.

     

Archive for Desember, 2009

PERNYATAAN SIKAP
PENGURUS BESAR PELAJAR ISLAM INDONESIA
TENTANG
PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG YANG MENOLAK KASASI PEMERINTAH TENTANG GUGATAN UJIAN NASIONAL

Pada tanggal 21 Mei 2007 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutuskan perkara gugatan Citizen law Suit tentang Ujian Nasional Nomor 228/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST. Dalam putusan tersebut hakim mengadili dalam pokok perkara :

  1. Mengabulkan gugatan Subsidair Para Penggugat;
  2. Menyatakan bahwa para tergugat, Presiden RI, Wakil Presiden RI, Menteri Pendidikan Nasional dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan telah lalai dalam memberikan pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia terhadap warga negaranya yang menjadi korban Ujian Nasional (UN), khususnya pada hak atas pendidikan dan hak-hak anak;
  3. Memerintahkan kepada Para Tergugat untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, sebelum mengeluarkan kebijakan Pelaksanaan Ujian Nasional lebih lanjut;
  4. Memerintahkan kepada Para Tergugat untuk mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi gangguan psikologis dan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan Ujian Nasional;
  5. Memerintahkan kepada Para Tergugat untuk meninjau kembali Sistem Pendidikan Nasional;
  6. Menghukum Para Tergugat untuk membayar biaya perkara yang hingga kini berjumlah Rp. 374.000,- (Tiga ratus tujuh puluh empat ribu rupiah

Atas putusan PN Jakpus tersebut Para Tergugat mengajukan Banding. Pada tanggal 6 Desember 2007 Pengadilan Tingi Jakarta melalui Putusan Nomor : 377/PDT/2007/PT.DKI. menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Atas putusan Pengadilan Tinggi Jakarta para Tergugat mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung. Dan pada tanggal 14 September 2009 melalui putusan nomor 2596K/PDT/2009 MA MENOLAK kasasi pemerintah.

Terkait dengan Putusan Pengadilan Jakarta Pusat yang diperkuat dengan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta dan Putusan Mahkamah Agung RI ditambah dengan sejumlah pendapat para pakar pendidikan, praktisi pendidikan dan masyarakat yang menilai bahwa Ujian Nasional secara yuridis tidak sesuai dengan UU Sisdiknas, bertentangan dengan prinsip pedagogis, tidak sejalan dengan prinsip-prinsip penilaian kegiatan pembelajaran, pemborosan dana negara dan melanggar hak-hak anak maka dengan ini Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia menyampaikan sikap :

  1. Bahwa kelalaian yang dilakukan oleh Presiden RI, Wakil Presiden RI, Menteri Pendidikan Nasional dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan dalam memberikan pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia terhadap warga negaranya yang menjadi korban Ujian Nasional (UN), khususnya pada hak atas pendidikan dan hak-hak anak sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah bentuk perbuatan melawan hukum;
  2. Bahwa sebuah kebijakan pemerintah yang mengandung perbuatan melawan hukum apalagi dalam bentuk pelalaian terhadap pemenuhan HAM, khususnya hak atas pendidikan dan HAK ANAK sudah semestinya DILARANG, atau setidak-tidaknya DITUNDA sampai terpenuhinya peningkatan kualitas guru, sarana prasarana dan akses informasi SECARA LENGKAP di SELURUH DAERAH DI INDONESIA, atau sekurang-kurangnya dilaksanakan tetapi tidak dijadikan sebagai syarat kelulusan;
  3. Jika Menteri Pendidikan Nasional RI memaksakan kehendaknya untuk tetap menyelenggarakan Ujian Nasional maka tindakan tersebut jelas-jelas menunjukkan ketidak patuhan pejabat negara terhadap putusan hukum dan akan membangun citra buruk pada program seratus hari Presiden Republik Indonesia. Oleh karena itu sudah semestinya Presiden RI menegur keras Menteri Pendidikan Nasional dan memerintahkan untuk merombak kebijakan UN;
  4. Atas nama perintah Pengadilan terhadap Presiden Republik Indonesia untuk meninjau kembali sistem pendidikan nasional maka Presiden RI sudah semestinya melakukan revisi Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dengan menghapus pasal yang menyebutkan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan (Pasal 72 PPSNP);
  5. Mendesak Presiden RI untuk mematuhi keputusan hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diperkuat dengan putusan Pendalian Tinggi Jakarta dan putusan Mahkamah Agung RI.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan.

Jakarta, 14 Muharam 1431  H
21 Desember 2009 M

PENGURUS BESAR
PELAJAR ISLAM INDONESIA
PERIODE 2008-2010

ttd

NASRULLAH AL-GIFARI       JOJON NOVANDRI
Ketua Umum                               Sekretaris Umum

10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru

Posted by admin On Desember - 30 - 2009

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar

penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.

Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti

Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram

Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.

Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:

  1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
  2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
  3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.

Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:

  1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
  2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-

Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.

Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir

Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.

Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).

Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]

Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru

Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.

Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”

Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud lantas berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).

Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]

Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu

Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat

Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!

Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina

Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]

Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin

Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]

Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!

Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan

Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]

Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga

Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]

Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.

Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]

Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id


[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.

Pengaduan Pelajar ke Komnas HAM tentang UN

Posted by jay On Desember - 20 - 2009

Pada tanggal 21 Des 09, PB PII, LBH Jkt, BEM UI, dan elemen lainnya akan mengadakan “pengaduan” ke Komnas HAM tentang pelanggaran HAM oleh pemerintah terkait dilaksanakannya UN. Gerakan ini merupakan sebagian dari gerakan yang telah dan akan dilakukan oleh PB PII bersama elemen lainnya untuk menolak dijadikannya UN sebagai penentu kelulusan.

Hasil putusan MA menyatakan bahwa pelaksanaan UN sarat dengan pelanggaran HAM. Hanya saja Negara tidak mau mengakui kelemahan akan kelalaiannya terkait sistem evaluasi pendidikan nasional ini. Untuk itu, agar gerakan ini semakin menguat dan berbasis maka dipandang perlu mendapat dukungan dari Komnas HAM. Letupan kecil unjuk rasa (pengaduan) ini akan diikuti sekitar 60 orang.

Sementara itu, juga akan dilakukan aksi menentang UN oleh PB PII yang tergabung dalam Poros Pelajar pada tanggal 24 Desember 2009. Untuk itu, PB PII juga mengharapkan kepada seluruh kader PII dimanapun berada supaya melakukan aksi yang sama demi kepentingan pelajar..

Kajian Islam Terbuka (KIAT) PII Indramayu

Posted by admin On Desember - 20 - 2009

Pada liburan sekolah nanti di Indramayu akan diadakan kegiatan Kajian Islam Terpadu yang disingkat dengan KIAT, kegiatan ini akan mempelajari Islam di alam terbuka sehingga belajar mengenal alam dan ciptaan-Nya selama 3 hari.

insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 25 - 27 Desember 2009 di Bumi Perkemahan Capulaga, Subang - Jawa Barat, untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi Ramdhan 085659850862 atau Dhody 081932851857.

Asyik nih liburan jalan-jalan yang membawa berkah (insya Allah), ayo pada ikutan yuk!!!

Persyaratan Peserta LBTD Gabungan DKI Jakarta dan Jabar

Posted by admin On Desember - 19 - 2009

LAT-GAB (LATIHAN GABUNGAN)
LATIHAN BRIGADE TINGKAT DASAR (LBTD)
KORWIL JAKARTA DAN KORWIL JAWA BARAT
26 Desember 2009 s/d 02 Januari 2010 di Gng.Sawal – Ciamis - Jawa Barat

Persyaratan administrasi
1.    Kader PII yang telah mengikuti  Basic training (LBT)
2.    Membawa surat mandat delegasi dari PD/Korda/Korwil
3.    Menyerahkan fotocopy KTP /Kartu Pelajar
4.    Membayar infaq 50.000/orang

Persyaratan pribadi yang perlu dibawa
1.    Pakaian ganti (2 baju lapangan= 1 berwarna dasar hitam dan 1 berwana dasar putih,) dan 1 pakaian Rapih
2.    Gula Merah, Kacang Ijo dan Garam
3.    Al-Quran terjemah dan alat tulis
4.    5 Bh mie dan 2 bh sarden
5.    Beras 1 liter
6.    lilin, korek api dan senter
7.    Jas hujan/ponco
8.    Matras
9.    Peralatan makan
10.    Sangkur/pisau
11.    Tali plastik/tambang
12.    Membawa obat-obatan pribadi bagi yang mempunyai penyakit khusus
13.    membawa tenda bagi yang membawa delegasi lebih dari 5 orang
14.    Siap mental,fisik dan spritual mengikuti LBTD

Pendaftaran via SMS:  ketik LBTD/NAMA LENGKAP/USIA/ASAL PD,KORDA atau KORWIL  Kirim ke 0899933139 atau 081910010133

Informasi keikutsertaan Hubungi Korwilnya masing-masing:
Korwil Jakarta : 08999331391 (Fasya)
Korwil Jabar        :081910010133 (Dendi)

Pemberangkatan Peserta dari Jakarta yaitu pada Hari Jumat, tanggal 25 Desember 2009 Kumpul di  Menteng Raya 58

Tuhan Sekolah!

Posted by admin On Desember - 15 - 2009

Saya mencoba memahami…

mengapakah sampai terjadi..
siswa bunuh diri..
siswa marah bakar sekolah
siswa stress pingsan tak sadar diri
siswa brutal melampiaskan hasrat diri..

tidak salah kalau Neil Postman mengatakan,
sekarang kita punya Tuhan banyak..
Tuhan konsumerisme, Tuhan tayangan TV,
Tuhan pekerjaan, Tuhan Uang, Tuhan Jabatan,dan masih banyak Tuhan-Tuhan yang lain..
Dan ini yang ditakutkan oleh Nabi Ibrahim…
yang beliau mohon diselamatkan Allah dari BERHALA-BERHALA…

Engkau mungkin menolak dengan tegas jika apa yang kutulis diatas dikatakan Tuhan…
Meski kenyataan yang engkau lakukan,
bagaimana engkau bersikap terhadap mereka,
bagaimana engkau memperlakukan mereka,
dan bagaimana mereka mengisi seluruh relung hatimu,
bagaimana mereka memenuhi ruang kosong dalam hatimu
telah meng iyakan bahwa mereka adalah Tuhanmu…

Dan ketika sekolah menjadi fokus..
seolah tak ada lain yang bagus..
seolah ditangan sekolahlah hidup kita akan menjadi lurus

by Ahmad Yanis

JAKARTA (voa-islam.com) - Abdul Wahid Kadungga. Para aktivis Islam sudah tidak asing dengan nama ini. Kadungga juga kesohor di mata musuh-musuh Islam, baik di Indonesia maupun mancanegara.

Kadungga adalah menantu almarhum Kahar Mudzakkar, Panglima Hisbullah Makassar dan pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Semasa hidupnya, Kadungga tercatat sebagai salah seorang pentolah demonstran angkatan ‘66. Ketika memimpin PII, gelombang aksi menentang kekuasaan Soekarno untuk menumbangkan Orde Lama bergolak. Padatnya aktivitas di dunia pergerakan, membuat Kadungga tidak sempat menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Pria asal Masamba, Luwu Utara ini sempat disebut-sebut sebagai petinggi Jamaah Islamiyah (JI) karena ia dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir saat masih di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1985. Saat itu, Kadungga baru datang dari Belanda sementara Ba’asyir baru melarikan diri dari Indonesia.

Sabtu sore kemarin (12/12/2009) pukul 16.40 WIB, pendiri “Young Muslim in Europe” ini berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Darma Nugraha, Rawamangun, Jakarta Timur. Innalillahi wainna ilaihi roji’un…

Nama Kadungga begitu akrab bagi media antiislam, sehingga ia sering jadi target pembentukan opini. Sebut saja Sydney Morning Herald. Harian terkemuka di Australia ini Kadungga sebagai sosok yang misterius bahkan punya hubungan langsung dengan Usmah bin Ladin. “Ia tinggal di Belanda, tapi bisa dengan mudah berbicara via telepon dengan petinggi PAS (Partai Agama Se-Malaysia) di Malaysia. Tak lama kemudian, ia bisa berbicara langsung dengan Usamah bin Ladin yang berada di pedalaman Afghanistan,’ tulis Sydney Morning Herald.

…harian terkemuka di Australia menyebut Kadungga sebagai sosok yang misterius bahkan punya hubungan langsung dengan Usmah bin Ladin, yang bisa dengan mudah berbicara via telepon dengan petinggi PAS di Malaysia…

Beda lagi komentar International Crisis Center (ICG) lewat mulut koordinatornya, Sidney Jones. Lembaga yang berbasis di Brussel ini menuding profil yang satu ini sebagai penghubung internasional Jamaah Islamiyah. Lembaga yang disebut-sebut banyak pihak sebagai kepanjangan tangan intelijen ini mencatat namanya dibanyak medan konflik di seluruh dunia.

“Dia ada di Chechnya, Dagestan, Bosnia, Afghanistan, Indonesia….” Pendeknya, ia adalah orang penting dalam hubungan antargerakan Islam radikal di seluruh dunia, kira-kira begitu yang hendak disimpulkan oleh ICG.

Tapi ustadz yang ramah dan murah senyum ini tak menolak apapun yang dikatakan oleh Sidney Jones. “Dalam arti yang positif saya memang penghubung gerakan dakwah internasional. Saya bergerak dalam kebaikan, insya Allah. Tidak ada teror, tidak ada bom dan tidak pula kekerasan,” ungkapnya.

Meski darah biru sultan-sultan Bugis mengalir dalam tubuhnya, tapi ia terpaksa mengantongi kewarganegaraan Belanda. Sejarah politik dan kekuatan Orde Baru yang membuatnya memilih jalan pahit itu, meski hati kecilnya tidak mau jadi “Belanda hitam.”

Kadungga menjadi salah satu musuh politik Orde Baru karena perjuangan dan dakwahnya bersama-sama M Natsir dan aktivis Dewan Dakwah lainnya. Ia pernah diinterograsi oleh seorang kolonel, namanya Utomo. Kolonel ini menuding Kadungga dan orang-orang Dewan Dakwah sebagai tokoh dan pemikir negara Islam di Indonesia.

Kadungga menjadi salah satu musuh politik Orde Baru karena perjuangan dan dakwahnya bersama-sama M Natsir…

Ihwal Kadungga aktif dalam dunia dakwah ketika usianya menginjak 13 tahun. Seusai tamat Sekolah Rakyat, orang tuanya mengirim Kadungga ke Makassar untuk bersekolah di Sekolah Menengah Islam. Di sekolah ini ia terkaget-kaget. Belum lagi setahun, ia sudah mengenal Mr Prawoto yang diundang untuk berceramah di sekolahnya. Lalu ada pula Mohamad Roem dan tokoh-tokoh besar zaman itu.

Di sekolah ini pula Kadungga untuk pertama kali berkenalan dengan organisasi yakni Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia aktif berorganisasi dan menarik pelajaran yang luar biasa. Di sekolah ini ia merintis karir organisasinya sebagai Ketua Ranting PII. Setamat dari Sekolah Menengas Islam ia meneruskan pendidikan ke SMEA Negeri Makassar. Sekolah yang dimasukinya ternyata tidak sama dengan sekolah sebelumnya.

Di SMEA Negeri Makassar, organisasi siswa yang berkembang bukanlah PII melainkan Gerakan Siswa Nasionalis Indonesia (GSNI). Karenanya, Kadungga bersama teman-teman berjuang keras untuk mengubah sekolahnya menjadi salah satu motor PII di Makassar, dan akhirnya berhasil. Naiklah Kadungga menjadi Ketua PII di sekolah ini, didaulat teman-teman seangkatannya.

Pada tahun 1962, ia berangkat ke Medan mengikuti Kongres PII, dan kala itu ia sudah menjadi Pimpinan Cabang PII Makassar.

Perkenalannya dengan dakwah dan politik Islam kian kental setelah Kongres PII di Medan. Di PII inilah Kadungga dikader dengan baik. Konstelasi politik yang terus bergerak kala itu membuat PII menjadi salah satu organisasi pemuda yang berperan signifikan. Karena pasca pembubaran diri Masyumi, disusul dengan GPII, lalu HMI melunak sikapnya, maka tinggal PII saja yang terang-terangan menjadi musuh besar PKI.

Sebegai ilustrasi kerasnya konfrontasi PII dan PKI yang dialami Kadungga adalah peristiwa perayaan HUT PKI yang ke-40. PKI membawa bendera, long march dari Bali ke Jakarta. Pada saat yang sama, 4 Mei PII juga berulang tahun. Kota Surabaya menjadi merah saat itu, semua sudut ada tanda PKI. Mereka juga bikin menara dari bambu tinggi sekali dengan gambar palu arit. Tapi malamnya, Kadungga dan kader-kader PII bergerilya membersihkan semua atribut PKI.

Singkat cerita, aktivitas di PII mengantarkannya berkenalan dengan Adam Malik bahkan bekerja sebagai staf ahli di kementerian luar negeri zaman itu. Tapi itu pun tak lama ia jalani. Kadungga memutuskan untuk kembali menuntut ilmu dan Pakistan menjadi negara tujuan. Tapi setelah bermukim beberapa bulan di negera ini, aktivitas belajar belum bisa ia lakukan. Sebab, kondisi politik dalam negeri Pakistan sedang ricuh dan berimbas pada lembaga-lembaga pendidikan.

Mendapat kenyataan seperti itu, Kadungga mengalihkan pandangannya untuk belajar ke Eropa. Kini Belanda menjadi tujuannya. Di Eropa darah mudanya yang meluap membuat ia terus merintis jalan dakwah. Bahkan sampai-sampai, ia berhasil mendirikan gerakan mahasiswa Islam Indonesia yang bersaing ketat dengan organisasi mahasiswa Indonesia di Eropa. Tak hanya itu, ia juga berhasil mendirikan Young Muslim Asociation in Europe sebuah wadah yang menampung pemuda-pemuda Muslim di Eropa.

Setelah malang melintang akhirnya Kadungga kembali ke Indonesia. Saat kembali, salah satu kegiatannya adalah bekerja untuk dakwah di Dewan Dakwah Islam Indonesia. Kadungga yang sempat menjadi sekretaris pribadi M. Natsir ini memang punya sejarah unik. Tak lama ketika di Indonesia, pemerintahan Orde Baru dengan kegiatan intelijennya yang mencengkeram menjadikan Dewan Dakwah sebagai salah satu musuh utama. Kadungga tak luput dari itu semua.

…Dalam penangkapan yang diotaki Ali Moertopo, Kadungga bersama teman-temannya yang lain ditangkap di Bogor. Para aktivis disiksa habis-habisan dalam penangkapan ini…

Menjelang Sidang Umum MPR pada tahun 1974 terjadi penangkapan dan penculikan massal atas aktivis Islam. Menurut Kadungga, otak tragedi ini adalah Ali Moertopo. Kadungga bersama teman-temannya yang lain ditangkap di Bogor. Para aktivis disiksa habis-habisan dalam penangkapan ini. Ada yang disiram air kencing, ada yang dipukuli bahkan sampai ada yang trauma. Untuk menguatkan perjuangan, Kadungga memberikan taushiyah kepada teman-temannya untuk meningkatkan kesabaran dan tawakal, karena Allah selalu bersama mereka.

Waktu berlalu, akhirnya penahanan dilonggarkan. Mereka hanya dikenai tahanan kota dan wajib lapor sepekan sekali. Di saat itulah Kadungga memutuskan untuk berangkat ke Belanda dan mencari suaka politik atas perlakuan Orde Baru terhadap dirinya. Dalam kurun waktu itu pula secara semena-mena pemerintahan Orde Baru mencabut paspornya sebagai bukti warga negara. Padahal pencabutan paspor itu harus melalui pengadilan. Kadungga tidak pernah diadili maupun ditanya, langsung saja dicabut paspornya.

Saat di Eropa untuk kedua kalinya ini, panggilan jihad terdengar dari Afghanistan. Kadungga terhitung orang Indonesia pertama yang datang dari Eropa untuk masuk ke Afghanistan. Di medan jihad itulah Kadungga begitu takjub, berjuang bersama-sama dengan pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia.

…panggilan jihad terdengar dari Afghanistan. Abdul Wahid Kadungga terhitung orang Indonesia pertama yang datang dari Eropa untuk masuk ke Afghanistan. Jejak perjalanannya di Afghanistan itu menjadi ujian baru untuk Kadungga. Ia dituduh terlibat sebagai kaki tangan gerakan al Qaidah…

Jejak-jejak perjalanannya di Afghanistan pula kini menjadi ujian baru untuk Kadungga. Ia dituduh terlibat sebagai kaki tangan gerakan al Qaidah. Ia juga menyandang julukan penghubung internasional Jamaah Islamiyah. Tapi apakah itu semua membuatnya surut dari jalan dakwah?

Tidak. Kadungga begitu yakin atas takdir Allah. “Tidak ada satu daun pun yang jatuh dari pohon tanpa kehendak Allah. Begitu juga dengan diri saya, tidak seorang pun, bahkan Amerika, yang bisa menyentuh kita tanpa takdir Allah,” tegasnya. Karena itu langkah kaki tak bisa mundur meski setapak dari jalan dakwah.

Karena itu pula, Abdul Wahid Kadungga, meski perawakannya kecil, namanya begitu besar sampai-sampai puluhan intelijen dikerahkan saat ia datang dari Malaysia ke Kalimantan. Sampai-sampai, Amerika sendiri merasa harus melekatkan pandangannya terus menerus pada ustadz yang satu ini. Tapi Kadungga mengatakan, ia tidak akan tunduk apalagi menyerah, karena memang ia tak pernah bersalah. “Apalagi yang saya takuti hanya Allah semata,” tandasnya.

Kisah Mujahid Mungil Melawan Raksasa Media

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba raksasa koran Indonesia, Kompas menurunkan berita, Abdul Wahid Kadungga termasuk dalam jajaran teroris pelaku bom Bali I, pada tanggal 23/11/2005. Dalam berita berjudul ”Noordin M Top, Target Utama Penangkapan” yang dilengkapi dengan grafis sebagian pelaku teror bom, nama Abdul Wahid Kadungga tertulis dengan jelas pada sub judul ”Bom Bali 2002” bersama nama-nama Amrozi cs. Sejak itu, nama Kadungga menghiasi media massa nasional maupun internasional selama sepekan hingga tanggal 7 Januari 2005.

Dengan sebutan sebagai pelaku Bom Bali, ia kerap dikejar-kejar oleh Detasemen Antiteror 88. Takutkah Kadungga terhadap raksasa Kompas? Ternyata tidak! Aktivis Islam bertubuh mungil yang dikenal tegas dan keras ini berontak dan melawan. Kadungga berang, karena pencantuman namanya adalah fitnah.

Tidak sedikitpun Kadungga merasa gentar menghadapi Kompas yang merupakan raksasa media di tanah air. “Saya hanya takut kepada Allah. Di depan Allah, Kompas itu kecil,” katanya mengingatkan.

Suatu gejala baru muncul, seorang yang dituduh teroris malah melawan. Selama ini umat Islam terkesan bersikap defensif menghadapi berbagai pemberitaan maupun opini publik yang menyudutkan. Tidak demikian dengan seorang Kadungga.

Selain memberi pelajaran kepada Kompas, Kadungga bermaksud menyadarkan umat Islam bahwa saat ini umat Islam jadi korban fitnah. Dan teror di belakang semua ini adalah Amerika Serikat dan Yahudi, zionis internasional.

Kadungga bermaksud menyadarkan umat Islam bahwa saat ini umat Islam jadi korban fitnah. Dan teror di belakang semua ini adalah Amerika Serikat dan Yahudisekarang adalah era kebangkitan Islam. Ketakutan Amerika dan orang-orang kafir adalah merupakan abad kebangkitan Islam, dan inilah yang ingin mereka redam…

Menurut Kadungga, sekarang adalah era kebangkitan Islam. Ketakutan Amerika dan orang-orang kafir adalah merupakan abad kebangkitan Islam, dan inilah yang ingin mereka redam. Semakin ditindas, maka umat Islam harus semakin bangkit. Umat Islam Indonesia bangkit melawan.

Walhasil, raksasa media yang bernama Kompas pun ketakutan dan buru-buru meralat pemberitaan itu sepekan kemudian, pada edisi 03/12/2005 dengan alasan terdapat kesalahan data yang sangat mengganggu. “…atas kesalahan tersebut, Kompas menyampaikan permohonan maaf,” demikian ralat Kompas.

Meski Kompassudah meralat, hal itu tidak mengurangi tekad Kadungga untuk memberi pelajaran. Menurut aktivis bertubuh kecil namun bernyali raksasa ini, Kompas menyebut namanya dalam daftar teroris adalah by design. Oleh sebab itu, ketika Kompas menyebut pencantuman namanya sebagai sebuah kekeliruan, Kadungga menolak mentah-mentah, karena koran itu mengenal siapa dirinya.

Terakhir kali penulis bertemu almarhum di Masjid Al-Furqan Jakarta, hari kamis tepat satu hari sebelum Idul Adha dua pekan lalu. Malam itu almarhum bertindak sebagai imam shalat isya, sedangkan penulis berdiri menjadi makmum di shaff kedua. Tak disangka, shalat jamaah itu adalah pertemuan “pamit-pisah” penulis dengan almarhum.

Sang mujahid lintas negara itu telah menutup lembaran amalnya. Semoga semangat jihad dan istiqamahnya di jalan Allah, mengilmami perjuagan kita semua. Mudah-mudahan kita dipertemukan Allah di surga-Nya. Amin. [MA. Gani/voa-islam.com]

Info LBT PII Manado

Posted by admin On Desember - 14 - 2009

Liburan akan tiba, di Manado ada Info Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Dasar atau Leadhership Basic Training di Kota Manado akan diadakan di MTs Negeri Manado yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 26 - 31 Desember 2009

Link di FB : http://www.facebook.com/event.php?eid=204627213743

ETIKA DAN MORALITAS PELAJAR DAN PEMUDA DALAM MEMBANGUN

MASYARAKAT ISLAM DIDALAM ERA GLOBALISASI

“Etika dam moral’’ dalam pengertian umum ialah kesopanan /adab,adat istiadat,adap sopan, dan tata krama.Jadi dalam memahami etika dan moral dapat di golongkan 3 hal yang mendasar dalam hubungan tata hubungan pertemanan, persahabatan, dan pergaulan yaitu

* Perasaan Halus

* Kesederhanaan, (tidak dibuat-buat. )

* Kebersihan Jiwa ( Niat Baik, i’tikad baik,Ikhlas)

Generasi remaja sekarang dihadapkan kepada problem – problem besar kehidupan dari akibat pola perteman, persahabatan dan pergaulanya bahkan cenderungnya mengarahka mereka pada pola kehidupan yang selau berupaya menghindari kesukaran, mencari, dan memproduksi kemudahan-kemudahan dengan tawaran pemusahan hasrat,keinginan nafsu.para remaja harus mengetahui benar bahwa mereka sekarang dihadapkan pada era post-struktualis dan post modernis yang dicirikan sebb :

* Tidak ada kebenaran

* Tidak ada seseatu yang mutlak, dan ada hanyalah kerelatifanya.

* Tidak boleh terlalu mudah untuk mengklaim mana yang benar maup yang salah , karena persolan yang baik maupun yang salah adalah persoalan pandang saja

* Yang menjadi ukuran yang baik dan buruknya adalah manusia , bukan tuhan dan jin atau setan.

Mereka dipaksa secara efektif untuk mejeng dan nongkrong – nongkrong di mall atau di café-café, pergi melancong rame-rame ,bolos sekolah, tak mau tahu persoalan orang tua, tidak sukak membaca buku dll.akibatya generasi yang tanpa punya rasa malu , hilang sopan santun ,lebih mementingkan kesenangan sesaat, padahal hidup masih panjang dan tantangan hidup makin kompleks ,moral rusak aklhak bejat,garga diri tergodai, mkesucian terdistorsi.

Mari kita renungkan wahai para pelajar dan pemuda terutama para Kader Pelajar Islam Indonesia ( PII ) yang pada saat ini merupakan amanah yang paling utama yaitu malaksanakan kewajiban mengabdi kepada umat dan bangsa. dari kitalah terlebih dahululah kita melakukan perubahan baik dari segi tingkah laku maupun yang lainya, agar pelajar di era globaslisasi ini masih taat kepada sang Khalik yang telah menciptakanya. dan tetap mejalankan amanah yang istiqamah dalam perentahnya.

Ada 2 cara yang harus dilakukan oleh apara remaja maupun para pemuda yaitu :

* Mari kita meningkatkan kualitas diri,yakni bagaimana cara kita untuk mencitrakan diri sebagai seorang pelajar maupun pemuda yang muslim yang kaffah,kuncinya sederhana : berupaya terus mengamalkna ajaran-ajaran islam sebagaimana tercemin dalam AQur’an dan Sunnah Rasullullah SAW dan itu sudah cukup menjadi acuan dalam bersikap.

* Menjadi cerdas dan bijak dalam menghadapi problem-problem besar yang dapat melingkupi ,remaja muslim harus bisa tampil beda,yakni beda dalam keyakinan dan cara pandang terhadap problem-poroblem besar yang mencukupinya dengan begitu seorang remaja/pelaja maupun pemuda menempatkan keshalihanya semata ,melainkan juga kecerdasan dalam kebijakan dalam menghadapi suitnya persoalan.

Salam Hangat semuanya

UMAR

Dept.Pembinaan Wilayah PB PII

Info LBT PII Kalbar

Posted by admin On Desember - 14 - 2009

Liburan sekolah akan tiba, banyak cara pelajar untuk mengisi liburan ada yang jalan-jalan keluar kota, kepantai, tempat hiburan, tetapi ada juga sebagian pelajar yang mengisi liburan sekolah dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat seperti kegiatan yang diadakan oleh PII Kalbar pada saat liburan sekolah mengadakan kegiatan Latihan Kepemimpinan Dasar atau bahasa gaulnya Leadership Basic Training (PII).

di Propinsi Kalimantan Barat (Kalbar) akan diadakan LBT di 3 tempat yaitu Kabupaten Sintang, Kota Pontianak dan Kabutapaten Pontianak yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah PII masing-masing kota/kab tersebut.

di Kabupaten Sintang yang diselenggarakan oleh PD PII Kab Sintang dilaksanakan pada tanggal 21 - 27 Desember 2009 dengan Koordinator Tim Instruktur sdr. Anis Sarbayni, sedangkan di Kota Pontianak yang diselenggarakan oleh PD PII Kota Pontianak akan diselenggarakan pada tanggal 24 - 31 Desember 2009 dengan Koordinator Tim Instruktur Zainal Abidin, dan untuk Kabupaten Pontianak diselenggarakan oleh PD PII Kab Pontianak diselenggarakan pada tanggal 25 Des 2009 - 1 Januari 2010 berlokasi di MAN Menpawah dengan Koordinator Tim Instruktur Pramudyo Saputro.

Ikutin dan ajak saudara, teman, dan lingkungan sekitar agar liburan menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.

Ikutin Perkembangan LBT tsb di Event Facebook

LBT PII  Kab Sintang : http://www.facebook.com/event.php?eid=194065456330
LBT PII Kota Pontianak : http://www.facebook.com/event.php?eid=196321331635
LBT PII Kab Pontianak : http://www.facebook.com/event.php?eid=361138110353

Info LBTD di Jakarta

Posted by admin On Desember - 14 - 2009

Bagi yang ingin mendapatkan Info kegiatan ataupun berkeinginann mengikuti Latihan Brigade Tingkat Dasar ( LBTD) Brigade PII jakarta silakan daftarkan diri melalui SMS dengan format sebagai berikut :

Ketik SMS  : LBTD/Nama Lengkap/usia/alamat/asal PD atau korda/email.

kirim ke 08999331391 dan hanya memakan pulsa normal.

contoh LBTD/Ali Asnawi/17/Jl. Menteng Raya 58 Jakpus/PD.Jakpus/info@aliasnawi.com info update terbaru mengenai kegiatan LBTD akan selalu dikirimkan ke email atau no HP anda, segera daftarkan.

Leadership Basic Training (LBT) PII Bali

Posted by admin On Desember - 14 - 2009

Info Training: Akan diadakan kegiatan Leadership Basic Training (LBT) atau Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar berlokasi di Singaraja - Bali,

LBT PII insya Allah dilaksanakan pada tanggal 20 - 27 Desember di MIT Mardhotillah, Jalan Jalak Putih Keluragan 16 Banyuasri, Singaraja -  Bali.

Maka siapkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut dijamin hidup lebih bermakna

Keterangan lebih lanjut hubungi dedew.suka@gmail.com dan ikuti perkembangannya di Event Facebook http://www.facebook.com/event.php?eid=233223945428

PII Tolak Pelaksanaan UN

Posted by admin On Desember - 13 - 2009

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Bertempat di depan Gedung Agung Yogyakarta, sebanyak 20-an orang yang tergabung dalam Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia, Jumat (11/12) sore, berunjuk rasa menolak ujian nasional. Mereka menilai ujian nasional tidak mewakili kultur dan kearifan lokal yang berbeda satu dengan daerah lain.

Selain orasi, pengunjuk rasa sempat membentangkan sejumlah poster antara lain berbunyi “Serahkan kelulusan ke sekolah bukan lewat UN (ujian nasional)”, “Pelajar bergerak tolak UN”, dan “Pelajar cerdas tolak UN sekarang”.

Menurut pengunjuk rasa adalah sebuah kesalahan besar apabila mengukur keberhasilan pendidikan dengan UN. Ada sejumlah alasan, antara lain fungsi lembaga pendidikan menjadi sekadar lembaga khursus. Bahkan menjelang pelaksanaan UN, fenomena lembaga kursus menjadi lebih berarti dibanding institusi sekolah karena mereka bisa memandu siswa mengerjakan soal dengan cara cepat, bukan berdasar pemahaman.

UN juga dianggap membunuh potensi pelajar yang sesungguhnya. Jika UN tetap diselenggarakan maka kelulusan siswa hanya dipandang dari kemampuan kognitif yang dilakukan sesaat. UN juga dinilai sebagai bentuk pembodohan secara sistematik karena kemampuan mereka belajar tiga tahun hanya diukur dari keberhasilan mengerjakan soal selama tiga hari.

UN, menurut Pelajar Islam Indonesia (PII) juga berpotensi menjadi ladang korupsi bagi semua institusi, mencetak pelajar menjadi pembohong, serta tidak menunjukkan karakter pendidikan Indonesia itu sendiri. “Jika memang nilai kelulusan distandardisasi, maka setelah lulus harus ada jaminan dari pemerintah bahwa mereka tidak akan menganggur,” ujar Haris Kintoko, salah satu peserta aksi.

Fajar, peserta aksi yang lain berpendapat dana yang dikucurkan buat penyelenggaraan UN sebaiknya dialihkan untuk pemerataan pendidikan. Karena selama ini masih banyak gedung sekolah di daerah terpencil yang tidak layak untuk ditempati. Melihat fenomena ini, menurut Fajar apa layak jika siswa di tempat terpencil disamakan dengan siswa diperkotaan dengan sebuah standar kelulusan yang bernama UN.

“Saya kira akan lebih solutif apabila dana yang dipakai UN dimanfaatkan untuk pemerataan pendidikan. Ini jelas lebih bermanfaat,” ujarnya. Karena itu, PII mengeluarkan lima tuntutan, antara lain pemerintah harus mematuhi putusan Mahkamah Agung untuk tidak menyelenggarakan UN serta hilangkan diskriminasi di sekolah.

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook
    close
    Jangan lupa kunjungi Komunitas PII Cyber disini