.

     

Archive for Oktober, 2009

Aksi Penggalangan Bantuan Kader PII

Posted by admin On Oktober - 7 - 2009

Bencana gempa Bumi yang melanda Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu, membuat kembali bangsa ini berduka, belum hilang duka Tasikmalaya dan sekitarnya yang juga di goncang oleh gempa dan tanah longsor, kembali gempa melanda negeri ini. Ratusan jiwa meninggal dunia, ribuan yang terluka, ribuan bangunan rusak.

Semua ini menimbulkan rasa empati yang mendalam, sehingga banyak komponen masyrakat melakukan penggalangan bantuan untuk membantu korban, tak ketinggalan juga kader-kader PII se-tanah air melakukan penggalangan bantuan, baik berupa dana maupun barang-barang yang dibutuhkan oleh para korban, penggalangan bantuan oleh kader PII dimulai dari Aceh hingga Papua dimana adanya kader dan kepengurusan PII.

Kader-kader PII mengumpulkan bantuan diperempatan lampu merah, mal-mal ataupun melalui proposal dana yang diajukan kepada instansi ataupun Keluarga Besar PII. Disela-sela aktivitas bersekolah mereka tetap bersemangat untuk mengumpulkan bantuan,

Info yang masuk ke Komite Peduli Pelajar (KPP) Pelajar Islam Indonesia yang merupakan badan yang mengurus bencana, telah masuk bantuan sebesar Rp. 10.155.000 yang berasal dari PB PII sebesar Rp. 2.000.000, PW Jakarta Rp. 4.980.000, Yayasan Al Fitrah Rp. 1.000.000, PD Bekasi Rp. 1.000.000, dan pakaian serta PW Sulteng Rp. 1.4700.000, dan dalam konfirmasi PW Sumatera Utara yang juga akan menyalurkan bantuannya sebesar 9 juta. Selain itu juga ada bantuan yang langsung dikirim ke Posko bencana di Padang yang dilakukan oleh PW Yogbes sebesar Rp. 2.000.000.

Bagi para Darmawan, kader-kader maupun Kelurga Besar PII yang akan menyalurkan bantuannya dalam bentuk uang dapat mengirimkannya melalui Rekening Bank Syariah Mandiri no 0090067466 an. Bendahara PB PII atau bantuan barang terutama perlengkapan pendidikan dapat di kirim ke kantor PB PII jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat. Untuk informasi dapat menghubungi 021-3153572 atau 085268662546.

Hari ini (5/10) pada pukul 03.00 dini hari, Komite Peduli Pelajar (KPP) Pelajar Islam Indonesia (PII) mengirimkan 2 orang sebagai tim advanced yang bertugas melakukan mapping lapangan dan olah data guna menunjang missi bantuan yang akan dilakukan serta membantu pendirian Posko bencana di kota Padang, yang rencananya di buka di Jalan Gunung Pangilun, Samping STKIP PGRI Gunung Pangilun Kota Padang.

Pada bencana di Sumbar dan juga dibeberapa bencana yang pernah terjadi di Indonesia, Pelajar Islam Indonesia (PII) mengambil peran untuk Recovery Pendidikan, kenapa ini diambil selain memang merupakan bidang garap PII dan juga sektor pendidikan seringkali terabaikan karena semua orang pada sibuk untuk melakukan evakuasi dan penyaluran bantuan pangan dan obat-obatan, tetapi bidang pendidikan seringkali terabaikan.

Tim yang dikirim diharapkan dapat memetakan daerah mana saja yang dapat didirikan sekolah alternatif yang akan dibuat oleh PII selama menjalankan misi kemanusiannya. Sekolah ini diharapkan akan menjadi tempat bagi anak-anak korban untuk selalu mengenyam pendidikan walaupun dalam keadaan yang sulit, karena menurut kami pendidikan sangat penting, sehingga PII mengharapkan bahwa anak-anak korban bencana tidak hilang semangat dalam melanjutkan sekolah.

Selain akan mendirikan Sekolah Alternatif, PII juga akan menyalurkan bantuan berupa alat-alat dan perlengkapan pendidikan serta bantuan beastudy. PII juga mengharapkan bantuan dari para Darmawan dan Kader-kader PII se Nusantara untuk dapat membantu para korban bencana, bantuan dapat disalurkan melalui rekening Bank Syariah Mandiri no. 0090067466 an. Bendahara PB PII atau dapat dikirim langsung ke Posko Bencana Pusat, d/a Kantor PB PII, Jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat. Untuk informasi dapat menghubungi no telpon 021-3153572 atau 0852-68662546

WARNA - WARNI PII

Posted by ahmad_yanis1989 On Oktober - 4 - 2009

Warna-warni itu identik dengan keindahan, warna-warni yang menyusun pelangi hingga menjadi laskar pelangi. Saat salah satu warnanya hilang, maka ada bagian indah yang hilang. Saat warna tertentu tidak lagi menjadi bagian, saat itu pula terjadi pengebirian terhadap warna. Hanya boleh ada 1 warna, tidak boleh ada yang lain.

Padahal dulu PII terkenal karena keberagamannya, minim primordialisme, minim sektarianisme, apalagi sukuisme. Siapapun boleh menjadi ketua umum PII, tidak mesti Jawa, Sulawesi, Sumatera sekalipun pernah menjadi ketua PII. Tidak ada mayoritas karena minoritaspun tetap punya kesempatan asalkan dia mau dan mampu.

Aceh salah satunya, PW PII Aceh pernah menerima Eks Ketua Umum Sumatera Utara menjadi Sekretaris Umum PW Aceh, bahkan di Aceh Utara pernah kader PII Sumatera Barat menadi Ketua Umum PD, begitu pula halnya saat kader PII Aceh menjadi Ketua Umum di PW Sumatera Utara. PII menjadi organisasi yang sejuk untuk berbagai latar belakang Madzhab, Suku, Ras, dan berbagai golongan dengan satu persamaan yaitu Pelajar Muslim. Sikap inklusivisme ini ditenggarai sebagai salah satu faktor yang menempatkan PII sebagai organisasi pelajar Islam terbesar saat itu. Namun kini, apa lacur, PII Aceh yang termasuk salah satu PW terkuat dalam hal kuantitas kader kini telah kehilangan jati diri, kehilangan ghirah barangkali juga gairah.

Sebuah apologi bahwa krisis kader disebabkan tsunami sangat tidak tepat karena realitanya malah Instruktur PII diselamatkan Allah dengan event Samwil.

Krisis kader baik secara kuantitas maupun kualitas diawali dengan dibubarkanya PDPT yang merupakan lumbung instruktur berkualitas PII. Kita harus mau jujur bahwa SDM instruktur dari PDPT lebih baik dari Instruktur yang masih sekolah. Selain kematangan diri, kharakterpun lebih kuat dalam rangka transfer ilmu saat training. Dibubarkannya PDPT lebih dikarenakan hal politis, hal ini dikarenakan hanya PDPT yang mampu bersikap kritis terhadap PW. Fitnah yang benar dan fitnah yang salah alamat merebak tanpa bisa dikendalikan.

Persaingan antara PD dalam perebutan kekuasaan wilayah telah melalaikan PII Aceh dan keluar dari rel yang seharusnya yaitu jalur kaderisasi akhirnya tersendat. Mulai dari pencekalan instruktur oleh PW yang mayoritas diduduki dari Kaum Pidie, Kaum Aceh Besar sebagai oposan, Kaum Bireuen yang oportunis serta Kaum Aceh Utara yang kritis membawa PII ke jurang perpecahan. Dapat dimaklumi jika kompetisi adalah hal yang lumrah jika dilakukan secara sehat. Namun sebaliknya jika sampai terjadi gontok-gontokan seperti yang pernah terekam dalam benak penulis saat Konwil Sigli tahun 2004 dimana sedikitnya 8 PD yang Walkout. Konwil Bireuen yang cukup alot karena Eks PDPT dibonceng Aceh Besar. Dan Konwil Langsa (Konwil tersepi dalam sejarah PII Aceh, mungkin) yang menjadi boomerang terhadap Badan Otonom Brigade yang bersikap tidak netral dengan mendukung salah satu kandidat dengan intimidasi terhadap peserta konferensi.

Ayolah kita jujur pada diri kita sendiri, hilangkan sikap anak-anak. Berfikirlah dewasa, jangan merasa diri paling benar kalau tidak kita telah merasa lebih hebat dari para Imam Madzhab yang mengaku tetap memiliki kekurangan. Hilangkan sikap ego dan belajar mendengarkan pendapat orang lain. Saling merangkul demi kemajuan PII, itupun jika kita yakin bahwa PII ini merupakan institusi yang bisa mengantarkan kita ke Surga.

Hilangkan sikap saling curiga, jadilah penguasa bijak. Tempatkan seseorang pada keahliannya kalau tidak kita akan celaka. Yang sangat urgen untuk dibenahi adalah instruktur. Berapa banyak sudah training yang digelar, berapa persentase kader yang aktif, bahkan ada yang nihil (aceh utara, ramadhan 2006 dan ramadhan 2007). Setiap daerah punya ciri khas masing-masing dan itu harus dihargai. Kearifan lokal kata orang, jangan jadi munafiq saat kita menuntut dibatalkan UN berstandar nasional tapi kenapa saat Ta`dib berstandar nasional kita tidak menuntut digagalkan. Ta`dib itu bikinan manusia yang perlu terus di evaluasi dan di revisi, bikinan manusia bisa salah dan tidak bisa main pukul rata ke semua daerah. Karena setiap daerah punya latar belakang perjuangan yang berbeda-beda.

Awal kematian PII yang diramalkan paling bisa bertahan pada tahun 2015 setidaknya bisa kita patahkan, yang namanya makluk pasti mati tapi harusnya mati yang khusnul khatimah. KB yang baru belum siap menggantikan KB yang lama. Andai saja saat ini PII Aceh punya 100 instruktur tentu tidak demikian jadinya. Mau bagaimana lagi, wadah pencarian instruktur berbakat di arena LBT malah jadi ajang malpraktek para instruktur baru.

Kini saya menunggu Imam Mahdi PII, entah kapan dia turun, ataukah dia sudah turun. Masih banyak agenda PII, zaman yang semakin modern PII harus bisa berdaptasi jika tak ingin kehadirannya ditolak zaman.

Solusi tidak selalu harus berasal dari orang Suci

duka sumatera “seruan Bersama”

Posted by jaka On Oktober - 3 - 2009

salam…
semoga ALLAH SWT, selalu melindungi kita dalam segala gerak dan langkah yang kita lakukan.

Pengurus Besar (PB) Pelajar Islam Indonesia (PII) menyerukan kepada semua Pengurus dan Kader PII se-nusantara untuk menggalang bantuan, baik berupa dana maupun barang untuk korban gempa di pulau Sumatera (Sumatera Barat, dan Jambi).

Bantuan akan kita salurkan kepada para korban, rencana bantuan akan kita prioritaskan untuk recovery pendidikan.

- bantuan dana dapat disalurkan melaluiĀ  Bank Syariah Mandiri no rek 0090067466 an. bendahara PB PII.
- bantuan barang terutama alat-alat pendidikan dapat dikirim ke Sekretariat PB PII jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat.

Contact Person 021-3153572 / 0852686625

Terima Kasih
Wassalam

Zakaria
Kabid PMP

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook
    close
    Jangan lupa kunjungi Komunitas PII Cyber disini