.

     

Archive for Juli, 2009

Alumni Muda PII Gelar Dialog

Posted by admin On Juli - 25 - 2009

Sabtu, 25 Juli 2009
KEMENANGAN pasangan SBY-Boediono pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 yang penetapannya dilakukan pada hari ini (25/7), menjadi fenomena menarik bagi perjalanan perpolitikan di Indonesia. Tidak hanya karena kemenangannya secara mutlak, yakni di atas 50 persen, namun juga menjadi catatan tersendiri bagi proses demokrasi di negara ini.

Atas dasar inilah, hari ini, alumni muda Pelajar Islam Indonesia (PII) akan menggelar dialog dengan tema, “Telaah Kritis Hasil Pilpres 2009 dan Masa Depan Umat Islam”. Dialog yang digelar di aula SMK 1 Palu ini, akan menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya, Ust Djamaluddin Hady, Dr Lukman Tahir (Rektor Unisa), DPW Hidayatullah Sulteng, DPW PKS Sulteng dan DPW Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sulteng.

Panitia dialog, Andi Aril Pettalolo mengungkapkan, dialog menyikapi hasil Pilpres 2009 kali ini, merupakan bagian dari respons generasi muda terhadap proses demokrasi di Indonesia. Katanya, dengan tema yang diangkat tersebut, setidaknya ada tiga pesan penting yang ingin disampaikan. Di antaranya, fenomena kemenangan SBY-Boediono, yang menurut banyak kalangan sebagai kemenangan kelompok Islam liberal, dimana hal ini dapat dilihat dari latar belakang tim sukses yang mem-back-up pasangan tersebut.

Hal berikutnya menurut Aril, fenomena dukungan parpol yang mengusung isu agama kepada pasangan ini, yang menurut sejumlah pengamat, sebagai bentuk barter politik dengan kursi di kabinet. Serta ketiga, soal fenomena dukungan organisasi yang berbasis agama dan tokoh-tokoh Islam kepada salah satu pasangan capres, yang ternyata tidak memberikan dukungan pemilih yang signifikan pada pasangan yang didukung pimpinannya tersebut.

“Ketiga hal ini sangat menarik untuk dianalisa. Karena banyak hal yang berkaitan dengan hasil Pilpres kali ini, yang perlu untuk dijelaskan kepada masyarakat,” katanya. (yon)
(http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Sulawesi%20Tengah&id=55125)

Tinggalkan Nafsu Berebut Rezeki!

Posted by admin On Juli - 25 - 2009

Jumat, 24 Juli 2009 | 09:14 WIB

Oleh: ST SULARTO

KOMPAS.com — Kebijakan sekolah gratis ibarat menu cuci mulut sehabis menu utama sekian kebijakan yang serba kontroversial. Iklan sekolah gratis yang menggebu-gebu ditayangkan dengan jargon ”orangtua jadi loper koran anak jadi wartawan” dan ”anak sopir angkot dapat jadi pilot” justru membingungkan masyarakat. Iklan boong-boongan!

Rupanya ada perbedaan konsep antara pemerintah dan masyarakat. Menurut pemerintah, sekolah gratis artinya murid tidak dipungut sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Menurut masyarakat artinya gratis beneran, cuma-cuma, tak usah bayar.

Untuk sekolah negeri, pemerintah menutup SPP lewat bantuan operasional sekolah (BOS). Siswa, murid, peserta didik memang tak dipungut SPP, tetapi diminta membayar uang kalau mau memperoleh fasilitas dan praksis pendidikan lebih baik. Alasannya, jumlah nominal BOS minim.

Mana yang gratis? Gratis, kok, bayar! Ya bingung! Tentu lain cerita sekolah swasta, karena hidup-matinya tidak tergantung BOS.

Kebijakan buku sekolah ibarat kopi panas atau teh panas sebelum jamuan makan berakhir. Kebijakan terakhir, ditabalkan lewat Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 2 Tahun 2008 mengenai buku elektronik, sebenarnya merupakan salah satu episode kebijakan buku sekolah selama ini.

Dalam hal buku sekolah, terbentang beragam keputusan dan kebijakan, sistem dan pelaksanaan, mulai dari sekolah dipersilakan menentukan sendiri buku pendamping sementara buku wajib disediakan (diterbitkan) oleh pemerintah (Balai Pustaka), hingga yang terakhir demi ketersediaan buku dengan harga murah, diberlakukan kebijakan buku elektronik yang diawali dengan Permendiknas No 11/2005 mengenai masa berlaku buku sekolah lima tahun, dilanjutkan pembelian hak cipta oleh pemerintah.

Alih-alih mengaitkan kurikulum atau penulis buku, akar masalah buku sekolah adalah rebutan rezeki. Bagi penerbit, ikut serta dalam penerbitan buku sekolah adalah rezeki besar untuk menutup kecilnya pemasukan dari penerbitan buku yang kurang laku di pasaran. Di kalangan penerbit, berlaku pula kebijakan biaya silang, bagian dari kiat menyelenggarakan paduan usaha idealisme dan bisnis.

Buku elektronik, kebijakan terakhir mengatasi buku sekolah, dikonsep untuk mengatasi keluhan orangtua. Pemerintah membeli hak cipta sejumlah naskah buku berdasar hasil penilaian Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Buku yang disetujui kemudian diunggah dan masyarakat bisa mengunduhnya dari internet. Maksud kebijakan itu baik: harga buku murah, orangtua tidak usah repot setiap awal tahun ajaran.

Kebijakan Gagal
Rupanya tak disadari, Indonesia bukanlah Jakarta. Di daerah-daerah terpencil, terutama di luar Jawa, banyak yang belum bisa mengunduh bahan dari internet. Alih-alih luar Jawa, bahkan di sekitar Jakarta ada yang tak bisa mengunduh.

Dalam hal ini, pemerintah bukannya tidak cerdas. Penerbit dipersilakan mengunduh, mencetak, dan menjual sesuai ketentuan harga patokan tertinggi. Penerbit sekaligus pencetak, yang kemudian disusul orang berinisiatif melakukan hal sama, termasuk guru, terakhir demi anak didik.

Lain kebijakan lain pula pelaksanaan. Tidak hanya sulit diunduh, bahan buku yang diunggah pun belum lengkap. Belum semua buku mata pelajaran sudah diunggah oleh BSNP, padahal tahun ajaran sudah mulai. Keadaan ini membuat maksud membuat harga murah tidak terjadi. Harga buku jadi mahal (kembali). Orangtua dipaksa membeli karena didesak kebutuhan, karena buku adalah syarat integral praksis pendidikan.

Kebijakan buku murah pun gagal. Kopi penutup jamuan makan pun terasa pahit. Namun, tidak kalah sigap, birokrasi penanggung jawab perbukuan pun mengelak. Jangan hanya dilihat kegagalan sekarang, tetapi lihatlah nanti. Sebab, dampak positif ini baru akan kelihatan beberapa tahun ke depan.

Panorama selintas sejarah perbukuan sekolah hanyalah puncak dari sekian kegagalan kebijakan. Barangkali kesalahan tidak harus ditimpakan kepada departemen diknas yang eksis sekarang, tetapi kegagalan dari bercokolnya semangat ”membisniskan” praksis pendidikan, lebih jauh lagi membisniskan anak didik.

Telanjur semua dikalkulasi dengan uang, tak satu pun kebijakan berpihak kepada yang tidak beruang atau kurang beruang. Pendidikan gratis hanya riil dalam iklan, tetapi tidak riil di lapangan. Lebih jauh lagi, meskipun sektor lain bisa tertangani dengan baik, selama masalah buku sekolah tetap amburadul, selama itu sah-sah saja cap komersialisasi pendidikan.

Benahi Bersama
Eksistensi buku dalam praksis pendidikan sejajar dengan faktor guru dan kurikulum. Buku memang hanya salah satu subfaktor sarana, tetapi dibandingkan dengan sarana lain, seperti alat peraga dan gedung berikut perangkatnya, kehadiran buku tak sekadar menyediakan, tidak sekadar bisa membeli dengan adanya dana, tetapi bagian utuh dari terselenggaranya praksis pendidikan yang seharusnya.

Buku sekolah terkait dengan kurikulum, terkait dengan penulis, terkait dengan penerbit, dan guru. Buku sekolah sebagai pelengkap dan penunjang silabus yang diturunkan dari kurikulum hakikatnya bagian utuh dari kurikulum. Ketersediaan buku tak bisa diatasi dengan kebijakan coba-coba, apalagi amatiran.

Oleh Cardiyan HIS

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ….! Inilah musuh yang sebenarnya.  Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor.

Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma†Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.

Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri.

Indonesia dengan demikian akan masuk member “Asian Satellite Club” bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.  Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer

Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho†kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma†Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer  disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work.  Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

(sumber : http://politikana.com/baca/2009/07/21/roket-rx-420-cn-235-militer-getarkan-australia-singapura-dan-malaysia-oleh-cardiyan-his.html)

TV Hambat Pertumbuhan Anak

Posted by admin On Juli - 23 - 2009

(koran tempo, Kamis, 23 Juli 2009)
Pemberitaan tentang bom juga dapat menimbulkan trauma bagi anak.
Tayangan televisi menghambat pertumbuhan anak secara fisik dan psikis. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Hadi Supeno mengatakan program televisi tidak sesuai dengan kebutuhan anak karena mengandung kekerasan, adegan seks, dan mistis. “Partisipasi anak menonton televisi terlalu banyak daripada belajar,” katanya dalam diskusi kampanye “Hari Tanpa TV” di kantornya kemarin.

Rata-rata anak menonton televisi selama 30-35 jam per minggu atau hampir lima jam sehari. Mereka menyerap begitu saja apa yang ditayangkan televisi, termasuk materi untuk dewasa. Akibatnya, terjadi peniruan oleh anak-anak dan remaja, terutama atas hal-hal yang bersifat negatif.

Berdasarkan sejumlah riset perguruan tinggi, tayangan televisi-antara lain sinetron–mengandung materi kekerasan hingga 90 persen.
Detailnya, 50 persen secara fisik dan 40 persen secara psikologis. Selain itu, ada penampakan ikon mistik sebanyak 75 persen, adegan seks 50 persen, pemerkosaan 20 persen, dan perkataan cabul 20 persen. Menurut dia, anak-anak kurang dari usia tiga tahun yang cenderung pasif seharusnya tidak diperbolehkan menonton televisi. Hal itu dapat menghambat potensi aktifnya dan mengurangi daya imajinasi.

Begitu juga anak usia kurang dari 5 tahun. Dalam umur itu, menonton televisi mengganggu perkembangan otak dan kemampuan belajarnya. Dia menilai, program televisi untuk anak seharusnya diatur jam tayangnya, yakni dari pukul 15.00 sampai 18.00.

Anggota Pengurus Pusat Bidang Pengabdian Masyarakat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Soedjatmiko, menambahkan bahwa jam menonton anak sebaiknya dibatasi tak lebih dari dua jam per hari. Kalaupun menonton, sebaiknya didampingi dan diberi penjelasan agar pesan tidak diterima begitu saja.

Menurut dia, tayangan televisi bisa berdampak positif apabila pesan disampaikan dengan cara yang sederhana, perlahan, dan diulangulang sehingga mudah dicerna. Hal ini diperlukan terutama untuk anak usia 3-4 tahun karena perkembangan otaknya masih lambat.

Namun, tayangan televisi juga menimbulkan dampak negatif secara fisik dan nonfisik. Pertumbuhan fisik anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi terhambat karena kurang aktivitas. Mereka pasif duduk di depan televisi sambil mengudap makanan yang dapat memicu kegemukan. Padahal gerakan aktif diperlukan untuk mendorong pertumbuhan.

Menonton televisi juga dapat menyebabkan kerusakan mata meski tidak terlalu banyak. Sinar ultraviolet mengganggu ketajaman mata, tetapi secara alamiah sebenarnya mata memiliki refleks untuk melihat yang nyaman.

Dampak positif dari program yang sesuai akan membantu memperkaya informasi, terutama program yang tidak terlalu banyak mengandalkan tulisan. Namun, bagi anak yang sudah bisa membaca, televisi akan memberi dampak negatif, yaitu cenderung malas membaca.

Televisi dapat membuat anak menjadi tak suka berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Saat menonton televisi, ada proses belajar sehingga program yang menayangkan kekerasan fisik dan verbal, konsumerisme, dan sikap antisosial akan ditiru. Untuk itu, kata dia, anak-anak perlu didampingi saat nonton TV.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Hadi Sumpeno secara terpisah mengatakan pemberitaan tentang bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, dapat menimbulkan trauma bagi anak. “Membuat trauma psikososial,” kata Hadi kemarin.

Anak-anak yang membaca atau menyaksikan gambar tentang korban pengeboman, menurut Hadi, akan mengingat peristiwa tersebut.
Khususnya, anak para korban bom, baik di tempat yang sama pada 2003 maupun korban bom di Bali.  Dia menambahkan, meskipun kemungkinannya kecil, bisa saja pengeboman semacam ini menjadi inspirasi bagi anak-anak bahwa kemarahan dapat dilampiaskan dengan melakukan pengeboman.

Program Yang dinilai tidak mendidik :

1. Termehek-mehek, Trans TV

2. Happy Family : Me VS Mom, Trans TV

3. Idola Cilik, RCTI

4. Bukan Empat Mata, Trans &

Terorisme bukan Jihad

Posted by admin On Juli - 22 - 2009

Oleh : Ahmad Basori : PB Pelajar Islam Indonesia

Bom kembali mengguncang Indonesia, kini gilaran dua hotel mewah JW Marriott dan Ritz Carlton. Tragedi  yang menewaskan 9 orang dan puluhan orang luka-luka ini pun mendapatkan kecaman dan kutukan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat, tokoh agama, kepala negara bahkan dunia Internasional. Dari hasil penyelidikan pihak yang berwajib pelaku pemboman ini sepertinya di alamatkan kepada jaringan teroris internasional (baca, Jamaah Islamiyah). Kalau opini ini terus dikembangkan oleh media hal ini berarti akan berdampak kembali kepada citra yang telah dibangun media Barat bahwa terorisme itu berasal dari Islam dan terlegitimasi kegiatan-kegiatannya melalui ayat-ayat Jihad.

Padahal terorisme seperti diungkapkan oleh Yusuf Qaradhawi berbeda dengan jihad, Jihad jelas nashnya dalam al-Quran. Dalam al-Quran jihad tidak selalu diidentikkan dengan bentrok fisik atau mengangkat senjata. Makna jihad lebih komprehensif, dimulai dengan jihad terhadap setan, lalu jihad terhadap kezaliman dan kerusakan masyarakat, setelah itu barulah terhadap kaum kafir dan munafik. Jihad yang dapat ditangguhkan hanyalah jihad dengan senjata atau jihad di medan perang, Jihad inipun oleh al-Quran dibatasi pada saat-saat tertentu khususnya dalam rangka mempertahankan diri.

Sedangkan kebanyakan para tokoh Islam berpendapat bahwa jihad perang seharusnya dapat dihindari dan tidak perlu terjadi apabila jalan damai dapat dilakukan oleh umat Islam. Selain itu pengaruh yang ditimbulkan dari peperangan berdampak buruk, destruktif dan merusak semua tatanan yang ada, tidak saja materi tapi juga non materi.

Jihad Perang dapat dilakukan apabila umat Islam dianiaya, apa yang menjadi milik umat Islam dirampas dan dikuasai olehnya, mereka juga merusak dan menyerang daerah umat Islam. Menjadi wajib bagi umat Islam untuk melakukan perlawanan dan memerangi mereka. Seperti yang terjadi pada kasus Palestina dengan Israel.

Sementara jihad dengan dakwah dan penerangan, atau jihad dengan al-Qur’an tegak berdiri sejak hari pertama. Selama di Makkah Rasulullah dan para sahabat menjadi Al-Mujahidun (para mujahid) bukan Al-Muqatil (orang yang berperang). Jihad yang mereka lakukan adalah dengan jalan dakwah dan tarbiyah. Yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang agama yang benar bersumber dari Allah SWT. Beliau berusaha memerangi keyakinan, budaya, moral, yang menyimpang dan tidak benar, sekaligus  juga memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Hingga bangsa arab waktu itu setelah kedatangan Nabi  Muhammad SAW menjadi bangsa yang maju, beradab dan sebagai contoh sebuah masyarakat Islam.

Ketika Nabi berada di Madinah banyak mendapatkan serangan­ serangan dari orang-orang kafir, baik dari dalam Madinah sendiri maupun dari luar. Dalam menghadapi hal ini Nabi mencoba jalan dengan cara berdiplomasi dengan mereka untuk berdamai dan menghentikan aksi kekerasan, peperangan, akan tetapi ketika usaha tersebut tidak dapat ditempuh, maka tidak ada pilihan lain kecuali melakukan aksi peperangan. Di dalam Islam scndiri bcrpcrang bukanlah suatu tindakan yang dilarang oleh agama. Akan tetapi ketika berperang umat Islam tidak diperkenankan membunuh anak-anak dan perempuan, tidak merusak tanaman dan tidak merusak rumah-rumah ibadah musuh.

Sedangkan terorisme berbeda dengan jihad dengan makna perang terorisme adalah sebuah tindakan yang dilarang oleh agama. sebab terorisme adalah aksi yang dilakukan oleh kelompok yang memakai cara kekerasan kepada orang yang tidak punya masalah dengan mereka. Kekerasan tersebut adalah sarana untuk mengintimidasi, melukai dan memaksa orang lain supaya tunduk kepada kemauannnya. Meskipun dalam persepsi mereka hal tersebut merupakan tindakan yang adil. Islam menolak pemikiran yang mengajarkan “untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan”. Islam mewajibkan tujuan dan cara yang ditempuh haruslah benar. Misalnya Islam tidak membolehkan seorang Muslim menerima uang atau korupsi, uang tersebut nantinya digunakan untuk pembangunan Masjid atau mendirikan yayasan sosial.

. Tindakan terorisme adalah sebuah kejahatan yang mengakibatkan jatuhnya korban kemanusiaan yang dahsyat. Berhitung tentang korban kemanusiaan tidak sama artinya dengan menghitung korban manusia. Menghitung korban kemanusiaan tidak cukup dengan instrumen statiska: tapi juga butuh hati nurani. Karena itu menghitungnya jauh lebih sulit dibandingkan menjumlah korban manusia. Ketika seorang laki-laki tewas tertabrak mobil di jalan raya, ada korban manusia dan korban kemanusiaan yang jatuh. Korban manusianya adalah sang laki-laki itu. Tapi korban kemanusiaanya tak hanya laki-laki itu tapi juga istri dan anak-anak nya yang tiba-tiba masa depannya menjadi gelap gulita lantaran ditinggal pencari nafkah utama. Contoh ini memperlihatkan bahwa konsep korban kemanusiaan lebih luas dan tinggi tatarannya ketimbang sekedar korban manusia.

Karena itu pemboman yang terjadi di hotel mewah Marriott dan Ritz Karlton tidak hanya memakan korban manusia tapi juga korban-korban kemanusiaan. Korban manusia itu mudah saja dideretkan dengan bantuan statiska : puluhan meninggal dunia, ratusan luka-luka dan seterusnya. Namun korban kemanusiaanya tidak terhitung berada dalam jumlah jauh lebih besar dan dahsyat. Masyarakat yang tercekam rasa cemas yang luar biasa di pesawat televisi adalah korban-korban kemanusiaan. Mereka tiba-tiba saja merasa tak nyaman dan tak aman di Jakarta, sehingga sejumlah negara mengeluarkan travel warning dan memberikan dampak negatif kepada investor asing sehingga berpengaruh kepada perekonomian bangsa.

Jadi, tragedi bom yang meledakan dua hotel mewah itu tidak ada kaitannya dengan Islam karena dalam Islam sendiri teror itu tidak ada landasan yang kuat di dalam Islam. karena seorang yang beragama kemudian menjalan kejahatan pemboman sesungguhnya sedang bertindak menentang agama yang dia peluk sendiri. Maka tidak adil rasanya kalau kemudian Tragedi JW Marriott dan Ritz Karlton diseret-seret ke komunitas tertentu (baca: Islam)

Pengaitan terorisme dengan Islam adalah propaganda media massa Barat, Amerika, Zionisme proyek besar Amerika Serikat, seolah-olah terorisme hanya dilakukan oleh umat Islam. Seakan-akan terorisme berjenis kelamin Islam, terutama setelah tragedi 11 September 2001. kekerasan dan terorisme dapat dijumpai di benua Inggris, Jepang, Amerika, India, dan Israel. Dengan demikian mengapa terorisme dikaitkan dengan Islam, tetapi tidak dikaitkan dengan yang lain?

Media Barat pun telah berhasil membuat citra teroris itu adalah Islam, Setiap ada ledakan bom, laporan media selalu mengkaitkan dengan Al Qaeda atau JI. Padahal organisasi ini selalu dipertanyakan apakah benar ada atau sengaja dibuat untuk merusak citra Islam. Kecurigaan ini semakin menguat karena pelaku teror yang tertangkap adalah para eksekutor bukan otak pelaku pemboman.

Mungkin sudah saatnya media tidak lagi mengaitkan tindakan teror dengan Islam karena tidak mungkin Islam mengajarkan tindakan yang menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan. Citra Terorisme seolah-olah adalah berjenis kelamin Islam akan menurun drastis, atau mungkin bisa hilang sama sekali, kalau media tidak terlalu bersemangat untuk mengaitkannya. Di tangan medialah seorang teroris dicitrakan sebagai mati syahid atau mati konyol dalam pemberitaannya.

PII Aceh Besar Laksanakan Kursus TNKM

Posted by admin On Juli - 18 - 2009

13 July 2009, 09:50
JANTHO - Koordinator daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati, Aceh Besar, selama dua hari Sabtu dan Minggu (11-12/7) menggelar kursus Telaah Nilai Kepribadian Muslimah (TNKM) di sekretariat organisasi Jalan Banda Aceh-Medan Km 7. Kegiatan tersebut diikuti oleh tiap-tiap perwakilan pengurus komisariat PII se-Aceh Besar. Menurut keterangan Rahma Maulida, Korda PII Wati Aceh Besar, jumlah para kader yang mengikuti kegiatan itu sebanyak 30 orang. Sedangkan pamteri dalam kursus tersebut yakni, dari Korwil PII Wati Aceh dan dari keluarga besar pengurus PII Aceh Besar.

“Kami berharap dengan kegiatan ini akan melahirkan kader-kader muslimah yang handal, serta dapat mengimplementasikan nilai-nilai kepribadian dalam kehidupan sehari-hari,”ujar Rahma Maulida. Disebutkan, selain megikuti kegiatan tersebut, sejumlah kader PII Aceh Besar juga dikirim untuk mengikuti Pelatihan Manajemen Organisasi (PMO) di Lhokseumawe dan Pidie. Selanjutnya, pengurus PII Aceh Besar juga mengirim peserta untuk mengikuti Latihan Manajemen Strategis (LMS) di Banda Aceh, serta Latihan Brigade Tingkat Dasar Nasional (LBTDN) di Takengon, Aceh Tengah.(rel/mis)
(sumber : http://www.serambinews.com/news/pii-aceh-besar-laksanakan-kursus-tnkm)

Xinjiang Luka Umat Islam

Posted by admin On Juli - 18 - 2009

Oleh : Ahmad Basori

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam (H.R Muslim)

Sejarah kembali menorehkan darah umat Islam, kini giliran Xinjiang China yang menewaskan ratusan Umat Islam Uighur. Peristiwa itu terjadi pada 5 Juli 2009 bermula dari aksi damai yang dilakukan oleh muslim Uighur atas perlakuan saudara mereka, berakhir dengan tindakan anarkis aparat keamanan China. Tindakan refresif aparat terus berlanjut, hingga hari ini 30 ribu tentara dan militer mengepung Xinjiang  Sholat jumat dilarang, masjid-masjid sampai sekarang sepi, umat Islam tidak berani datang ke masjid dan sekolah-sekolah Islam ditutup.

Peristiwa Xinjiang ini menggambarkan bahwa umat Islam minoritas di manapun mesti mendapatkan perhatian yang serius oleh dunia Islam. Muslim minoritas sesungguhnya dalam keadaan menderita, hidup dalam tekanan, penindasan dan perlakuan diskriminatif dari penguasa. Seperti yang terjadi di wilayah minoritas muslim lainnya  Thailand Selatan, Philipina Selatan, Rohingnya, Myanmar, Jammu Khasmir dan lainnya Slogan kebebasan, keadilan, persamaan dan perlakuan non diskriminasi dari demokrasi, HAM yang dikumandangkan negara-negara maju hanyalah omong kosong.

Di tengah kenestapaan kaum muslim Uighur atau Muslim Xinjiang umumnya, mengapa respon kaum muslim di negara lain sangat minimal? Tidak seperti penyerangan Israel terhadap palestina hampir semua negara/ormas Islam ikut berbicara dan membantu. Dengan berbagai pernyataan kutukan, pemutusan hubungan bilateral dengan Israel sampai ikut langsung membantu para Mujahidin palestina dengan pengiriman tim pengobatan bahkan ada yang langsung ikut berjihad melawan tentara Israel.

Pada pristiwa Xinjiang ini, Negara-negara Muslim lebih khawatir merusak ikatan dagang yang menguntungkan dengan Cina atau khawatir mengundang perhatian yang bakal mengganggu stabilitas politik antar negara. Karena itu tidak heran kalau Rebiya Kadeer, wanita penguasa asal xinjiang yang kini tinggal di Washington Dc setelah enam tahun ditahan dalam penjara Cina, menyesalkan sikap membisu banyak negara Muslim.

Tidak bedanya, Indonesia pun termasuk negara yang membisu pada pristiwa ini, Dubes RI untuk China Sudrajat dalam hal ini mengatakan bahwa “Apa yang terjadi di Xinjiang adalah urusan dalam negeri China dan kita menghormati kedaulatannya dan tidak akan campur tangan masalah itu,” Ditegaskan pula bahwa Indonesia sejak dahulu berprinsip untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri China, baik itu masalah separatisme yang terjadi di Xinjiang, di Tibet maupun Taiwan. Dubes Sudrajat menggambarkan bahwa hubungan diplomatik RI-China saat ini dalam posisi yang sangat baik, dimana para pejabat tinggi negara kedua negara intens melakukan berbagai komunikasi dan kerjasama berbagai bidang. Pertemuan tingkat tinggi pejabat kedua negara dilakukan pada 1 Juli ketika Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Jiang Jiechi di Beijing menandatangani kerjasama naskah ekstradisi kedua negara yang merupakan tindak lanjut Kerjasama Strategis RI-Rhina yang ditandatangani kedua presiden di Jakarta 2005 (Republika Online12 Juli 2009).

Sikap Indonesia  dalam pristiwa Xinjiang ini sangat jelas, lebih khawatir merusak ikatan dagang yang menguntungkan dengan Beijing atau khawatir mengundang perhatian yang bakal mengganggu stabilitas politik antar negara daripada mengamalkan pesan-pesan yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan  (Pembukaan UUD 1945). Alinea pertama Pembukaan UUD 1945 ini seharusnya menjadi pijakan bagi penyelenggara negara dalam mengambil kebjikan luar negeri dengan tidak berkompromi terhadap tindakan yang tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Peristiwa Xinjiang sangat jelas bukan hanya sekedar konflik anatar suku seperti yang dikemukakan oleh pemerintah Cina. Peristiwa Xinjiang ini merupakan puncak terhadap politik rasialis yang direkayasa dan dipelihara semenjak rezim komunis berkuasa pada 1949. Rebiya Kadeer menyebutkan tindakan penguasa Cina itu sebagai culture genosida terhadap etnis Uighur. Tahun 1957 dan 1966 seiring revolusi yang dipimpin oleh Mau Zedong, keyakinan dan budaya Uighur kembali dihancurkan. Para pemimpin intelektual lokal ditahan, yang melawan dibunuh. Pada 1991 terjadi konflik antara suku han dan Uighur puncaknya terjadi pembantaian etnis Uighur di Gulja, Xinjiang  pada 5 Februari 1997 silam. Laporan amnesty Internasional waktu itu menyebutkan jumlah orang yang tewas pada peristiwa itu ribuan. Pada 2008 Cina pun memanfaatkan perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat, dengan alasan mensukseskan Olimpiade Beijing 2008, menjelang pesta olahraga dunia itu kaum Uighur kembali mengalami tekanan yang luar biasa berat. Penagkapan dan pembunuhan dilakukan oleh tentara Cina untuk mencegah dukungan terhadap mereka. Sikap refresif itu berhasil membatasi ruang gerak Islam disana, sekaligus menciptakan lebih banyak ketegangan etnis. (Republika, 15 Juli 2009)

Xinjiang adalah masalah Internasional. Sungguh disana ada kekerasan, ada tindakan melecehkan nilai-nilai kemanusian, ada penodaan terhadap demokrasi serta hak-hak dasar manusia, ada pelanggaran HAM berat oleh aparat Cina yang bisa disamakan sebagai genosida oleh PM Turki ada pembersihan etnik secara perlahan-lahan disana dan juga penghilangan warisan budaya secara massif. Negara-negara muslim dan PBB tidak bisa berdiam diri. Pemerintah Cina harus didesak untuk menciptakan keadilan, membuka lapangan kerja, memberi kebebasan dalam mengenyam pendidikan, serta menjalankan aktivitas agama mereka sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai HAM.

* Staf Dept Kajian dan Jaringan Isu Strategis PB PII

Orang Tua Murid Keluhkan Biaya Buku Pelajaran

Posted by admin On Juli - 17 - 2009

DEPOK —
“Kami hanya mengarahkan mereka.”

— Sejumlah orang tua murid di SD Negeri Cipayung 1, Jalan Bonang Raya 15, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, mengeluhkan mahalnya biaya buku pelajaran. Salah satu orang tua mu- rid di sekolah itu mengatakan harus mengeluarkan biaya hingga Rp 400 ribu untuk membeli satu paket buku untuk anaknya. Satu paket terdiri atas 11 buku pelajaran dan Lembar Kerja Siswa Padahal ia pernah mende- ngar dari temannya bahwa harga buku di SD lain tidak semahal itu. “Ada orang tua murid yang anaknya di SD Cipayung 2 hanya bayar 150 ribu untuk satu paketnya,” ujarnya kepada Tempo di halaman sekolah tersebut kemarin

Selain itu, pihak sekolah tidak pernah memberi tahu apa penerbit buku-buku tersebut  “Kalau kami tahu penerbitnya, kami kan bisa beli di luar,” ujarnya
Orang tua murid lainnya yang enggan disebutkan namanya dengan kesal mengemukakan, “Kami diarahin harus beli buku ke sekolah,” Padahal keputusan tentang harga jual buku belum pernah dirapatkan antara pihak sekolah dan orang tua murid
“Saya bukannya nggak mau beli, tapi harga jualnya terlalu mahal,” ujarnya
Kepala SD Negeri Cipa- yung 1 Royadi membantah tudingan pihak sekolah memaksa orang tua murid membeli buku ke sekolah
“Kami tidak pernah menjual buku ataupun memaksa. Kami hanya mengarahkan mereka,” ujarnya. Menurut dia, sejak hadirnya dana Bantuan Operasional Sekolah, sekolah dilarang menjual buku, Royadi mengungkapkan, beberapa distributor penerbit langsung mendatangi sekolah guna menawarkan buku.

Dia mengatakan ada enam distributor yang datang ke sekolahnya menawarkan buku, Pihak sekolah kemudian memilih tiga di antaranya yang dianggap baik dari segi kualitas dan materi untuk direkomendasikan ke wali murid.
Namun, Royadi menegaskan, pembelian buku tersebut sifatnya tidak wajib
Royadi mengakui ada pembagian keuntungan sebesar 3,5 persen bagi setiap buku yang terjual antara pihak distributor dan sekolah
Mengenai harga jual buku, ia mengatakan akan segera melakukan koordinasi dengan distributor buku terkait dengan hal ini. “Kami nanti akan cari tahu kenapa harga buku bisa mahal, sementara di sekolah lain bisa murah,” ujarnya

Harga jual buku lebih ma hal diduga juga terjadi di beberapa sekolah lain. Pada Jumat pekan lalu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Depok menggelar demonstrasi di depan gedung Wali Kota Depok. Mereka mendapati beberapa SD di Kecamatan Sukmajaya menjual buku-buku pelajaran berlogo Buku Sekolah Elektronik lebih tinggi dari harga eceran tertinggi yang ditentukan Departemen Pendidikan Nasional
Wakil Wali Kota Depok Yuyun Wirasaputra berharap permasalahan buku sekolah tidak menimbulkan gejolak di tingkat bawah. Yuyun meminta agar warga yang menemukan keganjilan menyampaikan permasalahannya ke kepala sekolah atau ke dinas pendidikan terlebih dulu. “Jangan semuanya langsung mengadu ke Wali Kota,” katanya di Balai Kota Depok. Meski demikian, Yuyun meyakinkan bahwa pemerintah kota tidak akan lepas tangan terhadap permasalahan ini
(sumber : Koran tempo, 17 Juli 2009)

Pemerintah Selidiki Penyimpangan Orientasi Sekolah

Posted by admin On Juli - 17 - 2009

– Pemerintah Kota Sura baya membentuk tim yang bertugas menelusuri dugaan penyimpangan masa orientasi siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri 16 Surabaya. Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono mengatakan sudah memerintahkan pembentukan tim pada Rabu malam lalu.

Tim itu terdiri atas Dinas Kesehatan,  Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat,  serta Sekretaris Daerah Surabaya.  “Juga ada dari Inspektorat Kota,” kata dia kemarin.  Selain bertugas mengevaluasi kegiatan masa orientasi, mela luitim ini pemerintah menyalurkan santunan kepada korban yang meninggal akibat kegiatan tersebut.

Masa orientasi di SMAN 16 Surabaya menelan korban jiwa. Siswa bernama Roy Aditya Perkasa, 16 tahun, Rabu lalu meninggal setelah mengikuti kegiatan tersebut. Saat itu, bersama ratusan siswa lain, Roy baru saja mengikuti acara orientasi sekolah.

Meski acara telah usai, banyak siswa berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti agenda tambahan. Mendadak sontak Roy pingsan di tengah kerumunan. Dia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. Me nurut polisi, Roy tewas diduga karena kondisi tubuhnya yang lemah.

Menurut Bambang, pemerintah akan memberikan sanksi kepada pihak sekolah jika ditemukan adanya penyimpangan. Kewenangan itu ada di Dinas Pendidikan Kota Surabaya. “Ini kan tanggung jawab dinas pendidikan,” kata dia.

Dia juga mempertimbangkan akan menghapuskan kegiatan perpeloncoan bagi siswa baru itu. Masa orientasi bisa diganti dengan kegiatan di dalam kelas, yang berisi materi pengenalan siswa baru terhadap kurikulum, ekstrakurikuler, atauorganisasi kesiswaan.

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengusulkan agar orientasi sekolah dihapuskan. Sebab, kegiatan ini justru rawan kekerasan bagi siswa baru. “Hanya namanya yang (seolah-olah) bukan perpeloncoan,” kata dia di Surabaya kemarin.

Kekerasan pada masa orientasi bisa berdampak buruk pada perkembangan jiwa anak-anak. Mereka akan menyimpan rasa dendam dan dilampiaskan kepada adik kelas saat kegiatan serupa digelar tahun berikutnya.
(sumber : Koran tempo, 17 Juli 2009)

Astaga, Roy Meninggal Saat Ikuti MOS!

Posted by admin On Juli - 16 - 2009

SURABAYA, KOMPAS.com - Roy Aditya, siswa baru SMA Negeri 16 Surabaya, Jawa Timur, meninggal dunia saat mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolahnya, Rabu (15/7).

Hingga kini, belum diketahui pasti penyebab tewasnya anak muda berusia 16 tahun tersebut. Menurut keterangan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 16 Surabaya, Edi, tidak ada kegiatan fisik dalam program MOS yang diselenggarakan di sekolahnya itu.

“Sebelum meninggal dia hanya menonton teman-temannya yang sedang mempersiapkan acara penutupan MOS, tiba-tiba dia pingsan,” katanya.

Dalam kondisi pingsan, korban sempat diberi pertolongan di ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kemudian, korban dilarikan ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya.

Di rumah sakit itu, korban sempat ditangani dengan alat bantu pernapasan. Namun, korban tidak bereaksi sedikit pun, sehingga dokter di rumah sakit itu menyatakan, Roy meninggal dunia.

Pihak RSI Jemursari menyarankan agar jasad Roy dibawa ke RSUD dr. Soetomo untuk diautopsi. Hingga kini autopsi terhadap jasad korban masih berlangsung.

Sementara itu, Nani, ibunda korban, menyatakan, putranya tidak memiliki riwayat penyakit apapun. “Hanya sebelumnya, anak saya itu mengaku ketakutan saat disuruh membawa kayu bakar oleh para seniornya. Kalau tidak membawa, anak saya takut dipukul,” tutur Nani.

Singkat kisah, Roy pun berangkat ke sekolah tanpa membawa kayu bakar seperti perintah rekan seniornya itu. “Saya kaget, mendengar informasi dari pihak rumah sakit, bahwa anak saya meninggal dunia saat MOS,” kata Nani.

Sebagai orang tua, pihaknya mengikhlaskan anaknya meninggal dunia. “Saya ikhlaskan anak saya meninggal dunia. Tapi saya minta hukum harus ditegakkan,” katanya seraya meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surabaya dan aparat penegak hukum mengusut peristiwa yang merenggut nyawa anaknya itu.

Sementara itu, Kepala Disdik Kota Surabaya, Sahudi, tidak bersedia memberikan pernyataan terkait peristiwa tragis yang terjadi di SMA Negeri 16 tersebut.

“Mohon maaf Mas, saya sedang repot,” kata Sahudi seraya menutup pesawat telepon selulernya ketika hendak dikonfirmasi mengenai peristiwa maut di sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Prapen Surabaya itu.

32 Anak Yatim Dikirim ke Yayasan Fajar Hidayah

Posted by admin On Juli - 15 - 2009

15 July 2009, 08:01

TAKENGON - Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh Tengah mengirim 32 anak yatim piatu dan kurang mampu ke Sekolah Islam Yayasan Fajar Hidayah di Lambaro, Kabupaten Aceh Besar. Keberangkatan anak yatim piatu untuk disekolahkan itu dihadiri oleh Asisten Tatapraja Setdakab Aceh Tengah, Ir Sahrial dan Ketua Keluarga Besar PII Aceh Tengah, Drs H Ibnu Hajar Laut Tawar.

Ketua Umum PII Aceh Tengah, Win Noto Gayo, Selasa (14/7) mengatakan, 32 anak yatim piatu itu direkrut dari seluruh kecamatan yang ada di daerah dingin itu untuk disekolahkan pada Yayasan Fajar Hidayah Aceh Besar. Para anak yatim piatu yang diberangkatkan itu terdiri dari murid Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dikatakan, karena tidak mampu membiayai sekolah, banyak di antara mereka yang tidak sekolah lagi. “Sebagai bentuk rasa solidaritas, PII Aceh Tengah mengirimkan 32 orang anak yatim-piatu untuk melanjutkan pendidikan paada Yayasan Fajar Hidayah Aceh Besar,” ujar Win Noto Gayo.

Menurut Win Noto, selama belajar yayasan itu, seluruh biaya-biaya pendidikan dan peralatan sekolah ditanggung oleh Yayasan Fajar Hidayah. Bagi mereka yang mampu mengukir prestasi selama menempuh pendidikan, pihak yayasan akan membiayai kelanjutan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

Win mengaku, bahwa program pengiriman anak yatim untuk mengikuti pendidikan ke luar daerah itu, merupakan pertama kalinya dilakukan oleh PII Aceh Tengah. Untuk itu, ia sangat mengharapkan kepada Pemkab Aceh Tengah memberikan dukungannya terhadap program ini. Ketua Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Aceh Tengah, Drs H Ibnu Hajar Laut Tawar mengatakan, seperti anak-anak lain, anak yatim-piatu dan kurang mampu juga dapat meraih masa depan yang gemilang dengan bekal keyakinan dan ketekunan belajar. Untuk itu, ia berharap agar anak-anak yatim-piatu tidak merasa rendah diri terhadap kekurangannya. “Saya berharap jumlah anak yatim-piatu yang dikirim untuk sekolah ke luar daerah terus bertambah dari tahun ke tahun,” ujar Ibnu Hajar Laut Tawar.(min)
(sumber : http://www.serambinews.com/news/32-anak-yatim-dikirim-ke-yayasan-fajar-hidayah)

Sekolah Digusur, Ratusan Siswa Blokir Jalan

Posted by admin On Juli - 14 - 2009

Selasa, 14/07/2009 12:53 WIB
Pematang Siantar - Ratusan siswa, guru, dan masyarakat di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara (Sumut), turun ke jalan. Mereka memprotes penggusuran sekolah mereka, SMA Negeri 4 Pematang Siantar. Mereka memblokir jalan. Akhirnya, polisi membubarkan aksi mereka.

Demonstrasi yang diikuti sekitar 400 orang itu semula berlangsung damai di depan bekas gedung sekolah SMA Negeri 4 Siantar di Jl. Patimura, Siantar, sekitar 80 kilometer ibukota Sumut, Selasa (14/7/2009). Setelah itu, mereka memblokir jalan lintas Sumatera.

Saat memblokir jalan inilah, suasana menjadi runyam. Terjadi salin dorong dan bentrokan antara para demonstran dengan polisi. Akhirnya aparat kepolisian berhasil menghalau mereka dan menangkapi para pelaku unjuk rasa. Setidaknya ada enam orang yang ditahan.

“Ada enam orang yang ditangkapi, kami minta polisi untuk membebaskan mereka,” ujar Sanggul Manik, salah seorang guru SMA Negeri 4 yang ikut dalam aksi itu.

Keenam pelaku yang ditahan itu, menurut Manik, seorang guru, seorang siswa dan para warga yang turut menentang pemindahan sekolah tersebut.

Manik menyatakan, aksi demo terpaksa mereka lakukan karena sekolah mereka ditutup dan dipindahkan ke Jl. Gunung Sinabung. Selain ada masalah dalam tukar-guling tersebut, guru dan siswa juga menilai sarana yang tersedia di sekolah baru juga tidak memadai.

Menyusul penangkapan enam kawan-kawannya, seluruh pendemo kemudian mendatangi Mapolresta Siantar di Jl. Patuan Nagari, Siantar menuntut pelepasan enam rekan mereka. Pada Senin (13/7/2009) kemarin, para siswa juga melakukan unjuk rasa yang sama.
(http://www.detiknews.com/read/2009/07/14/125303/1164701/10/sekolah-digusur-ratusan-siswa-blokir-jalan)

Berantas Lima Penyakit Pelajar

Posted by admin On Juli - 7 - 2009

Berantas Lima Penyakit Pelajar
LANGSA-Ada lima problem (masalah) mendasar dalam diri pelajar dewasa ini yang harus segera diberantas dan dicarikan solusinya. Kelima masalah itu adalah bolos sekolah, memakai narkotika, kurangnya pendidikan agama, merokok dan pergaulan yang menjurus pada pelanggaran syariat.

Demikian dikatakan Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Langsa, Maulana kepada koran ini, Sabtu (4/4) di ruang Sekretariat Kp. Jawa, Langsa Kota.
“Apalagi selama ini khususnya di Kota Langsa, perkembangan sarana teknologi seperti internet yang marak juga menjadi salah satu indicator yang dapat menggiring pelajar ke hal-hal yang negatif dengan mengakses situs-situs pornografi,” terangnya.

Menurutnya, lima problem ini harus segera diberantas sedini mungkin sebelum moral dan ahklak generasi bangsa ini semakin hancur. Juga kepada pemerintah kota (Pemko) Langsa harus peduli dan mencarikan solusi terbaik demi penyelamatan generasi bangsa ini.

Jangan sampai lima problem mendasar ini menjadi bom waktu yang akan menghancurkan negeri ini sendiri, karena sudah pasti generasi saat ini akan menjadi pemimpin dimasa mendatang dan bila lima masalah ini tidak teratasi, maka siap-siap kedepan negeri ini akan dipegang oleh orang-orang yang tidak bermoral, tegas Maulana lagi.

Dia juga menjelaskan, atas keprihatinannya itu PII Cabang Langsa akan menggelar lokakarya alternative pemecahan masalah untuk penelitian perbuatan tingkah laku pelajar kota Langsa. Dalam kegiatan yang akan diikuti oleh seluruh OSIS sekolah di Kota Langsa itu PII akan coba menggalang masukan dan mencari solusi terbaik untuk pemecahan masalah tersebut. (dai)
(sumber : http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=9514&tit=Berita%20Utama%20-%20Berantas%20Lima%20Penyakit%20Pelajar)

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook
    close
    Jangan lupa kunjungi Komunitas PII Cyber disini