.

     

WARNA – WARNI PII

Posted by ahmad_yanis1989 On Oktober - 4 - 2009

Warna-warni itu identik dengan keindahan, warna-warni yang menyusun pelangi hingga menjadi laskar pelangi. Saat salah satu warnanya hilang, maka ada bagian indah yang hilang. Saat warna tertentu tidak lagi menjadi bagian, saat itu pula terjadi pengebirian terhadap warna. Hanya boleh ada 1 warna, tidak boleh ada yang lain.

Padahal dulu PII terkenal karena keberagamannya, minim primordialisme, minim sektarianisme, apalagi sukuisme. Siapapun boleh menjadi ketua umum PII, tidak mesti Jawa, Sulawesi, Sumatera sekalipun pernah menjadi ketua PII. Tidak ada mayoritas karena minoritaspun tetap punya kesempatan asalkan dia mau dan mampu.

Aceh salah satunya, PW PII Aceh pernah menerima Eks Ketua Umum Sumatera Utara menjadi Sekretaris Umum PW Aceh, bahkan di Aceh Utara pernah kader PII Sumatera Barat menadi Ketua Umum PD, begitu pula halnya saat kader PII Aceh menjadi Ketua Umum di PW Sumatera Utara. PII menjadi organisasi yang sejuk untuk berbagai latar belakang Madzhab, Suku, Ras, dan berbagai golongan dengan satu persamaan yaitu Pelajar Muslim. Sikap inklusivisme ini ditenggarai sebagai salah satu faktor yang menempatkan PII sebagai organisasi pelajar Islam terbesar saat itu. Namun kini, apa lacur, PII Aceh yang termasuk salah satu PW terkuat dalam hal kuantitas kader kini telah kehilangan jati diri, kehilangan ghirah barangkali juga gairah.

Sebuah apologi bahwa krisis kader disebabkan tsunami sangat tidak tepat karena realitanya malah Instruktur PII diselamatkan Allah dengan event Samwil.

Krisis kader baik secara kuantitas maupun kualitas diawali dengan dibubarkanya PDPT yang merupakan lumbung instruktur berkualitas PII. Kita harus mau jujur bahwa SDM instruktur dari PDPT lebih baik dari Instruktur yang masih sekolah. Selain kematangan diri, kharakterpun lebih kuat dalam rangka transfer ilmu saat training. Dibubarkannya PDPT lebih dikarenakan hal politis, hal ini dikarenakan hanya PDPT yang mampu bersikap kritis terhadap PW. Fitnah yang benar dan fitnah yang salah alamat merebak tanpa bisa dikendalikan.

Persaingan antara PD dalam perebutan kekuasaan wilayah telah melalaikan PII Aceh dan keluar dari rel yang seharusnya yaitu jalur kaderisasi akhirnya tersendat. Mulai dari pencekalan instruktur oleh PW yang mayoritas diduduki dari Kaum Pidie, Kaum Aceh Besar sebagai oposan, Kaum Bireuen yang oportunis serta Kaum Aceh Utara yang kritis membawa PII ke jurang perpecahan. Dapat dimaklumi jika kompetisi adalah hal yang lumrah jika dilakukan secara sehat. Namun sebaliknya jika sampai terjadi gontok-gontokan seperti yang pernah terekam dalam benak penulis saat Konwil Sigli tahun 2004 dimana sedikitnya 8 PD yang Walkout. Konwil Bireuen yang cukup alot karena Eks PDPT dibonceng Aceh Besar. Dan Konwil Langsa (Konwil tersepi dalam sejarah PII Aceh, mungkin) yang menjadi boomerang terhadap Badan Otonom Brigade yang bersikap tidak netral dengan mendukung salah satu kandidat dengan intimidasi terhadap peserta konferensi.

Ayolah kita jujur pada diri kita sendiri, hilangkan sikap anak-anak. Berfikirlah dewasa, jangan merasa diri paling benar kalau tidak kita telah merasa lebih hebat dari para Imam Madzhab yang mengaku tetap memiliki kekurangan. Hilangkan sikap ego dan belajar mendengarkan pendapat orang lain. Saling merangkul demi kemajuan PII, itupun jika kita yakin bahwa PII ini merupakan institusi yang bisa mengantarkan kita ke Surga.

Hilangkan sikap saling curiga, jadilah penguasa bijak. Tempatkan seseorang pada keahliannya kalau tidak kita akan celaka. Yang sangat urgen untuk dibenahi adalah instruktur. Berapa banyak sudah training yang digelar, berapa persentase kader yang aktif, bahkan ada yang nihil (aceh utara, ramadhan 2006 dan ramadhan 2007). Setiap daerah punya ciri khas masing-masing dan itu harus dihargai. Kearifan lokal kata orang, jangan jadi munafiq saat kita menuntut dibatalkan UN berstandar nasional tapi kenapa saat Ta`dib berstandar nasional kita tidak menuntut digagalkan. Ta`dib itu bikinan manusia yang perlu terus di evaluasi dan di revisi, bikinan manusia bisa salah dan tidak bisa main pukul rata ke semua daerah. Karena setiap daerah punya latar belakang perjuangan yang berbeda-beda.

Awal kematian PII yang diramalkan paling bisa bertahan pada tahun 2015 setidaknya bisa kita patahkan, yang namanya makluk pasti mati tapi harusnya mati yang khusnul khatimah. KB yang baru belum siap menggantikan KB yang lama. Andai saja saat ini PII Aceh punya 100 instruktur tentu tidak demikian jadinya. Mau bagaimana lagi, wadah pencarian instruktur berbakat di arena LBT malah jadi ajang malpraktek para instruktur baru.

Kini saya menunggu Imam Mahdi PII, entah kapan dia turun, ataukah dia sudah turun. Masih banyak agenda PII, zaman yang semakin modern PII harus bisa berdaptasi jika tak ingin kehadirannya ditolak zaman.

Solusi tidak selalu harus berasal dari orang Suci

6 Responses to “WARNA – WARNI PII”

  1. zul hsb mengatakan:

    sangat menarik sekali tulisan anda, kebetulan saya anak sumutyang sedikit banyak atau barangkali sedikit terlibat dari yang anda ceritakan.PII adalah sebuah lembaga yang dibuat untuk kemaslahatan Pelajar ( umat ). realita yang kita lihat adalah PII adalah lembaga yang kini sangat eksklusif, tidak mau menerima kebenaran dari yang lain, saya sepakat bahwa Instruktur sekarang itu menjadikan LBT menjadi ajang Mallpraktek mereka, tapi itu juga adalah Proses mereka untuk semakin mengupgrade kemampuan mereka, tapi pada intinya ke’arifan lokal itu adalah produk lokal yang hanya orang lokal yang mengetahui,biarkan orang lokal yang berijtihad untuk itu karena Ta’dib juga membutuhkan intrepretasi dan juga sebuah proses ijtihad

  2. Bayaong_samarina mengatakan:

    pembentukan kembali PDPT dalam skala nasional sekiranya itu dapat menumbuhkan wacana intelektual yang lebih uas dikalangan kader.
    sayang kalau PDPT mengalami posisi yang sedemikian sulit untuk bertahan,karena tidak memiliki jaminan atau peraturan kuat yang mengatur

    saya sepakat untuk kembali dikukuhkannya PDPT disetiap perguruan tinggi,capek dengan nuansa yang terkeksan statis dan stagnan,sekali-kali berganti nuansa yang lebih intelektual,yang berani memberikan kritikan konstruktif…..

    Imam Mahdi (PII) pun syaratnya saya rasa musti memiliki nilai ini……

  3. usman sumut mengatakan:

    sebuah tulisan yang penuh dengan realitas kehidupan PII saat ini. kita terkedan menjadikan ta’dib sebagai kitab suci….tapi akhirnya ternyata keberadaannya tidak universal yang dapat menyesuaikan diri pada setiap kondisi dan situasi….coba baca kembali sejarah terlehirnya ta’dib dimana kelahirannya banyak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi pulau jawa,,,,,,bagaimana dengan sumatera? apakah sama kondisinya…..kajian ta’dib yang sudah berulang kali dilakukan tidak juga memberikan hasil…
    bagaimana PII dimasa depan….kita yang harus berfikir.

  4. zida mengatakan:

    warna warni janganlah menjadi bomerang untuk menjadi kader yang GJ, tetapi rumusan menghadapi perbedaan itulah yang harus dikaji…THE LIVING BRIDGE!!menjadi kader yang dapat berfikir rasional dan lebih mengedepankan kepentingan umat dan singgirkan politik2 kiri!!

  5. Amrizal mengatakan:

    tulisan yang bagus dari sahabat. mohon menjadi periksa bagi kita semua.

  6. ahmad yanis mengatakan:

    ha..ha.. kanda amrizal ni suka sekali memuji diri sendiri…. ayo kita cari solusi..

Leave a Reply

KIRIM SMS GRATIS

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook