.

     

Archive for Mei, 2009

PII KECEWA KOALISI ELIT PARPOL JELANG PILPRES

Posted by admin On Mei - 31 - 2009

Pelajar Islam Indonesia (PII) mengaku kecewa dengan koalisi yang dibangun oleh para elit partai politik menjelang pemilu presiden (pilpres) 8 Juli 2009 karena bersifat praktis dan tidak mencerminkan politik yang santun.
Jakarta, 24/5 (Roll News) - Pelajar Islam Indonesia (PII) mengaku kecewa dengan koalisi yang dibangun oleh para elit partai politik menjelang pemilu presiden (pilpres) 8 Juli 2009 karena bersifat praktis dan tidak mencerminkan politik yang santun.

“Koalisi yang dibangun elit politik kita hari ini masih bersifat praktis dan tidak santun,” ujar Ketua Umum PB PII, Nasrullah Al Ghifari pada Resepsi Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-62 di Auditorium Adhiyana Wisma ANTARA, Jakarta, Minggu.

Dalam acara yang dihadiri sejumlah mantan aktivis PII diantaranya Menneg BUMN Sofyan Djalil dan sekitar 200 pelajar itu, Nasrullah mengatakan, koalisi yang ada tidak menggambarkan perubahan dan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat.

Padahal besar harapan masyarakat terutama kalangan pelajar agar para elit bisa melakukan perubahan dan pendidikan politik yang santun tidak hanya alat untuk meraih kekuasaan semata.

“Politik bukan sekedar alat pemenuhan kekuasaan atau membentuk pencitraan tetapi dibelakang menyisakan konflik, namun pendidikan pada masyarakat jauh lebih penting,” ujarnya.

Sehingga, lanjut dia, jangan disalahkan jika masyarakat mulai jenuh sehingga memilih “golput” pada pemilu legislatif dengan jumlah yang cukup tinggi sekitar 40 persen dari daftar pemilih tetap.

Secara organisasi PII yang memiliki 28 cabang di tingkat propinsi dengan tegas tidak mendukung salah satu pasangan capres, namun hanya menentukan kriteria pemimpin Indonesia periode 2009-2014, kata dia.

Dalam kesempatan itu Sofyan Djalil mengatakan fenomena yang terjadi pada dunia politik di Indonesia dewasa ini merupakan gejala sosiologis yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dimana gambar atau simbol tidak lagi dipercaya.

“Ini semua kesalahan umat muslim karena terlena, merindukan sejarah lama yang mendambakan lahirnya partai seperti Masyumi dan mengabaikan partai yang ada. Sehingga partai Islam yang ada tidak mendapatkan mandat dari masyarakat karena krisis kepercayaan,” ujarnya. (T.SDP-40/B, Ahad, 24 Mei 2009)

(Sumber: http://www.news.id.finroll.com/politik/59747-____pii-kecewa-koalisi-elit-parpol-jelang-pilpres____.html)

UU Sisdiknas Ancam Mahasiswa Kedinasan

Posted by admin On Mei - 25 - 2009

BANDUNG–Dicabutnya Undang-undang No 2 tahun 1989 dan diganti dengan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) menimbulkan permasalahan bagi perguruan tinggi kedinasan yang sudah berpuluh tahun beroperasi.

”Di dalam UU Sisdiknas yang baru, PTK diharapkan memiliki kemandirian tinggi seperti swasta seperti tertuang bahwa UU Badan Hukum Pendidikan (BHP),” kata Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Kedinasan, Ngadisah, saat Semiloka PTK di Bandung, Sabtu (23/5).

Kemandirian tinggi, menurut Ngadisah menuntut PTK untuk menanggung semua biaya operasional kampus sendiri.”Bila ini diterapkan banyak yang tidak kuat, terutama siswa PTK yang berasal dari keluarga menengah ke bawah yang memilih PTK karena tanpa biaya,” kata Ngadisah.

Jika akhirnya kemandirian ini diterapkan ditakutkan banyak PTK yang tidak kuat menahan beban operasional kegiatan perkuliahan di kampus.”Siswa yang tidak mampu pun bisa terancam tidak bisa meneruskan sekolahnya,” kata Ngadisah. Pada tahun 2005 jumlah PTK yang terdaftar pada APTK berjumlah 98 PTK dengan 8.000 dosen dan 65.000 siswa.

Polemik pada pemberlakuan UU No 20 tahun 2003 tentang sisdiknas diakui juga oleh Ngadisah terjadi diantara para PTK yang ada.Perbedaan pedapat itu pula menyebabkan ada tiga pilihan yang berkembang di tengah-tengah PTK.Ada yang status quo yang ingin kegiatan perkuliahan tetap seperti saat ini tetap di bawah departemen yang menaungi, bergabung dengan perguruan tinggi lain atau menjadi bahan hukum pendidikan.

Di tempat yang sama, Ketua Badan Pendidikan dan Penelitian Departemen Sosial, Marzuki mengatakan hal senada.”Jika siswa harus menanggung semua dengan biaya sendiri banyak yang tidak mampu,” kata dia.Untuk kondisi saat PTK adalah perguruan tinggi yang paling sesuai karena siswa tidak mengeluarkan biaya sedikit pun hanya biaya operasional mereka di luar kampus.

Ia mencontohkan seperti Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) yang menerima siswa sebagai tugas belajar. Semua disiapkan oleh pihak kampus termasuk seragam dari anggaran departemen.

Untuk masalah Rencana Perubahan Perundangan PTK dan UU BHP, Ngadisah juga mengatakan bahwa ada permasalahan lain yang dihadapi.Adanya anggapan penyelenggaraan PTK yang ada di departemen saat ini bukan merupakan BHP membuat PTK tidak berhak untuk menyelenggarakan pendidikan secara mandiri.

Namun di sisi lain,BHP yang menyelenggarakan PTK belum tentu memperolaeh anggaran pemerintah melalui depratemen yang terkait dengan bidang kedinasannya.”BHP PTK menjadi tidak berbeda dengan perguruan tinggi swasta (PTS).Kalau seperti ini eksistensi BHP PTK diperkirakan tidak akan berumur panjang,” Ngadisah.

Karena itu,pihak PTK pun menyarankan agar RPP ini tidak disahkan secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan masukan dari berbagai lembaga pendidikan dinas yang ada.Jika RPP tersebut disahkan tanpa mempertimbangkan aspirasi dari berbagai pihak kunci dianggap sebagai pengingkaran terhadap UU No 20 tahun 2003 tentang sisdiknas.fia/kem (republikanewsroom Minggu, 24 Mei 2009 pukul 12:33:00 )

Undangan Resepsi Harba ke-62 & Seminar Pendidikan

Posted by admin On Mei - 18 - 2009

Memasuki usia ke-62 Pelajar Islam Indonesia telah menorehkan catatan perjuangannya bersama bangsa ini. Lahirnya  sebagai jembatan yang menyatukan kaum santri dengan pelajar nasionalis kemudian membawa PII menjadi besar dengan sejumlah agenda perjuangan yang dilakukan bersama kader-kadernya dalam upaya penyelamatan bangsa. PII dengan gerak perjuangannya tampil sebagai pionir menjawab berbagai persoalan agama dan bangsa.

Kini di usia ke-62, dengan spirit perjuangannya PII tetap eksis sebagai elemen bangsa turut memberikan peran strategis dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa yang menjadi fokus orientasi pergerakan PII. Dengan melakukan refleksi terhadap lahirnya PII dan gerka perjuangannya sejak 62 tahun silam hingga saat ini, akan membangkitkan dan melahirkan kembali (reborn)  spirit dan komitmen kader untuk tetapmelanjutkan agenda pergerakan perjuangannya.

Rangkaian acara:

1. RESEPSI HARI BANGKIT (HARBA) PII KE-62

Kegiatan ceremonial yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari bangkit PII dengan agenda acara inti antara lain :

  • Pembacaan pidato HARBA PII ke-62 oleh Ketua Umum PB PII (Nasrullah),
  • Sambutan Ketua Umum PP Perhimpunan KB PII (Tanri Abeng, MBA),
  • Sambutan dan orasi ilmiah dari Menteri Negara BUMN (),
  • Penganugerahan  Kader-kader PII berprestasi,
  • Launching Buku berjudul  “Keluar Dari Kemelut”,
  • Deklarasi Pelajar Cinta Produk Dalam Negeri.

2. SEMINAR PENDIDIKAN

Salah satu permasalahan bangsa hari ini dalam dunia pendidikan, seharusnya pendidikan mampu membangun karakter anak bangsa yang baik sehingga dapat berdampak pada pemembangunan bangsa dengan baik pula, tetapi kenyataan yang ada bangsa ini merupakan negara yang terkorup, tindakan kekerasan terjadi dimana-mana, perusakan lingkungan terjadi hampir disemua wilayah sehingga mengakibatkan bencana alam dan banyak lagi tindakan yang dapat merusak tatanan kehidupan kebangsaan.
Suatu hal yang disayangkan adalah para pelakunya adalah orang-orang yang memiliki pendidikan yang lumayan tinggi. Oleh karena itu perlu adanya suatu rekonstruksi pemikiran bangsa ini supaya pendidikan menjadi suatu prioritas sebagai upaya membangun karakter anak bangsa (caracter building).
Tema seminar; “Pendidikan Sebagai Alat Pembentuk Karakter Bangsa”.
Adapun pembicaranya adalah :
    Kanda Dr. Abduh Zen (IER)
    Max Supacua, S.E., M.Sc. (Ketua Ketua Partai Demokrat)
    Soemarsono*  (Setjend Partai Golkar)
    Nashrullah (Ketua Umum PB PII)
Dalam seminar di atas juga akan dideklarasikan Pelajar Anti Mencontek oleh Pelajar Islam Indonesia.

3. JURNALISTIC FOR STUDENT

Seiring dengan deras arus informasi, maka diperlukannya suatu media alternatif untuk dapat membendung arus informasi yang negatif tersebut, oleh karena itu untuk membangun sebuah media alternatif haruslah ada sumber daya manusia yang baik dan profesional.
PII sebagai organisasi kader, memiliki banyak kader yang dapat menciptakan media alternatif tersebut, tetapi kader yang ada haruslah dibekali dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai dalam hal kejurnalistikan.Oleh karena itu perlu adanya kegiatan pelatihan jurnalistik untuk menciptakan kader-kader PII yang profesional dalam bidang jurnalistik.
Pelatihan ini berlangsung selama 3 hari.

4.    PELATIHAN MANAJEMEN KEARSIPAN BAGI PELAJAR

Perhelatan Muktamar Nasional (MUKNAS) Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-26 di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Juli 2008 lalu, menghasilkan perubahan pada perangkat hukum PII (AD/ART) dan lain-lain. Perubahan ini juga secara langsung berdampak pada sistem administrasi sebagai perangkat dinamisasi organisasi.
Untuk menjadikan perangkat-perangkat Administrasi PII  tetap relevan dengan semangat perubahan yang telah dilakukan maka PB PII memandang perlu untuk mengadakan Workshop Manajemen kearsipan bagi pelajar yang menjadi acuan administrasi sekaligus melakukan evaluasi sehingga terjadi perbaikan yang sesuai dengan semangat perubahan tersebut.
Workshop ini berlangsung selama 3 hari.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

No.

Kegiatan

Waktu

Tempat

1.

Refleksi HARBA 04 Mei 2009 Sekretariat PB PII

2.

Work Shop MKP 21-23 Mei 2009 Pusat Pengembangan Sumber Daya Pemuda

3.

Resepsi HARBA 24 Mei 2009 Auditorium Wisma ANTARA

4.

Seminar Pendidikan 24 Mei 2009 Auditorium Wisma ANTARA

5.

Jurnalistic for Student 25-27 Mei 2009 Pusat Pengembangan Sumber Daya Pemuda

Dengan ini kami mengundang kader PII, Alumni PII, Simpatisan PII, Pelajar, Aktifis Pendidikan dan Kebudayaan, Akademisi Pendidikan dan Kebudayaan, Orang Tua Murid; untuk menghadiri serangkaian kegiatan HARBA PII Ke-62 tersebut diatas.

CP: Maryam (08), Ali (0811 9649 165)

Kado Spesial Pemerintah di Harba PII Barru Ke-62

Posted by Andi Muhammad Nur Syahied On Mei - 17 - 2009

Barru - Segenap di Barru, Kamis, 14 Mei menggelar Refleksi Hari Bangkit ke-62 Pelajar Islam Indonesia (PII) Tingkat Kabupaten Barru.

Para pelajar yang mengenakan seragam sekolah itu memperlihatkan antusiasme respon positif terhadap kegiatan-kegiatan PII, yang tentunya mampu menyuarakan dan mengakomodir segala kepentingan Pelajar. “Harapan Itu Cuma ada di PII”, Tegas salah satu Pelajar SMP yang hadir

“Selama ini, PII masih jauh dari sgala persoalan pelajar dan masyarakat yang terjadi. Kita akui itu, makanya kita berusaha untuk mengembalikan identitas itu.” kata Ketua Umum PD PII Barru, A. Muhammad Nur Syahied.

Tak hanya itu katanya, “kita akan berusaha mendekat dan menyelami segala problematika pendidikan dan kebudayaan. PII sudah punya solusi untuk bangsa. Tinggal butuh dukungan Pemerintah dan seluruh masyarakat” Ujarnya

Keresahan akan kondisi sosial tersbut direspon dengan baik oleh pihak Pemerintah Kab. Barru.

Pemerintah Kabupaten Barru menunjukkan keseriusannya untuk menjalin kerjasama dengan PII sebagai dapur intelektual Pemerintah Daerah.

“Kita menilai selamana ini program-program PII cukup peka dengan kondisi kekinian, sehingga Pemerintah bertanggung jawab untuk mengawal gerak langkah PII. Ujar Sekretaris Daerah Barru dalam Sambutannya.

“Langkah pertama kita akan lakukan adalah memfasilitasi PII Barru dengan Sekretariat berlantai 2, sekaligus
menjadi Kado Spesial Untuk Harba PII Ke 62″ lengkap Drs. H. A. Syamsul Rijal, M.SI disambut riuhan tepuk tangan hadirin.(Miswar)

Demikianlah ungkapan hati kanda Prof. Dr. Usman Pelly, MA selaku Ketua Umum Perhimpunan KB PII Sumatera Utara pada saat acara peringatan Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-62 yang diselenggarakan oleh PW Pelajar Islam Indonesia (PII) Sumatera Utara Periode 2007 – 2009 pada hari Jum’at 09 Mei 2009 bertempat di Gedung Ummat, Jl. Brigjend. Katamso No. 325 Medan.

Bangkitnya PII adalah karena adanya bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa khususnya pelajar yang terpecah-pecah. Akan tetapi pada hari ini bentuk keprihatinan itu bertambah, selain kondisi bangsa yang carut marut tetapi juga kondisi PII itu sendiri”. Lanjutnya.

Selanjutnya Pj. Ketua Umum PW Pelajar Islam Indonesia (PII) Sumatera Utara Periode 2007 – 2009 menyatakan bahwa keikhlasan ber-PII pada saat ini luntur dari dalam diri kader PII. Rasa memiliki yang belum tertanam menyebabkan loyalitas kader untuk ber-PII sangatlah minim.

Ketua panitia acara, Aidi Sasmita mengungkapkan bahwa rangkaian peringatan Hari Bangkit PII ke-62 ini akan berlangsung selama 2 hari dimulai hari ini tanggal 08 hingga 09 Mei 2009 yang diisi berbagai macam kegiatan, diantara refleksi HARBA PII, Cerdas Cermat ber-PII, Rujak party, dan pemutaran film dokumenter PII dalam pusaran sejarah, serta film pendidikan Laskar Pelangi.

Acara tersebut dihadiri lebih dari ratusan orang kader PII utusan Pengurus Daerah se-Sumatera Utara yakni PD PII Kota Medan, PD PII Kab. Langkat, PD PII Kota Binjai, PD PII Kab. Tanah Karo, PD PII Kota Tebing Tinggi, PD PII Kab. Deli Serdang, PD PII Kab. Serdang Bedagai, PD PII Kota Pematang Siantar, PD PII Kota Tanjung Balai, serta Keluarga Besar PII Sumatera Utara. Di sela-sela acara diisi juga dengan dialog interaktif seputar PII dan permasalahannya. Adapun selaku pembicara antara lain : Kanda Usman Pelly, Yunda Halimah, Kanda M. Iqbal (Ketum 2000-2002), Kanda Mhd. Taufiq (Ketum 2004-2005), Kanda Zulfiansyah P. Sinaga (Ketum 2005-2007), Usman Harahap (Pj. Ketum 2007-2009).

Posted by: PW PII Sumut

PD PII Kota Medan Raih Juara I Cerdas Cermat Ber-PII

Posted by admin On Mei - 15 - 2009
Hal tersebut diungkapkan panitia acara pada saat penyerahan piala kepada para pemenang dalam kegiatan cerdas cermat ber-PII yang diselenggarakan dalam memperingati Hari Bangkit (HARBA) PII ke-62 pada hari sabtu 09 Mei 2009.

Selain Juara I yang diraih PD PII Kota Medan, untuk Juara II diraih oleh PD PII Kota Binjai, dan Juara III diperoleh PD PII Kota Pematang Siantar. Sedangkan PD PII Kabupaten Serdang Bedagai memperoleh Harapan I.

Selain itu, kategori untuk pendukung tim terbaik diperoleh PD PII Serdang Bedagai dan kategori untuk jumlah utusan peserta terbanyak diraih oleh PD PII Kabupaten Tanah Karo yang berjumlah 18 orang.

Ketua Umum PD PII Kota Medan, Rahmad Rivaldi, ketika ditemui Esensi mengungkapkan bahwa cukup bergembira terhadap hasil yang diperoleh dalam kegiatan cerdas cermat ini. “Kami sudah mempersiapkan kader terbaik kami untuk kegiatan cerdas cermat ini jauh-jauh hari, dan syukur alhamdulillah memperoleh hasil yang maksimal”. Lanjutnya.

Posted by: PW PII Sumut

Menangisi UN

Posted by admin On Mei - 15 - 2009

Ini hari kedua saya menjadi salah satu anggota pengawas Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UASBN) SD. Saya mendapat tugas di daerah yang kondisinya jauh berbeda dengan tempat saya mengajar di Jurang Koak, Bebidas. Dan tugas itu harus saya jalani.

Ternyata tidak hanya di Sumatera Utara kecurangan yang terjadi seperti tulisan Kompas (21/5). Di hari kedua ini, terlalu banyak catatan kecurangan yang harus saya lihat di depan mata. “Laporan dari tim investigasi kami ada guru yang sengaja membagi jawaban di depan kelas kepada murid,” ungkap Deni Boy Saragih, Anggota Dewan Kehormatan Komunitas Air Mata Guru (KAMG).

Walau tidak memberikan jawaban kepada siswa dengan membagikan kertas kecil (besarnya tidak sampai melebihi telapak tangan) kepada murid. Tapi jelas di sekolah tadi sebagian dari lembar jawaban ini bertuliskan tangan dan dibagikan merata pada murid.

Tak heran, istri saya harus memberontak tahun lalu. Karena dipaksa menjawab soal UN yang sejatinya dijawab murid di salah satu MAN di Selong. Memberontak di depan murid, menangis di depan semua mata yang melihatnya: murid, pengawas, kepala sekolah dan jajaran pegawai di sekolah tersebut.

Memang UN bukanlah faktor utama peningkatan mutu pendidikan, tetapi pemerintah harus total dalam pengawasan pelaksanaan UN ini dan wajar diperlakukan sebagai penentu kelulusan siswa dari sekolah bila guru dan pengawas secara sistematis menjadikan UN hanya formalitas belaka.

Maka, maraknya praktik kecurangan mestinya dijadikan momentum untuk mengevaluasi kebijakan UN. Mempersalahkan guru apalagi menghukum, tidak akan menyelesaikan masalah, karena guru bukan aktor utama terjadinya kecurangan. Saatnya pemerintah daerah menindak tegas pelaku kecurangan terhadap ujian nasional (UN). Semoga.

Posted by Rusydi Hikmawan

Sebagai Keluarga Besar PII saya tidak tahu apakah Draft Pernyataan Sikap ini berdasarkan hasil kajian atau hanya hasil pemikiran berdasarkan fakta-fakta spasial. Tulisan ini tidak bermaksud memberikan penilaian, namun seperti judulnya adalah sebuah bentuk tanggapan dari sudut pandang yang berbeda. Sedapat mungkin saya akan menanggapinya secara obyektif. Sengaja saya jadikan artikel, karena kalau diisi di halaman komentar mungkin mengganggu estetika website kita ini.

1. Pencabutan BHP

Badan Hukum Pendidikan merupakan salah satu upaya meringankan beban yang memang bukan kewajiban pemerintah. UUD 1945 hanya mewajibkan Pemerintah membiayai secara penuh Pendidikan Dasar dan Menengah, sehingga Pendidikan Tinggi tidak termasuk kewajiban Pemerintah. Hal ini sudah dipenuhi oleh Pemerintah dengan penerapan Sekolah Gratis. Toh sebelum diterapkannya BHP, jumlah Perguruan Tinggi Swasta lebih banyak dari PTN dan terbukti eksis.

Jangankan Indonesia sebagai sebuah negara berkembang (atau miskin?), Amerika Serikat saja tidak membiayai PTN. Jika Pemerintah tetap membiayai PTN, maka Indonesia akan menjadi Negara Sosialis terbesar di dunia! Dengan BHP, PTN dituntut untuk mandiri dan menunjukkan bahwa mereka adalah sebuah institusi intelektual yang mampu menerapkan sumber daya yang dimiliki dalam pembiayaan lembaga. Justru di sinilah pembuktian kualitas civitas akademika PTN, apakah mereka memang berkualitas di aplikasi atau hanya teori alias OMDONG (Omong Doang)!

Jika PII tidak sepakat dengan Liberalisasi Pendidikan Tinggi, menurut saya sebaiknya juga tidak sepakat dengan Sosialisme Pendidikan Tinggi. Artinya apa? PII harus turut memberikan sumbangan solusi kepada bangsa ini, bagaimana caranya agar PTN tetap terjangkau oleh masyarakat miskin namun juga tidak memberatkan Anggaran Negara.

2. Penolakan Ujian Nasional

Ujian Nasional adalah sebuah konsekuensi dari Kurikulum Standar Nasional. Jika kurikulum tidak dibuat standar nasional, maka ujiannya juga tidak perlu nasional. PII tidak memberikan solusi untuk tuntutan ini.

Jika memang tidak setuju dengan Ujian Nasional, setidaknya ada 2 hal yang menjadi perhatian yaitu :

a. Keberlangsungan Kurikulum Standar Nasional. Perlu dikaji tentang masih perlu tidaknya kurikulum dibuat standar secara nasional. Jika PII merasa ini tidak perlu, maka publikasikan hasil kajian tersebut untuk menuntut perubahan Kurikulum dan otomatis Ujian Nasional juga ikut dihapus.

b. Tolok Ukur Standarisasi Kurikulum. Jika Kurikulum Standar Nasional tidak diperlukan, PII harus memberikan solusi seperti apa kurikulum yang terbaik untuk pendidikan di negara yang berpenduduk terbanyak, berbeda suku, agama, budaya, dan tingkat ekonomi ini.

3. Anggaran Pendidikan 20% di Luar Gaji Guru

Ini sebuah idealita. Kita tidak bisa menuntut terlalu banyak tanpa ikut andil memberikan solusi. Kita mesti sadar bahwa menurut logika saja sudah jelas bahwa Gaji Guru memang termasuk Anggaran Pendidikan. Langkah Pemerintah saat ini dengan memberikan Anggaran Pendidikan 20% sudah memenuhi UUD 1945. Setidaknya ini dulu yang menjadi dasar pemikiran kita. Artinya Pemerintah sudah berbuat! Lalu bagaimana dengan para Guru itu sendiri?

PII harus ikut aktif memberikan tekanan kepada Guru (yang gajinya sudah melebihi PNS lain di Republik Indonesia), agar meningkatkan kualitas dan dedikasi. Karena pada dasarnya keberhasilan pendidikan itu terletak kepada personal Pendidik itu sendiri. Jangan sampai peningkatan Anggaran Pendidikan untuk Gaji Guru tidak berdampak sama sekali kepada mutu pendidikan.

Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang keberhasilan para pelajar di sekolah yang fasilitasnya terbatas namun mampu meraih prestasi karena dukungan dan dedikasi guru-nya yang tinggi.

Selanjutnya adalah kita pertanyakan tingkat motivasi dan keseriusan para Pelajar. Sudahkah PII melakukan riset (bukan sekedar survey) tentang berapa persen Pelajar yang memberikan 100% konsentrasi saat Proses Belajar-Mengajar berlangsung? Berapa persen pelajar yang menggunakan daya nalarnya untuk mengembangkan potensi intelektualnya? Dan berapa persen pelajar yang menggunakan Uang Sakunya untuk kepentingan Ilmu Pengetahuan daripada sekedar hura-hura? Jangan-jangan justru aliran dana dari para Pelajar negeri ini ke dunia hiburan lebih besar daripada anggaran pendidikan?

4. Sekolah Gratis sampai Perguruan Tinggi

Kita semua sepakat, semua pihak harus berusaha mewujudkannya karena bukan hanya kewajiban Pemerintah. Andai saja setiap orang kaya di negeri ini bersedia mengangkat 1 anak angkat di sebuah perguruan tinggi, maka lumayan berdampak bagi pendidikan anak tidak mampu.

5. Tolak Diskriminasi Pendidikan

Sepakat! Sekolah Unggulan cenderung menjadi tempat pendidikan bagi anak pejabat dan orang kaya. Orang miskin sangat sulit masuk ke sekolah bergengsi seperti ini. Walaupun ada 1 atau 2 orang, bukan berarti itu membuktikan bahwa anak orang miskin bisa karena secara statistik juga sangat tidak mewakili komunitas. Jumlah penduduk miskin lebih banyak daripada yang kaya, tapi di sekolah unggulan yang dibiayai negara justru anak orang kaya dan pejabat lebih banyak dari pada anak orang miskin.

Sistem seperti ini sama seperti zaman penjajahan Belanda, di mana hanya anak Priyayi saja yang boleh bersekolah karena dipersiapkan menjadi pegawai negeri. Ataukah memang saat ini sedang dipersiapkan generasi baru pemerintahan yang berasal dari keturunan pejabat saat ini?

6. Tolak Calon Presiden yang tidak peduli kepada Pendidikan.

Sudah adakah Calon Presiden saat Siaran Pers ini dibuat? Siapa saja Calon Presiden yang peduli Pendidikan? Apakah ada Calon Presiden yang tidak peduli kepada Pendidikan? Sebuah pernyataan, provokasi atau apatisme?

Akhirnya, saya hanya ingin mengajak kita semua introspeksi. Sebagai bagian dari Organisasi Pelajar yang mengaku memiliki daya dan semangat intelektual, PII harus menghindarkan diri dari perkataan dan perbuatan yang hanya mampu menghakimi tanpa menjadi bagian dari solusi. Kita tentunya tidak mau disamakan dengan preman jalanan yang seenaknya bicara menghujat, tapi hanya terdiam dan membela diri ketika ditanya balik diminta solusi.

Wallahu a’lam.

Lawan Kapitalisme dan Liberalisme Pendidikan.

Posted by admin On Mei - 8 - 2009

Berdasarkan penelitian dari Internasional Labour organization (ILO), 19 persen atau 4, 18 Juta anak usia sekolah di Indonesia ternyata putus sekolah dan menjadi pekerja anak, dan lebih dari 350 ribu anak TKI yang ada di Malaysia tidak mendapatkan akses pendidikan karena orang tua mereka tidak memiliki dokumen dan si anak tidak memiliki kewarganegaraan.

Fasilitas pendidikan pun telah banyak yang rusak, sebagai catatan di Tanggerang 45 persen dari 378 sekolah mengalami kerusakan, di Madiun Jawa Timur dari 475 bangun sekolah yang ada, 121 mengalami kerusakan.

Tidak hanya di daerah, kerusakan sekolah pun terjadi di Jakarta. Ada sekitar 413 sekolah yang rusak, merata di semua wilayah DKI Jakarta. Bila ditotal jumlah sekolah yang rusak se-Indonesia ada sekitar 20.500, dari tingkat SD hingga SMA. Dari semua kerusakan tersebut, pemerintah hanya bisa memperbaiki sebagaian karena keterbatasan dana.

Pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah sebagaimana di amanahkan oleh UUD 1945 sangat jauh dari ideal. Anggaran Pendidikan yang diamanahkan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD baru dapat direalisasikan pada tahun 2008 dan itu pun dengan aturan sebagaimana diputuskan oleh MK bahwa gaji guru termasuk dalam anggaran tersebut.

Hal yang sangat aneh, anggaran 20 persen bisa habis hanya untuk menggaji guru. Sebagian kecil saja yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan pendidikan Indonesia.

Tidak hanya itu saja, diskriminasi pendidikan pun masih ada, dimana dengan standardisasi sekolah nasional maupun internasional, membuat perbedaan yang sangat besar antar sekolah yang ada, sekolah-sekolah berstandar mendapat bantuan pemerintah lebih besar daripada sekolah yang tidak berstandar.

Sebagai contoh bantuan pemerintah kepada Sekolah Dasar Berstandar Internasional (SDBI) yang mendapat bantuan kepada rintisan SDBI sebesar Rp 500 juta pada tahun pertama, Rp 300 juta pada tahun kedua dan Rp 200 juta pada tahun ketiga. SDBI diharapkan nantinya dimiliki masing-masing kota dan kabupaten minimal satu SD.

Selama masa kampanye Pemilu pun, tidak banyak partai politik yang berbicara tentang konsep-konsep dan kebijakan pendidikan yang akan mereka lakukan apabila nanti mereka memenangkan pemilu.

Para elite politik lebih sibuk mengurus bagaimana cara bisa menjadi RI – 1 daripada mengurus anak bangsa yang tidak dapat bersekolah, tidak dapat menikmati pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi, ataupun bersekolah dengan nyaman tidak takut gedung sekolahnya roboh ketika mereka belajar.

Seandainya biaya-biaya kampanye para elite politik itu dikumpulkan - tidak perlu semua, hanya 50 persen dana kampanye mereka - untuk pendidikan, maka berapa juta anak-anak bangsa dapat bersekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Tetapi kenyataannya tidak, yang lebih peduli dengan anak bangsa malahan negara tetangga (Singapura) yang menyediakan dana miliaran dolar untuk memberikan beasiswa kepada anak bangsa yang memiliki kecerdasan lebih.

Kita tidak tahu bagaimana jadinya bangsa ini ketika para elite tidak peduli dengan pendidikan anak bangsa.

Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai organisasi yang konsen akan nasib pelajar dan pendidikan, dengan ini menyatakan sikap:

1.    Cabut Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP)
2.    Tolak Ujian Nasional (UN), berikan hak penilaian hasil belajar kepada guru yang mendidik pelajar.
3.    realisasikan anggaran pendidikan 20 persen di luar gaji guru.
4.    Sekolah Gratis sampai Perguruan Tinggi.
5.    Tolak diskriminasi pendidikan
6.    Tolak Calon Presiden yang tidak peduli pada Pendidikan.

Hari-hari esok adalah milik pelajar. Pelajar bersatu memperjuangkan hak-haknya.

Lawan kapitalisme dan liberalisme pendidikan.

Zakaria, Ketua PB PII 2008-1010

(dimuat di http://sabili.co.id/index.php/200905061675/Berita-Anda/Lawan-Kapitalisme-dan-Liberalisme-Pendidikan.htm)

Kontes Cantik Moral

Posted by admin On Mei - 8 - 2009

RIYADH - Kontes kecantikan tak melulu menghadirkan baju seksi, apalagi sesi pemotretan baju renang. Ajang alternatif pemilihan putri yang ditawarkan Arab Saudi ini, misalnya. Perhelatan bergengsi minus ”buka-bukaan di depan publik” itu berlabel Miss Beautiful Morals alias Putri Kecantikan Moral.

Dalam satu-satunya kontes kecantikan di Arab Saudi tersebut, para juri sama sekali tidak peduli dengan sosok sempurna atau wajah nan rupawan. Yang dinilai adalah ketaatan dan rasa hormat kepada kedua orang tua.

”Ajang kecantikan itu diselenggarakan untuk mengukur komitmen kontestan terhadap nilai-nilai Islam. Sebuah alternatif di tengah kemerosotan moral dalam berbagai kontes kecantikan yang hanya mengukur kemolekan tubuh dan penampilan (pesertanya),” ujar Khadra al-Mubarak, penggagas acara, seperti dikutip Associated Press.

Dia menegaskan, pemenang kontes tersebut tidak perlu cantik. ”Kami lebih peduli pada kecantikan hati dan moralnya,” tandas Khadra.

Alhasil, setelah pendaftaran kontes tersebut dibuka pada Sabtu (2/5), hampir 200 peserta siap unjuk kebolehan. Salah seorang di antaranya adalah Sukaina al-Zayer. Tak seperti layaknya peserta ajang kecantikan kebanyakan, dia ”menyembunyikan” paras dan tubuhnya di balik jubah hitam yang dilengkapi cadar.

Para calon ratu kecantikan Arab Saudi akan menghabiskan waktu 10 minggu untuk mengikuti kelas dan wawancara. Termasuk tahap ”menemukan potensi tersembunyi”, ”melahirkan seorang pemimpin”, dan ‘’surga ada di bawah telapak kaki ibu”.

Para peserta juga bakal menghabiskan waktu sehari di sebuah vila bersama ibu-ibu mereka. Di sana beberapa juri perempuan siap menilai dan meranking tingkat kedekatan hubungan mereka dengan sang ibu. Karena kontes itu tidak disiarkan oleh televisi dan tak satu pun laki-laki terlibat di setiap kegiatannya, peserta bisa membuka jilbab dan abaya -jubah hitam yang biasa dipakai wanita Arab sehari-hari.

Miss Beautiful Morals adalah contoh mutakhir dari sebuah kontes khas Barat yang diadaptasi oleh kelompok Islam konservatif. Pengaruh budaya Barat juga dirasa semakin gencar menggerus negara-negara Islam melalui internet dan TV satelit.

Tahun ini merupakan kali kedua ajang Miss Beautiful Morals dihelat. Peserta melonjak tiga kali lipat daripada tahun lalu, yang hanya diikuti 75 orang. Kontes tersebut diperuntukkan kaum hawa berusia antara 15-25 tahun. Pemenang dan dua runner-up bakal diumumkan pada Juli 2009.

Sang putri akan membawa pulang hadiah uang USD 2.600 (sekitar Rp 27 juta) dan beberapa hadiah tambahan. Sedangkan setiap runner-up berhak mendapatkan uang USD 1.300 (sekitar Rp 14 juta).

Pemenang tahun lalu Zahra al-Shurafa mengatakan, kontes tersebut memberikan teladan bagi wanita muda dan remaja putri untuk lebih menunjukkan rasa hormatnya kepada orang tua mereka. (cak/ami)

Korupsi Mengancam Pembangunan Pendidikan

Posted by admin On Mei - 5 - 2009

Jakarta, Kompas - Korupsi di dunia pendidikan mengancam pembangunan pendidikan. Kenaikan anggaran pendidikan yang diperjuangkan dengan susah payah perlu disertai pengawasan publik.

Kondisi tersebut antara lain tercermin dalam kajian yang dilakukan Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) dan disampaikan dalam jumpa pers, Senin (4/5). Chitra Septyandrica, peneliti dan Program Manager Pattiro, mengatakan, masih terjadi penyimpangan anggaran pendidikan. Pattiro bersama bersama Brooking Institution dari Amerika meneliti 137 proyek sebagai percontohan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dan Kabupaten Serang, Banten, pada tahun 2008. Penelitian terhadap 30 sekolah negeri dan 10 sekolah swasta jenjang SD dan SMP.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh pola penyimpangan yang terjadi, yakni pengucuran dana tidak sesuai kebutuhan sekolah, keterlambatan pencairan, penyimpangan cara penyaluran, potongan tidak wajar, belanja tidak sesuai peruntukan, pengurangan hasil, serta kebocoran dalam alokasi, penggunaan dan audit dana.

Skema penyaluran anggaran ke sekolah juga rumit dan setiap skema mempunyai aturannya masing-masing. Selain itu, transparansi anggaran sangat rendah.

Gambaran karut marutnya pengelolaan anggaran pendidikan disampaikan pula oleh Febri Hendri, peneliti dari ICW. Lembaga tersebut mengambil contoh kasus-kasus korupsi anggaran pendidikan di delapan provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi Tengah sepanjang tahun 2007 dan 2008.

Terdapat 36 kasus di daerah-daerah tersebut yang sampai di tingkat kejaksaan dan melibatkan 63 orang tersangka. Tersangka terbanyak yakni sebanyak 14 orang ialah pejabat di dinas pendidikan. Pelaku selebihnya antara lain staf pemerintah daerah, pimpinan proyek, dan kepala sekolah.

Febri mengatakan, modus yang paling banyak ialah penggelembungan, penggelapan, dan manipulasi anggaran. Namun, ada pula modus penyuapan dan pungutan liar, terutama berkaitan dengan kewenangan pencairan anggaran. Modus paling banyak menimbulkan kerugian negara ialah manipulasi anggaran dengan kerugian sekitar Rp 110,7 miliar. (INE) (selasa 05/05/09)

Ekspektasi terhadap komitmen pemimpin bangsa diawali melalui proses dialektika progresif mengenai esensi perubahan yang ingin diwujudkan. Jika penilaian terhadap konnsistensi ideologis dari peran politik sebagai media aspirasi dan partisipasi masyarakat dalam menentukan masa depan yang mapan dan kehidupan yang layak berdasarkan parameter nilai ideal atas sebuah tatanan sosial.

Pelajar seringkali dianggap tidak memililiki peran dan kepentingan politik. Pelajar sebagai subjek pendidikan jelas memiliki kepentingan strategis terkait dengan politik bangsa. Sebagai subjek, tentunya ia memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan pendidikan. Tanggung jawabnya di setiap ranah sosial yang meliputi ranah individual untuk mewujudkan kesempurnaan pendidikan dalam rangka meningkatkan kapasitas kemanusiaannya, ranah cultural dengan melakukan penguatan misi pendidikan untuk masyarakat, serta ranah struktural dengan berpartisipasi aktif dalam intervensi kebijakan pendidikan yang adil, merata dan berkualitas bagi seluruh rakyat.

Brigade Pelajar Islam Indonesia (PII) dengan komitmen kepelajarannya berkewajiban untuk menyampaikan kepada masyarakat, pembuat dan pelaksana kebijanan di negeri ini mengenai realitas yang terjadi di dunia pendidikan. Dengan demikian diperlukan langkah konkrit guna mewujudkan harapan dan cita-cita tersebut. Momentum strategis sebagai gerbang perubahan saat ini kian terbuka dengan adanya pergantian kepemimpinan bangsa melalui Pemilihan Umum legislatif dan Pemilihan Presiden. Maka, partisipasi pelajar dalam mengusung perubahan bukan hanya melalui suara yang diberikan di tempat pemungutan suara. Masih banyak peran strategis lainnya yang dapat dilakukan dalam rangka mengintervensi kebijakan pendidikan yang pro-pelajar.

Rangkaian agenda yang berkelanjutan dan berkesinambungan telah disiapkan sebagai upaya untuk membangun peran politik pelajar. Diawali dengan mengeluarkan maklumat agar pelajar menggunakan hak-hak politiknya, aksi demontrasi untuk menyampaikan maklumat sebagai berikut :

    Tingkatkan anggaran pendidikan lebih dari 20%
    Gratiskan semua level pendidikan (SD-PT)
    Lengkapi sekolah tiap level di desa (agar tidak terjadi eksodus besar-besaran ke kota)
    Lengkapi fasilitas sekolah (bangunan, internet, perpustakaan)

untuk calon presiden yang dilaksanakan pada 12 April 2009. Dilanjutkan dengan aksi pelajar menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2009 sebagai simbol spirit pendidikan yang selama ini telah dijadikan sebagai titik puncak komitmen bangsa terhadap pendidikan. Selanjutnya, untuk mengusung semangat kebangkitan perjuangan yang diprakarsai oleh pemuda dan pelajar. Untuk memaknai semangat perjuangan pelajar kontemporer, maka Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2009 merupakan momentum yang tidak boleh dilewatkan untuk pelajar berkontribusi dalam peran keummatan melalui aksi pelajar sebagai media untuk menyampaikan suara dan aspirasinya.

Jakarta, 10 April 2009 M

14 Rabi’ul Akhir 1430 H

KOORDINATOR PUSAT BRIGADE

PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)

PERIODE 2008-2010

AHMAD SYAHIDIN

Komandan Pusat

cc.file.asbocht

Ka.Staf Jaringan Aksi, Mobilisasi & Infomasi (JAMI)

CP. 087830156178

    Pesan Anda


    Pelajar Islam Indonesia on Facebook
    close
    Jangan lupa kunjungi Komunitas PII Cyber disini