereka,
bagaimana engkau memperlakukan mereka,
dan bagaimana mereka mengisi seluruh relung hatimu,
bagaimana mereka memenuhi ruang kosong dalam hatimu
telah meng iyakan bahwa mereka adalah Tuhanmu…

Dan ketika sekolah menjadi fokus..
seolah tak ada lain yang bagus..
seolah ditangan sekolahlah hidup kita akan menjadi lurus

by Ahmad Yanis

ETIKA DAN MORALITAS PELAJAR DAN PEMUDA DALAM MEMBANGUN

MASYARAKAT ISLAM DIDALAM ERA GLOBALISASI

“Etika dam moral’’ dalam pengertian umum ialah kesopanan /adab,adat istiadat,adap sopan, dan tata krama.Jadi dalam memahami etika dan moral dapat di golongkan 3 hal yang mendasar dalam hubungan tata hubungan pertemanan, persahabatan, dan pergaulan yaitu

* Perasaan Halus

* Kesederhanaan, (tidak dibuat-buat. )

* Kebersihan Jiwa ( Niat Baik, i’tikad baik,Ikhlas)

Generasi remaja sekarang dihadapkan kepada problem – problem besar kehidupan dari akibat pola perteman, persahabatan dan pergaulanya bahkan cenderungnya mengarahka mereka pada pola kehidupan yang selau berupaya menghindari kesukaran, mencari, dan memproduksi kemudahan-kemudahan dengan tawaran pemusahan hasrat,keinginan nafsu.para remaja harus mengetahui benar bahwa mereka sekarang dihadapkan pada era post-struktualis dan post modernis yang dicirikan sebb :

* Tidak ada kebenaran

* Tidak ada seseatu yang mutlak, dan ada hanyalah kerelatifanya.

* Tidak boleh terlalu mudah untuk mengklaim mana yang benar maup yang salah , karena persolan yang baik maupun yang salah adalah persoalan pandang saja

* Yang menjadi ukuran yang baik dan buruknya adalah manusia , bukan tuhan dan jin atau setan.

Mereka dipaksa secara efektif untuk mejeng dan nongkrong – nongkrong di mall atau di café-café, pergi melancong rame-rame ,bolos sekolah, tak mau tahu persoalan orang tua, tidak sukak membaca buku dll.akibatya generasi yang tanpa punya rasa malu , hilang sopan santun ,lebih mementingkan kesenangan sesaat, padahal hidup masih panjang dan tantangan hidup makin kompleks ,moral rusak aklhak bejat,garga diri tergodai, mkesucian terdistorsi.

Mari kita renungkan wahai para pelajar dan pemuda terutama para Kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) yang pada saat ini merupakan amanah yang paling utama yaitu malaksanakan kewajiban mengabdi kepada umat dan bangsa. dari kitalah terlebih dahululah kita melakukan perubahan baik dari segi tingkah laku maupun yang lainya, agar pelajar di era globaslisasi ini masih taat kepada sang Khalik yang telah menciptakanya. dan tetap mejalankan amanah yang istiqamah dalam perentahnya.

Ada 2 cara yang harus dilakukan oleh apara remaja maupun para pemuda yaitu :

* Mari kita meningkatkan kualitas diri,yakni bagaimana cara kita untuk mencitrakan diri sebagai seorang pelajar maupun pemuda yang muslim yang kaffah,kuncinya sederhana : berupaya terus mengamalkna ajaran-ajaran islam sebagaimana tercemin dalam AQur’an dan Sunnah Rasullullah SAW dan itu sudah cukup menjadi acuan dalam bersikap.

* Menjadi cerdas dan bijak dalam menghadapi problem-problem besar yang dapat melingkupi ,remaja muslim harus bisa tampil beda,yakni beda dalam keyakinan dan cara pandang terhadap problem-poroblem besar yang mencukupinya dengan begitu seorang remaja/pelaja maupun pemuda menempatkan keshalihanya semata ,melainkan juga kecerdasan dalam kebijakan dalam menghadapi suitnya persoalan.

Salam Hangat semuanya

UMAR

Dept.Pembinaan Wilayah PB PII

Harapan Pelajar Kepada Presiden ke Depan

Posted by admin On Desember - 1 - 2009

…engkau sarjana muda resah mencari kerja
mengandalkan ijazahmu,
empat tahun lamanya bergelut dengan buku
tuk jaminan masa depan…
(Sarjana Muda Iwan Fals)

Menjadi seorang sarjana bukan menjadi jaminan akan mudah mendapat suatu pekerjaan perlu pengorbanan yang besar dan harus sabar menunggu datangnya panggilan untuk bisa bekerja. Seperti lagu Sarjana Muda ciptaan Iwa Fals yang dirilis 20 tahun yang lalu, dan lagu itu masih sangat relevan dengan nasib para sarjana hari ini.

Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), menyebutkan bahwa jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukan kecenderungan terus menaik. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada kalangan sarjana (lulusan S-1) tetapi juga pada lulusan Diploma yang ditekankan pada ilmu praktik. Pada tahun 2006 saja jumlah sarjana yang tak bekerja mencapai 771.155 orang dan terus meningkat hingga mencapai 1, 2 juta orang pada tahun 2008, sedangkan untuk lulusan Diploma yang tidak bekerja walaupun tidak sebanyak lulusan sarjana, pada tahun 2006 mencapai 631.358 orang sedangkan pada tahun 2008 mencapai angka 882.550 orang, tetapi angka yang lebih besar lagi akan kita dapatkan ketika kita menghitung jumlah pelajar yang lulus Sekolah Menengah Atas, Kejuruan atau Madrasyah Aliyah yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan belum bekerja.

Sumbangsih pengangguran yang berpendidikan tinggi, tak urung menaikkan jumlah pengangguran di Indonesia, apalagi dengan adanya krisis ekonomi global yang melanda Indonesia, jumlah penganguran meningkat cukup tajam pada tahun 2009. Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran akan mencapai 9,5%, angka tersebut jauh di atas target pemerintah, yaitu 7–8%. Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran 5,1%.

Dilema tidak memiliki pekerjaan atau menjadi pengangguran bagi kalangan pelajar dan sarjana merupakan suatu ketakutan yang sangat besar, apalagi ketika warga negara asing masuk ke Indonesia dan bisa bekerja disini dengan kemampuan dan kepintaran yang dianggap melebihi anak bangsa, maka anak bangsa ini hanya akan menjadi jongos atau babu di bangsanya sendiri.

Ketakutan menjadi pengangguran atau tidak mendapat pekerjaan belum akan dipikirkan oleh para pelajar yang hari ini masih mengeyam pendidikan di bangku sekolah atau di kampus, tetapi yang lebih menakutkan bagi pelajar hari ini adalah kebijakkan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) yang hari ini masih diterapkan walaupun banyak orang yang menyerukan untuk dicabut.

Tidak hanya itu saja ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar hari ini, mereka pun takut untuk bersekolah karena mereka takut orang tua mereka tidak memiliki cukup uang untuk membiayai sekolah mereka, kalaupun mampu maka mereka hanya akan bersekolah dengan pas-pasan, kenapa pas-pasan? Karena sekolah mereka bangunannya pada rusak, ada yang sudah hampir roboh, fasilitas sekolah mereka minim, tidak ada perpustakaan yang baik, tidak ada laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penelitian. Sehingga wajar saja kalau kualitas pendidikan yang mereka peroleh tidak maksimal.

Semua ketakutan yang ada seharusnya menjadi tanggung jawab pemimpin bangsa yang telah dipilih secara langsung oleh rakyat untuk memimpin mereka, seharusnya para pemimpin bangsa ini dapat memberikan solusi akan ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar dan juga lulusannya, baik masalah itu masalah pekerjaan dengan menyediakan lapangan pekerjaan ataupun memberikan fasilitas pendidikan yang memadai dengan biaya yang terjangkau oleh rakyat Indonesia serta membuat kebijakkan yang sesuai dengan kemampuan anak bangsa.

Tetapi kenyataannya para pemimpin bangsa belum melakukan hal ini, hanya klaim-klaim keberhasilan saja yang mereka sampaikan walaupun tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

Harapan Pada Presiden ke Depan

8 Juli 2009 merupakan tanggal yang sangat menentukan bagi rakyat Indonesia 5 tahun kedepan, tanggal tersebut merupakan tanggal pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kalau rakyat salah memilih maka akan menderita selama 5 tahun, tetapi kalau pilihannya tepat maka akan ada harapan untuk merasakan kehidupan yang lebih baik.

Pelajar sebagai pemilih pemula, yang jumlahnya hampir 30 % dari semua rakyat yang berhak memilih harus dapat memilih para calon Presiden dan Wakil Presiden yang benar-benar dapat memberikan kebaikan dan kemudahan bagi diri mereka pada khusunya dan pada rakyat Indonesia secara keseluruhan pada umumnya.

Untuk mengetahui calon Presiden dan Wakil Presiden itu baik adalah dengan melihat program atau kebijakan yang telah mereka buat dan lakukan selama mereka menjadi pejabat negara atau pemimpin bangsa ini, karena para calon Presiden yang akan kita pilih nanti adalah mereka yang pernah memimpin bangsa ini, ada yang telah menjadi Presiden dan ada yang telah menjadi Wakil Presiden.

Apakah kebijakan yang mereka lakukan selama ini telah benar-benar berpihak kepada pelajar atau malahan kebijakan yang mereka buat menimbulkan kesengsaraan dan kesulitan?

Setelah kita melihat kebijakan yang telah mereka buat maka kita juga melihat kebijakan-kebijakan atau program-program yang akan mereka lakukan ketika mereka nanti terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, apakah ada kebijakan baru yang merubah atau menyempurnakan kebijakan yang lama ataukah tidak ada sama sekali kebijakan yang baru, walaupun ada itu hanyalah retorika politik saja dan tidak mungkin untuk dapat direalisasikan?

Setelah melihat kebijakan mereka, baik yang telah dilakukan atau yang akan mereka lakukan ketika menjadi Presiden nanti, maka kita juga harus menyatakan harapan kita kepada mereka, yang kita harapan dapat mereka tepati ketika mereka terpilih menjadi Presiden nantinya. Harapan kita minimal adalah adanya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih berpihak kepada pelajar serta tersedianya fasilitas pendidikan yang mencukupi dengan biaya pendidikan yang terjangkau hingga perguruan tinggi serta ketika kita menamatkan sekolah baik di tingkat atas maupun perguruan tinggi akan tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.

Siapa pun Presiden yang terpilih nantinya maka perbaikan sistem pendidikan haruslah menjadi agenda utama karena perbaikan bangsa ini akan dapat dilakukan dengan cepat apabila sistem pendidikannya baik.

Zakaria (Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar (PMP) Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII)

Re-Orientasi Gerakan PII; Sebuah Keharusan!

Posted by ridho On November - 1 - 2009

Permasalahan PII yang kompleks di satu sisi bisa kita pahami jika menimbang usianya yang sudah 62 tahun. Namun, jika melihat usia para penggerak organisasi yang notabene masih muda (pelajar), kompleksitas persoalan PII harusnya tidak sampai berlarut-larut seperti sekarang. Tuanya usia organisasi dan mudanya para penggerak seharusnya menjadi paduan yang bisa mengakhiri berlarut-larutnya persoalan PII saat ini. Beberapa persoalan yang rata-rata mengemuka, dari hasil pengamatan kami di beberapa pengurus PII, antara lain; kesulitan memperoleh kader penerus, jalannya kepengurusan yang sering vacuum, semakin berkurangnya basis, tidak berjalannya follow up kader pasca basic trainning, banyaknya pengurus yang mundur dalam satu periode kepengurusan, sulitnya menjalankan program-program yang non-konvensional (diluar trainning), dan meningkatnya konflik internal.

Persoalan yang disebutkan diatas bisa mewakili klaim kita kita bahwa memang persoalan PII saat ini sangat kompleks. Dalam beberapa periode terakhir, di tingkat Pengurus Besar dan di beberapa wilayah, sudah ada upaya-upaya untuk mengatasi hal tersebut. Secara nasional, pasca 1998, beberapa konsep yang dilahirkan antara lain Gerakan Seribu Komisariat, peremajaan usia kader, penambahan konsep kekaryaan dalam catur bhakti, dan terakhir adalah perubahan komisariat menjadi komunitas. Dengan tidak mengurangi penghargaan kita terhadap upaya-upaya tersebut, kita tetap harus melihat realitas PII sekarang secara kritis. Kenyataannya, setelah berbagai upaya tersebut, terlepas dari polemik apakah betul telah maksimal ataukah belum dalam implementasi, persoalan PII yang kita sebutkan diatas tetap saja masih ada dan bertambah parah.

Jika kita memakai pe-ibarat-an, maka bolehlah kita mengibaratkan segala upaya yang telah dilakukan tetapi tetap saja meninggalkan persoalan yang sama adalah seperti ”memotong rumput”. Jikalau kita ingin membersihkan rumput maka haruslah mencabut sampai ke akarnya. Pertanyaan kita kemudian adalah apa yang menjadi akar persoalan dari kompleksitas persoalan PII? Akar persoalan yang menumbuhkan kompleksitas! Makalah ini tidak akan menjawab persoalan yang disebutkan diatas satu persatu karena modusnya bisa sangat kasuistik. Makalah ini akan mencoba menelusuri akar persoalan dengan mengkaji prinsip-prinsip dasar bangunan sebuah gerakan.

Objek Kritik sebagai Raison de Etre

Sebuah gerakan selalu muncul karena ada sebuah situasi dan kondisi yang tidak ideal. Para pendiri gerakan selalu mengemukakkan kritik-kritik terhadap persoalan yang mereka anggap harus disikapi dan dicarikan solusi. Pada akhirnya sebuah gerakan akan menetapkan suatu sikap dan mempertegas posisi terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi. Pembacaan terhadap realitas sosial, menyampaikan kritik, menawarkan solusi, sehingga akhirnya melakukan perekrutan, adalah cikal bakal lahirnya sebuah gerakan. Dalam hal ini, validitas/ketepatan bacaan terhadap realitas menjadi penentu diterima/tidaknya sebuah gerakan oleh massa.

Raison de etre, atau alasan keberadaan sebuah gerakan berisi kritik yang menyiratkan idealisme. Realitas dihadapkan pada idealitas. Idealitas dibangun dari sumber-sumber nilai yang berada dalam rasio atau agama. Dalam kasus PII maka sumber nilai itu adalah segala sesuatu yang menjadi sumber nilai agama Islam. Jadi idealisme ”kesatuan umat” adalah konsep yang memuat niali-nilai yang bersumber dari Islam. Realitas keumatan yang terpecah belah menjadi raison de etre PII. Dalam pilihan strategisnya PII mengambil peran di segmen pelajar, dengan kata lain subjek seklaigus objek gerakan PII adalah pelajar.

Namun, mengingat raison de etre adalah realitas, maka dinamika/perubahan adalah sesuatu yang niscaya dialami. Dengan demikian muncullah pertanyaan,”apakah realitas yang menjadi alasan keberadaan PII masih kontekstual”? Dalam sebuah kajian yang dilakukan oleh A. Munir Mulkhan yang membahas tentang permasalahan dikotomi santri-abangan, menjelaskan bahwa pada akhir 1970-an dikotomi santri abangan sudah tidak relevan lagi. Artinya bahwa objek kritik PII, dimana menyatakan sistem pendidikan sebagai sumber perpecahan umat dengan membagi dalam dikotomi santri-abangan, sudah tidak ada! Raison de etre PII sudah tidak ada lagi. Perubahan kebijakan di zaman orde baru telah menghilangkan dikotomi tersebut dengan cara menghilangkan diskriminasi terhadap kaum santri dan membuka peluang yang sama antara santri dan abangan dalam mengelola negara. Walaupun kajian tersebut ditujukan kepada politik keterwakilan di pemerintahan, namun bisa digeneralisasi ke dalam lapangan sosial budaya. Dalam dunia pendidikan, terbentuknya institusi pendidikan yang mengakomodir ilmu umum dan ilmu keagamaan dalam satu sekolah oleh pemerintah, menjadi indikasi telah selesainya fenomena dikotomi santri abangan di level elit dan massa.

Dalam nalar sederhana, jika alasan sudah tidak ada maka seharusnya segala sesuatu tersebut tidak perlu diteruskan. Tetapi yang terjadi di PII adalah tidak demikian, PII masih mempertahankan eksistensinya. Keganjilan ini bukanlah sesuatu yang perlu kita bingungkan. Dalam banyak kasus, eksistensi gerakan tidak selalu berpatok pada tujuan awal. Terdapat banyak tujuan alternatif yang secara evolutif terbentuk dalam sebuah gerakan. Tujuan yang demikian bisa bersifat idealistis atau pragmatis. Setelah tujuan awal kehilangan alasannya, dan sebelum tujuan alternatif menjadi orientasi baru gerakan maka diperlukan suatu fase re-orientasi. Dalam fase ini akan terjadi dinamika yang bertujuan menentukan tujuan dan strategi baru. Dengan demikian, apakah pada akhir tahun 1980an terjadi dinamika di internal PII dan melahirkan orientasi baru gerakan? Untuk menjawab persoalan tersebut tidaklah pada makalah ini akan diuraikan. Makalah ini akan mengandaikan situasi serupa yang terjadi pada akhir 1990an dimana terjadi perubahan realitas eksternal di wilayah Indonesia. Apakah pada akhir 1990an tersebut terdapat upaya re-orientasi PII?

Re-Orientasi Gerakan PII?

Relasi antara tubuh gerakan dengan realitas eksternal bersifat saling mempengaruhi. Intervensi/rekayasa sosial yang diupayakan oleh gerakan akan mempengaruhi proses perubahan sosial. Demikian pula dengan realitas eksternal, perubahan alamiah yang terjadi di masyarakat akan mempengaruhi asumsi, penilaian, dan strategi gerakan. Relasi ini akan terus terjadi jika upaya saling mempengaruhi tidak berhenti.

Pada zaman orde baru, isu azas tunggal menjadi titik kritis gerakan PII. Terlepas dari pro kontra di internal PII, isu tersebut adalah concern PII selama hampir lebih dari satu dekade. Reformasi 1998 telah memberi pengaruh yang signifikan terhadap anasir isu tersebut. Tumbangnya orde baru telah menghilangkan ”sumber” persoalan seputar azas tunggal. Maka re-orientasi gerakan PII seharusnya terjadi dalam merespon perubahan eksternal tersebut. Pada situasi yang demikian sebuah gerakan harus kembali mereposisi dirinya. Momentum perubahan tersebut telah merubah kisaran dari berbagai elemen sosial politik. Konstelasi yang baru tidak lagi sama seperti sebelum reformasi!

Berbagai upaya perubahan di internal yang dilakukan oleh PII dalam rangka menghadapi perubahan pasca 1998 yang telah kita sebutkan diawal, bisa diartikan sebagai respon PII agar gerakan tetap kontekstual. Namun apakah upaya tersebut sudah menyentuh persoalan mendasar? Dalam sudut pandang saya upaya-upaya tersebut hanya menyentuh bagian tertentu/sektoral dan tidak mendasar. Gerakan seribu komisariat merupakan upaya programatik dalam memperluas lahan garap. Euphoria menyambut reformasi mendorong keinginan untuk secepatnya terjadi peningkatan kuantitas masaa. Seperti yang kita ketahui, upaya tersebut menemui jalan buntu ketika di lapisan masyarakat umum tawaran-tawaran ide PII tidak mendapat sambutan seperti yang dibayangkan. Secara kuantitas, sampai saat ini basis PII semakin berkurang. Kemudian di muktamar Ambon 2006, penambahan konsep kekaryaan di dalam catur bhakti ternyata berhenti hanya pada teks konstitusi. Revitalisasi sistem pengkaderan, yang terakhir pada sarasehan muadib nasional di Jakarta tahun 2008, tidak menemukan jalan keluar untuk mengatasi menyurutnya kuantitas dan kualitas kader. Upaya mutakhir adalah perubahan fungsi komisariat menjadi komunitas, dimana, ide ini disahkan pada muktamar Pontianak tahun 2008. Untuk hal yang terakhir kita belum bisa menilai secara penuh karena saat ini masih dalam periode kepengurusan hasil muktamar tersebut. Untuk sementara, terlihat bahwa upaya tersebut juga jauh dari apa yang diharapkan.

Secara umum bisa dinilai bahwa semua upaya tersebut masih belum menyentuh persoalan mendasar, raison de etre. Gejala umum yang biasa muncul ketika persoalan ini belum terrjawab adalah seringnya muncul pertanyaan; arah kemana gerakan PII saat ini?; perubahan seperti apa yang ditawarkan PII kepada umat?, dan beberapa pertanyaan yang senada. Pada tingkat yang kritis, pertanyaan tersebut akan hadir dan tak terjawab oleh pihak yang secara khusus melakukan kaderisasi, instruktur. Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap kebebasan interpretasi, apabila pertanyaan tersebut dijawab dalam variasi yang sangat banyak, maka boleh dikatakan telah terjadi miss-orientasi gerakan. Nampaknya gejala inilah yang terjadi pada tubuh PII sekarang.

Kecenderungan romatisme perlu kita perhatikan dalam keadaan miss orientasi. Dalam proses pencarian orientasi baru gerakan, terdapat dua kemungkinan, mengulang kejayaan masa lalu dengan mengambil modus-modus gerakan seperti di masa lalu atau, meng-kreasi modus baru gerakan dengan melakukan upaya pembacaan tentang realitas masa depan. Romantisme seringkali menjadi pilihan mengingat sebuah gerakan, terutama yang bertipikal ideologis, sulit untuk keluar dari kebiasaan. Upaya-upaya untuk keluar dari kebiasaan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang bukan berasal dari dalam gerakan. Para pelaku perubahan dianggap sebagai seseorang yang membuat kerusakan/instabilitas, atau lebih ekstrim disebut pengkhianat (traitor). Jika pelaku perubahan tersebut memiliki kebertahanan ide dan loyalitas tinggi maka perubahan bisa terjadi secara berangsur-angsur, namun jika tidak maka ”mengundurkan diri” adalah pilihan lain apabila tidak diberhentikan. Kemungkinan kedua adalah yang dominan terjadi di PII.

Keharusan re-orinetasi gerakan

Kang Kuntowijoyo dalam buku Identitas Politik Umat Islam menyatakan bahwa tugas dari gerakan iIslam adalah menawarkan cara pandang alternatif terhadap umat Islam. Tugas demikian mengandung arti bahwa realitas sebenarnya memang tidak pernah ideal dan sebuah gerakan harus selalu mengasah sikap kritis terhadap realitas kekinian untuk menggapai idealitas yang di ajarkan Islam. Objek kritik akan selalu ada namun perlu upaya untuk bisa melihat dan menyikapinya. Kemampuan membaca realitas tentu saja membutuhkan kaca mata yang dibentuk dari nilai-nilai dan ilmu pengetahuan. Sikap-sikap seperti ketidakpedulian, jumud, pragmatisme,ashobiah dan sejenisnya yang mengahalangi masuknya ilmu, adalah sikap yang harus dihindari.

Melihat sejarah dan potensi kekuatan yang dimiliki oleh PII, keinginan untuk mempertahankan eksistensi, serta mengingat perubahan eksternal yang begitu nyata dan berlansung cepat, re-orientasi PII adalah keharusan. Perlu disadari bahwa potensi yang dimiliki oleh gerakan PII bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapat. Jejaring yang secara geografis sangat luas, secara kelas sosial bisa ditelusuri dari masyarakat bawah sampai elit kekuasaan, dan karakter khas gerakan yang sudah terbentuk. Apabila upaya penemuan orientasi kontekstual PII tidak segera ditegaskan maka efek ”ekor tikus” akan dialami PII, semakin keujung semakin kecil. Jika keadaan mis orientasi ini dibiarkan berlarut, eksistensi PII bisa tetap dikatakan ada tetapi hanya sekedar sebagai ”penjaga musium”, hanya mengurusi peninggalan-peninggalan generasi lama, dan jika terdesak, barang-barang lama tersebut akan menjadi komoditas yang diperjual belikan.

Beberapa alternatif yang mungkin bisa menjadi pilihan PII bisa kita gali dari rumusan cita-cita perjuangan yang termuat dalam Falsafah Gerakan. Yang perlu diingat dalam upaya penemuan orientasi baru gerakan PII adalah harus berangkat dari sumber nilai yang sama dengan bermodalkan dari segala segala sesuatu yang ada dan ”mengada” di dalam tubuh PII. Jika tidak demikian maka hal tersebut bukan lagi disebut re-orientasi tetapi pembentukan gerakan baru. Jika hal yang terakhir tersebut terjadi maka itu berada diluar konteks re-orientasi. Dengan berkaca pada realitas sosio-religi saat ini, upaya implementasi nilai-nilai Islam bersifat strategis jika mampu mengatasi persoalan-persoalan keterancaman masa depan kehidupan manusia yang berkaitan dengan psikologi sosial dan lingkungan hidup. Gejala individualistik, hilangnya kebermaknaan hidup individu, berkeluarga, dan bermasyarakat, serta gejala ketidakseimbangan alam, adalah beberapa indikasi persoalan manusia dewasa ini. Kemungkinan-kemungkinan lain masih sangat banyak jika kita mempertajam penglihatan dan pendengaran kita akan segala sesuatu yang menjadi jeritan manusia saat ini.

Islam sebagai solusi haruslah dibuktikan dengan kemampuan umatnya dalam menggali petunjuk-petunjuk di Allah di Alqur’an dalam mengatasi persoalan manusia di bumi. Selain membutuhkan penggalian nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan, kreasi terorganisir (berjamaah) menjadi faktor penentu dalam pengejawantahan kehendak Allah SWT. wallahu a’lam bisshowwab.

Oleh: M.Ridha
Departemen Pembinaan Wilayah PB PII 2008-20010

WARNA - WARNI PII

Posted by ahmad_yanis1989 On Oktober - 4 - 2009

Warna-warni itu identik dengan keindahan, warna-warni yang menyusun pelangi hingga menjadi laskar pelangi. Saat salah satu warnanya hilang, maka ada bagian indah yang hilang. Saat warna tertentu tidak lagi menjadi bagian, saat itu pula terjadi pengebirian terhadap warna. Hanya boleh ada 1 warna, tidak boleh ada yang lain.

Padahal dulu PII terkenal karena keberagamannya, minim primordialisme, minim sektarianisme, apalagi sukuisme. Siapapun boleh menjadi ketua umum PII, tidak mesti Jawa, Sulawesi, Sumatera sekalipun pernah menjadi ketua PII. Tidak ada mayoritas karena minoritaspun tetap punya kesempatan asalkan dia mau dan mampu.

Aceh salah satunya, PW PII Aceh pernah menerima Eks Ketua Umum Sumatera Utara menjadi Sekretaris Umum PW Aceh, bahkan di Aceh Utara pernah kader PII Sumatera Barat menadi Ketua Umum PD, begitu pula halnya saat kader PII Aceh menjadi Ketua Umum di PW Sumatera Utara. PII menjadi organisasi yang sejuk untuk berbagai latar belakang Madzhab, Suku, Ras, dan berbagai golongan dengan satu persamaan yaitu Pelajar Muslim. Sikap inklusivisme ini ditenggarai sebagai salah satu faktor yang menempatkan PII sebagai organisasi pelajar Islam terbesar saat itu. Namun kini, apa lacur, PII Aceh yang termasuk salah satu PW terkuat dalam hal kuantitas kader kini telah kehilangan jati diri, kehilangan ghirah barangkali juga gairah.

Sebuah apologi bahwa krisis kader disebabkan tsunami sangat tidak tepat karena realitanya malah Instruktur PII diselamatkan Allah dengan event Samwil.

Krisis kader baik secara kuantitas maupun kualitas diawali dengan dibubarkanya PDPT yang merupakan lumbung instruktur berkualitas PII. Kita harus mau jujur bahwa SDM instruktur dari PDPT lebih baik dari Instruktur yang masih sekolah. Selain kematangan diri, kharakterpun lebih kuat dalam rangka transfer ilmu saat training. Dibubarkannya PDPT lebih dikarenakan hal politis, hal ini dikarenakan hanya PDPT yang mampu bersikap kritis terhadap PW. Fitnah yang benar dan fitnah yang salah alamat merebak tanpa bisa dikendalikan.

Persaingan antara PD dalam perebutan kekuasaan wilayah telah melalaikan PII Aceh dan keluar dari rel yang seharusnya yaitu jalur kaderisasi akhirnya tersendat. Mulai dari pencekalan instruktur oleh PW yang mayoritas diduduki dari Kaum Pidie, Kaum Aceh Besar sebagai oposan, Kaum Bireuen yang oportunis serta Kaum Aceh Utara yang kritis membawa PII ke jurang perpecahan. Dapat dimaklumi jika kompetisi adalah hal yang lumrah jika dilakukan secara sehat. Namun sebaliknya jika sampai terjadi gontok-gontokan seperti yang pernah terekam dalam benak penulis saat Konwil Sigli tahun 2004 dimana sedikitnya 8 PD yang Walkout. Konwil Bireuen yang cukup alot karena Eks PDPT dibonceng Aceh Besar. Dan Konwil Langsa (Konwil tersepi dalam sejarah PII Aceh, mungkin) yang menjadi boomerang terhadap Badan Otonom Brigade yang bersikap tidak netral dengan mendukung salah satu kandidat dengan intimidasi terhadap peserta konferensi.

Ayolah kita jujur pada diri kita sendiri, hilangkan sikap anak-anak. Berfikirlah dewasa, jangan merasa diri paling benar kalau tidak kita telah merasa lebih hebat dari para Imam Madzhab yang mengaku tetap memiliki kekurangan. Hilangkan sikap ego dan belajar mendengarkan pendapat orang lain. Saling merangkul demi kemajuan PII, itupun jika kita yakin bahwa PII ini merupakan institusi yang bisa mengantarkan kita ke Surga.

Hilangkan sikap saling curiga, jadilah penguasa bijak. Tempatkan seseorang pada keahliannya kalau tidak kita akan celaka. Yang sangat urgen untuk dibenahi adalah instruktur. Berapa banyak sudah training yang digelar, berapa persentase kader yang aktif, bahkan ada yang nihil (aceh utara, ramadhan 2006 dan ramadhan 2007). Setiap daerah punya ciri khas masing-masing dan itu harus dihargai. Kearifan lokal kata orang, jangan jadi munafiq saat kita menuntut dibatalkan UN berstandar nasional tapi kenapa saat Ta`dib berstandar nasional kita tidak menuntut digagalkan. Ta`dib itu bikinan manusia yang perlu terus di evaluasi dan di revisi, bikinan manusia bisa salah dan tidak bisa main pukul rata ke semua daerah. Karena setiap daerah punya latar belakang perjuangan yang berbeda-beda.

Awal kematian PII yang diramalkan paling bisa bertahan pada tahun 2015 setidaknya bisa kita patahkan, yang namanya makluk pasti mati tapi harusnya mati yang khusnul khatimah. KB yang baru belum siap menggantikan KB yang lama. Andai saja saat ini PII Aceh punya 100 instruktur tentu tidak demikian jadinya. Mau bagaimana lagi, wadah pencarian instruktur berbakat di arena LBT malah jadi ajang malpraktek para instruktur baru.

Kini saya menunggu Imam Mahdi PII, entah kapan dia turun, ataukah dia sudah turun. Masih banyak agenda PII, zaman yang semakin modern PII harus bisa berdaptasi jika tak ingin kehadirannya ditolak zaman.

Solusi tidak selalu harus berasal dari orang Suci

PERLUKAH MENDIRIKAN SMA PII?

Posted by mtqudin On September - 9 - 2009

Beberapa malam yang lalu saya berdiskusi dengan seorang Dinda PW PII Sumsel. Saya menawarkan ide untuk mendirikan SMA PII dengan pertimbangan sbb :

1. Pengkaderan PII sudah semakin lemah.
2. Banyak ‘pesaing’ dalam menggarap kelompok Pelajar Islam.

Dari pada harus membagi energi untuk mengelola beberapa kepengurusan komisariat, lebih baik dibuat satu SMA khusus yang saya sebut SMA PII. Walaupun namanya tidak harus SMA PII, tapi setidaknya memiliki karakter sbb:

1. Dikelola secara penuh oleh PII dan atau KB PII
2. Kurikulum Standar Pemerintah. Metode pembelajaran menggunakan sistem interaktif seperti silabus yang selama ini digunakan PII.
3. Tidak ada kepengurusan OSIS, yang ada adalah PD PII/PK PII.
4. Tidak ada MOS/OSPEK/semacamnya. Bagi SIswa Baru Wajib LBT!
5. KEgiatan ekstrakurikuler wajibnya adalah Taklim dan Kursus.
6. Tidak ada Pramuka, yang ada adalah  Brigade PII
7. Kalau perlu sekolahnya GRATOT (Gratis Total).
8. Memanfaat Quantum Learning dan Quantum Teaching.
9. Siswa kelas I wajib LBT, Naik ke kelas II wajib INTRA, naik ke kelas III wajib Advance. Kalau perlu kelas III sudah PI.

Dana awal pendirian cukup kecil, karena hanya menyiapkan untuk calon Siswa Kelas I dulu. Selanjutnya silahkan gunakan ilmu fundraising untuk mendapatkan Gedung/Fasilitas yang lebih layak.

Dengan cara ini semua siswa POSITIF adalah kader PII dan bisa mengikuti konsep Takdib secara penuh!

Ayo, siapa yang setuju? Beri pendapatmu di sini atau pengguna facebook dapat join di http://www.facebook.com/group.php?gid=115848614910

Pelajar Islam Indonesia

Posted by Fery Ramadhansyah On September - 9 - 2009

Pelajar Islam Indonesia , kalimat ini adalah satu kesatuan kata yang cukup komplit mencakup nama, kepribadian dan orientasi diri untuk setiap penuntut ilmu. Setiap orang hakikatnya adalah pelajar. Bagaimanapun proses pembelajaran yang ditempuh untuk memperoleh ilmu pengetahuan tersebut, dia dinamakan sebagai pelajar. Dan pelajar itu adalah kita semua. Karena belajar, merupakan tuntutan hidup mulai dari buaian sampai ke liang lahad. Sepanjang napas dikandung badan, sebelum nyawa berada di krongkongan dan selama seseorang masih dikatakan hidup, maka orang itu masih memangku tugas belajar tersebut.

Dalam prakteknya, belajar ini dibagi menjadi formal, informal dan nonformal. Ketiga pembagian ini memiliki bobot dan tuntutan yang sama. Ketiganya dihukumkan wajib bagi siapa saja, yang hendak meningkatkan kualitas diri dan berakhir pada pengenalan siapa dirinya, dimana ia berada serta siapa Penciptanya. Oleh karena itu, tidak mutlak benar ungkapan “ aku ada karena aku berpikir”. Sebab, dari proses berfikir ini akan melahirkan hal-hal yang bersifat transendental juga. Idealnya, orang yang bermula berfikir tentang siapa dirinya, tentu akan membawanya untuk berfikir, bagaimana asal muasalnya, dan untuk apa keberadaanya. Sehingga, muncul pertanyaan susulan, Siapa yang menciptakannya. Kalau dalam pembahasan filsafat, ini disebut ontologi, epistimologi dan aksiologi. Maka pantas, bagi kalangan sufi menyebutkan ; man arrafa nafsah faqad arafa rabbah, bahwa dalam rangka mengenal tuhan dibutuhkan proses identifikasi diri.

Kembali pada klasifikasi belajar. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa belajar itu secara garis besar dibagi dua; Formal dan nonformal. Yang jelas, belajar formal ini adalah proses belajar yang diperoleh di bangku sekolah dan kuliah. Semua proses pembelajaran yang sifatnya formal, mulai dari dasar, menegah, atas, hinggga ke perguruan tinggi, maka ini disebut belajar formal. Karena memang, pada akhir jenjang di setiap tingkat, ada ijazah atau sertifikat yang dikeluarkan sebagai pernyataan bahwa orang yang bersangkutan telah selesai. Dan biasanya, surat keterangan itu memiliki akses nasional bahkan internasioanal.

Berbeda mungkin dengan pendidikan nonformal, proses transformasi pengetahuan yang berlangsung bukan di bangku-bangku sekolah atau kuliah, meletakkannya sebagai tempat pembelajaran yang sifatnya suplemen. Tuntutannya hanya sebatas anjuran bukan kewajiban. Karena penguasaan ilmu tersebut hanya bersifat dukungan. Pembelajaran inilah yang kemudian banyak ditemukan di tempat-tempat kursus.

Kemudian, untuk pendidikan yang sifatnya informal, adalah proses-proses pembelajaran yang dieperolah seseorang melalui hasil interaksinya dengan masyarakat. Atau, proses-proses transformasi ilmu yang diperolah dari lembaga-lembaga kajian baik dari organisasi ataupun lainnya. Dan untuk hal ini, berawal dari sebuah masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga, seseorang sebenarnya telah melakukan pembelajaran. Pola interaksi anggota keluarga inilah yang menjadi basis bagaimana seorang anak sebagai murid belajar etika dari orang tua sebagai gurunya.

Dari ketiga pengelompokkan proses belajar di atas, adalah yang menjadi sorotan utama untuk penamaan belajar tertumpu pada belajar yang sifatnya formal. Belajar formal inilah yang kemudian memfokuskan diri untuk proses transformasi ilmu yang dikategorikan tuntutan. Artinya, tanpa harus memandang belajar informal dan nonformal itu, tidak dituntut, belajar formal itu dianggap lebih prioritas bagi setiap orang. Benar memang, bahwa tuntutan belajar itu adalah untuk segala bentuk pembelajaran. Namun dalam kesempatan ini, kita akan mencoba melihata lebih dalam bagaimana karakteristik pelajar sejati dia bangku pendidika formal.

Sejatinya seorang muslim, apa pun tindakannya haruslah searah dengan apa yang digariskan oleh agama Islam. Hal inilah yang kemudian timbul jadi pertanyaan, apakah kita yang sedang belajar di pendidikan formal sudah terpatri jiwa keislaman yang kokoh, sehingga cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan tidak lagi membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Bagaimana mungkin seorang muslim yang tengah mendalami ilmu-ilmu agama, lantas dia alergi mendengar ilmu-ilmu non agama. Atau sebaliknya, seorang muslim yang belajar ilmu-ilmu non agama, jadi buta sama sekali dengan pengetahuan agama. Penyekatan inilah yang membuat kebanyakan muslim menjadi orang yang setengah-setengah. Ibarat bertepuk sebelah tangan, maka tak kan ada irama yang indah bisa diperdengarkan. Wal hasil kesempurnaan pendidikan pun jauh dari harapan.

Satu hal yang cukup sulit mungkin, mengharapkan muncul sosok muslim yang paham di bidang keagamaan di satu sisi, namun ia juga pakar di bidang umum di sisi lain. Tapi memang ini adalah sebuah keharusan. Kalaupun Imam Ghazali membagi ilmu pada fardhu ain untuk ilmu agama, dan fardhu kifayah untuk ilmu umum, bukan berarti bahwa penuntut ilmu agama bisa berlaku cuek pada materi-materi yang sifatnya umum. bukankah penguasaan ilmu dibutuhkan bagi siapa saja yang mengingin kan kebaikan dunia dan akhirat. Sampai-sampai derajat orang yang berilmu itu lebih tinggi dari ahli ibadah. Ini menandakan, ilmu agama adalah kewajiban dan ilmu umum adalah keharusan. Artinya, untuk menuju pribadi muslim yang kaffah dia harus bisa menggabungkan keduanya.

Agama merupakan spirit yang melapisi semua lini kehidupan. Kehadirannya tidak bisa dilepas dari aktivitas hidup yang ada. Oleh karenanya, penguasaan di bidang agama ini, justru menuntut penguasaan pengetahuan yang berhubungan dan agama dan kehidupan itu sendiri. Pendeknya, kalau agama menggolongkan hidup, ada yang di dunia dan ada yang di akhirat, maka penguasaan ilmu agama, yang sifatnya keduniaan haruslah berlaku seoptimal mungkin. Karena agama muncul sebagai pengatur hubungan antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat dan individu dengan Tuhan.

Lalu bagi seorang muslim yang tengah mendalami pengetahuan-pengetahuan umum, semestinya tidak lupa di mana tempat berpijak dirinya. Tidak mudah menjadi seorang yang pakar di bidang umum, namun paham juga tentang agama. Tapi, lagi-lagi ini adalah keharusan. Sebab, agama adalah identitas kepribadian seseorang. Karena agama adalah sumber segala inspirasi bagi tiap sesuatu.

Tentu, dalam prakteknya akan berbeda, orang yang berfikir dengan tolok ukur agama dengan yang berfikir tanpa agama. Begitu juga, tidak sama buah fikir orang yang memiliki latar belakang agama yang berbeda. Orang yang yang berfikir non agama akan cenderung atheis dan mendewakan rasionalitas. Begitu juga orang yang berfikir dengan krangka agama tertentu, maka pasti menghasilkan buah fikir yang sejalan dengan norma-norma yang berlaku pada agama tersebut. Sehingga ilmu yang dihasilkan adalah sejalan dengan apa yang digariskan agama.

Terakhir, dalam apa yang disebut tujuan. Segala tindak tanduk seseorang di dasari dengan sebuah orientasi yang ingin di peroleh. Seseorang yang melakukan sesuatu tanpa didasari oleh tujuan yang jelas maka cenderung prosesnya lambat dan tidak teraatur. Bukan hanya itu saja, bahkan tanpa arah yang jelas maka bisa-bisa akan berakhir sia-sia. Oleh karenanya, dalam agama orientasi ini disebut dengan niat.

Kaitannya dengan status sebgai pelajar berjiwa islam yang kuat, maka hal yang paling tepat adalah bagaimana memberdayakan ilmu yang diperoleh bisa berguna bagi masyarakat. Dan dalam hal ini, pelajar islam di tanah air kita sejatinya, adalah orang-orang yang dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, bisa di dayagunakan untuk kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia . Dengan demikian, maka jadilah ia orang terbaik sebagaiamana yang disabdakan rasul; “Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang banyak”

Tinggalkan Nafsu Berebut Rezeki!

Posted by admin On Juli - 25 - 2009

Jumat, 24 Juli 2009 | 09:14 WIB

Oleh: ST SULARTO

KOMPAS.com — Kebijakan sekolah gratis ibarat menu cuci mulut sehabis menu utama sekian kebijakan yang serba kontroversial. Iklan sekolah gratis yang menggebu-gebu ditayangkan dengan jargon ”orangtua jadi loper koran anak jadi wartawan” dan ”anak sopir angkot dapat jadi pilot” justru membingungkan masyarakat. Iklan boong-boongan!

Rupanya ada perbedaan konsep antara pemerintah dan masyarakat. Menurut pemerintah, sekolah gratis artinya murid tidak dipungut sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Menurut masyarakat artinya gratis beneran, cuma-cuma, tak usah bayar.

Untuk sekolah negeri, pemerintah menutup SPP lewat bantuan operasional sekolah (BOS). Siswa, murid, peserta didik memang tak dipungut SPP, tetapi diminta membayar uang kalau mau memperoleh fasilitas dan praksis pendidikan lebih baik. Alasannya, jumlah nominal BOS minim.

Mana yang gratis? Gratis, kok, bayar! Ya bingung! Tentu lain cerita sekolah swasta, karena hidup-matinya tidak tergantung BOS.

Kebijakan buku sekolah ibarat kopi panas atau teh panas sebelum jamuan makan berakhir. Kebijakan terakhir, ditabalkan lewat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 2 Tahun 2008 mengenai buku elektronik, sebenarnya merupakan salah satu episode kebijakan buku sekolah selama ini.

Dalam hal buku sekolah, terbentang beragam keputusan dan kebijakan, sistem dan pelaksanaan, mulai dari sekolah dipersilakan menentukan sendiri buku pendamping sementara buku wajib disediakan (diterbitkan) oleh pemerintah (Balai Pustaka), hingga yang terakhir demi ketersediaan buku dengan harga murah, diberlakukan kebijakan buku elektronik yang diawali dengan Permendiknas No 11/2005 mengenai masa berlaku buku sekolah lima tahun, dilanjutkan pembelian hak cipta oleh pemerintah.

Alih-alih mengaitkan kurikulum atau penulis buku, akar masalah buku sekolah adalah rebutan rezeki. Bagi penerbit, ikut serta dalam penerbitan buku sekolah adalah rezeki besar untuk menutup kecilnya pemasukan dari penerbitan buku yang kurang laku di pasaran. Di kalangan penerbit, berlaku pula kebijakan biaya silang, bagian dari kiat menyelenggarakan paduan usaha idealisme dan bisnis.

Buku elektronik, kebijakan terakhir mengatasi buku sekolah, dikonsep untuk mengatasi keluhan orangtua. Pemerintah membeli hak cipta sejumlah naskah buku berdasar hasil penilaian Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Buku yang disetujui kemudian diunggah dan masyarakat bisa mengunduhnya dari internet. Maksud kebijakan itu baik: harga buku murah, orangtua tidak usah repot setiap awal tahun ajaran.

Kebijakan Gagal
Rupanya tak disadari, Indonesia bukanlah Jakarta. Di daerah-daerah terpencil, terutama di luar Jawa, banyak yang belum bisa mengunduh bahan dari internet. Alih-alih luar Jawa, bahkan di sekitar Jakarta ada yang tak bisa mengunduh.

Dalam hal ini, pemerintah bukannya tidak cerdas. Penerbit dipersilakan mengunduh, mencetak, dan menjual sesuai ketentuan harga patokan tertinggi. Penerbit sekaligus pencetak, yang kemudian disusul orang berinisiatif melakukan hal sama, termasuk guru, terakhir demi anak didik.

Lain kebijakan lain pula pelaksanaan. Tidak hanya sulit diunduh, bahan buku yang diunggah pun belum lengkap. Belum semua buku mata pelajaran sudah diunggah oleh BSNP, padahal tahun ajaran sudah mulai. Keadaan ini membuat maksud membuat harga murah tidak terjadi. Harga buku jadi mahal (kembali). Orangtua dipaksa membeli karena didesak kebutuhan, karena buku adalah syarat integral praksis pendidikan.

Kebijakan buku murah pun gagal. Kopi penutup jamuan makan pun terasa pahit. Namun, tidak kalah sigap, birokrasi penanggung jawab perbukuan pun mengelak. Jangan hanya dilihat kegagalan sekarang, tetapi lihatlah nanti. Sebab, dampak positif ini baru akan kelihatan beberapa tahun ke depan.

Panorama selintas sejarah perbukuan sekolah hanyalah puncak dari sekian kegagalan kebijakan. Barangkali kesalahan tidak harus ditimpakan kepada departemen diknas yang eksis sekarang, tetapi kegagalan dari bercokolnya semangat ”membisniskan” praksis pendidikan, lebih jauh lagi membisniskan anak didik.

Telanjur semua dikalkulasi dengan uang, tak satu pun kebijakan berpihak kepada yang tidak beruang atau kurang beruang. Pendidikan gratis hanya riil dalam iklan, tetapi tidak riil di lapangan. Lebih jauh lagi, meskipun sektor lain bisa tertangani dengan baik, selama masalah buku sekolah tetap amburadul, selama itu sah-sah saja cap komersialisasi pendidikan.

Benahi Bersama
Eksistensi buku dalam praksis pendidikan sejajar dengan faktor guru dan kurikulum. Buku memang hanya salah satu subfaktor sarana, tetapi dibandingkan dengan sarana lain, seperti alat peraga dan gedung berikut perangkatnya, kehadiran buku tak sekadar menyediakan, tidak sekadar bisa membeli dengan adanya dana, tetapi bagian utuh dari terselenggaranya praksis pendidikan yang seharusnya.

Buku sekolah terkait dengan kurikulum, terkait dengan penulis, terkait dengan penerbit, dan guru. Buku sekolah sebagai pelengkap dan penunjang silabus yang diturunkan dari kurikulum hakikatnya bagian utuh dari kurikulum. Ketersediaan buku tak bisa diatasi dengan kebijakan coba-coba, apalagi amatiran.

Oleh Cardiyan HIS

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ….! Inilah musuh yang sebenarnya.  Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor.

Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma†Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.

Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri.

Indonesia dengan demikian akan masuk member “Asian Satellite Club” bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.  Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer

Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho†kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma†Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer  disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work.  Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

(sumber : http://politikana.com/baca/2009/07/21/roket-rx-420-cn-235-militer-getarkan-australia-singapura-dan-malaysia-oleh-cardiyan-his.html)

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook
    close
    Jangan lupa kunjungi Komunitas PII Cyber disini