<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>PII - Pelajar Islam Indonesia</title>
	<atom:link href="http://pelajar-islam.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pelajar-islam.or.id</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 01:58:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BCA syariah akhirnya dibuka</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/bca-syariah-akhirnya-dibuka.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/bca-syariah-akhirnya-dibuka.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 01:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Bank Indonesia (BI) telah resmi memberikan izin operasi kepada Bank Central Asia Syariah (BCA Syariah) pada tanggal 2 Maret 2010.

Dengan ini BCA Syariah menjadi bank syariah ke-7 di Indonesia yang beroperasi khusus dalam usaha syariahnya.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Ramzi A Zuhdi kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (9/3/2010).
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bank Indonesia (BI) telah resmi memberikan izin operasi kepada Bank Central Asia  Syariah (BCA Syariah) pada tanggal 2 Maret 2010.</p>
<p>Dengan ini BCA Syariah menjadi bank syariah ke-7 di Indonesia yang beroperasi  khusus dalam usaha syariahnya.</p>
<p>Demikian diungkapkan oleh Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank  Indonesia, Ramzi A Zuhdi kepada <strong>detikFinance</strong> di Jakarta, Selasa  (9/3/2010).</p>
<p>“Ya, (BCA Syariah) sudah mendapatkan izin,” ujarnya.</p>
<p>Sebelumnya, Bank-bank yang telah beroperasi sebelum BCA Syariah yakni Bank  Muamalat, Bank Mandiri Syariah, Bank Mega Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank  BRI Syariah dan Bank Panin Syariah.</p>
<p>Ramzi menambahkan bank selain BCA Syariah, bank syariah yang tengah dalam  proses pemberian izin oleh BI adalah Bank BNI Syariah, Bank Victoria Syariah,  dan Bank Jabar Banten Syariah.</p>
<p>Dihubungi di tempat terpisah, Wakil Direktur Utama BCA Jahja Setiaadmadja  mengatakan telah menunjuk calon Direktur Utama BCA Syariah. “Calon Dirutnya  yakni Ibu Yana Rosiana,” tutur Jahja.</p>
<p>BCA Syariah merupakan hasil konversi Bank UIB (Utama International Bank) yang  diakusisi pada Oktober 2008.</p>
<p>Sumber: Detik.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/bca-syariah-akhirnya-dibuka.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Akan &#8216;Sweeping&#8217; Sekolah Berlabel Internasional</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pemerintah-akan-sweeping-sekolah-berlabel-internasional.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pemerintah-akan-sweeping-sekolah-berlabel-internasional.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 03:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=665</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan melakukan penertiban sekolah berlabel internasional. Aturan ini dilakukan seiring diberlakukannya PP No 17/2010.
&#8220;Otomatis akan ada sweeping. Jangan sampai masyarakat mendapatkan kualitas pendidikan yang semu. Akan ada upaya penertiban,&#8221; kata Kepala Humas Kemendiknas Muhajir saat dihubungi detikcom, Selasa (9/3/2010).
Dia menjelaskan, aturan ketat ini diberlakukan karena banyaknya sekolah yang berlabel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan melakukan penertiban sekolah berlabel internasional. Aturan ini dilakukan seiring diberlakukannya PP No 17/2010.</p>
<p>&#8220;Otomatis akan ada sweeping. Jangan sampai masyarakat mendapatkan kualitas pendidikan yang semu. Akan ada upaya penertiban,&#8221; kata Kepala Humas Kemendiknas Muhajir saat dihubungi detikcom, Selasa (9/3/2010).</p>
<p>Dia menjelaskan, aturan ketat ini diberlakukan karena banyaknya sekolah yang berlabel internasional tapi hanya sekadar label saja.</p>
<p>&#8220;Yang tidak masuk kriteria otomatis gugur, seleksi akan sangat ketat agar tidak ada bayang-bayang kualitas semu,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Dalam PP 17/2010 diterangkan sekolah internasional yang dimaksud wajib menyesuaikan dengan kurikulum nasional. Syarat ini mesti dilakukan oleh sekolah berlabel internasional.</p>
<p>&#8220;Semuanya ada standarisasinya. Standar nasional itu harus masuk, jangan sampai ada nuansa mengkomersilkan pendidikan, harus ada nilai sesuai moral, integritas,&#8221; tutupnya.</p>
<p>Sumber: Detik.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pemerintah-akan-sweeping-sekolah-berlabel-internasional.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar Duka Cita Mujahid Muda Jawa Tengah</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/kabar-duka-cita-mujahid-muda-jawa-tengah.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/kabar-duka-cita-mujahid-muda-jawa-tengah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 04:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Info PII]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/kabar-duka-cita-mujahid-muda-jawa-tengah.html</guid>
		<description><![CDATA[Innalillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un
Telah berpulang ke rahmatullah salah satu kader terbaik PII Jawa Tengah, sahabat dan saudara perjuangan kita:
MUSTAFID AMNA (David)
Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Jawa Tengah Periode 2009-2011
Semoga amal ibadah beliau diganjarkan pahala yang berlipat dari Allah dan memperoleh maghfirah-Nya, amin.
Selamat jalan pejuang PII yang selalu mengemban amanah kader umat. Hidup di sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Innalillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un</p>
<p>Telah berpulang ke rahmatullah salah satu kader terbaik PII Jawa Tengah, sahabat dan saudara perjuangan kita:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>MUSTAFID AMNA (David)</strong><br />
<em>Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Jawa Tengah Periode 2009-2011</em></p>
<p style="text-align: justify;">Semoga amal ibadah beliau diganjarkan pahala yang berlipat dari Allah dan memperoleh maghfirah-Nya, amin.</p>
<p>Selamat jalan pejuang PII yang selalu mengemban amanah kader umat. Hidup di sisi Rabb untuk nikmat yang terbaik.</p>
<p>Berita duka kami peroleh dari M Zainul Arifin (Kabider PB PII) pada Sabtu, 27 Februari 2010; pukul 10.43 WIB, Zainul mengabarkan almarhum bersama <strong>Aji Aflakhi</strong> (<em>kritis di RS</em>) mengalami musibah terjatuh dari kereta api dari Semarang menuju Tegal.</p>
<p>CP:</p>
<p>Mirza Hayati-Korwil Brigade PII Jawa Tengah (0856 95 388 407)</p>
<p>Ridwan Zulmi<br />
Wakil Sekretaris Jenderal<br />
PB PII</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/kabar-duka-cita-mujahid-muda-jawa-tengah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meninggalkan Gaji Besar, Mengharap Ridho Allah dengan Berdagang</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/artikel/meninggalkan-gaji-besar-mengharap-ridho-allah-dengan-berdagang.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/artikel/meninggalkan-gaji-besar-mengharap-ridho-allah-dengan-berdagang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 16:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[Idealis, Saeful Aanwar Lepas Gaji Besar Pilih Jual Es Tebu Warga Menjuluki Tukang Tebu Terganteng

Tak banyak orang seperti Muhammad Saeful Aanwar. Ketika yang lain sulit mencari kerja, dia malah meninggalkan pekerjaan dengan gaji Rp 10 juta per bulan. Saeful lebih memilih berjualan es tebu keliling dan sales parfum murah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Idealis, Saeful Aanwar Lepas Gaji Besar Pilih Jual Es Tebu Warga Menjuluki  Tukang Tebu Terganteng</p>
<p>Tak banyak orang seperti Muhammad Saeful Aanwar.  Ketika yang lain sulit mencari kerja, dia malah meninggalkan pekerjaan dengan  gaji Rp 10 juta per bulan. Saeful lebih memilih berjualan es tebu keliling  dan sales parfum murah.</p>
<p>ROMBONG es tebu itu dikerumuni ibu-ibu  muda ketika melintas di kawasan Wage, Sidoarjo. Tawa riang dan canda mereka  berbaur dengan suara anak-anak yang berebut membeli. Susana itu hampir  terjadi tiap hari pukul 15.00-17.00.</p>
<p>Itulah rutinitas Muhammad Saeful  Aanwa menjajakan es tebunya di kawasan tersebut. Pria 39 tahun itu berbeda  dari penjual es tebu lain.<br />
Penampilannya rapi, bersih, pakaian necis, dan  wangi. Dengan tinggi badan sekitar 170 cm, kulit putih, paras tampan, pria  berdarah<br />
Banten-Sunda-Padang itu jauh dari mainstream penjual es tebu  keliling.</p>
<p>Karena itu, tak heran Saeful Aanwa merupakan tukang tebu  favorit -setidaknya- di kawasan Wage. Seorang warga perumahan bahkan  menjuluki Saeful  sebagai tukang tebu terganteng se-Asia Tenggara.</p>
<p>Ada  cerita, pernah seorang ibu yang naik sepeda terjebur got gara-gara meleng  melihat Saeful  nggenjot rombong tebunya. &#8221;Tapi, saya tak tahu cerita  persisnya seperti apa. Saya hanya diberi tahu tetangga saya,&#8221; kata Ismail  lalu tersenyum.</p>
<p>Pria ramah itu tak hanya punya nilai lebih dari segi  fisik, tapi juga idealisme. Karena idealisme itulah dia memilih mundur  dari<br />
pekerjaannya sebagai legal staff di sebuah perusahaan rokok besar  di Surabaya. Padahal, di tempat tersebut, dia punya gaji cukup besar,  Rp 10 juta per bulan.</p>
<p>Sementara hasil jualan es tebu keliling itu,  paling banter dia dapat Rp 1,5 juta per bulan. &#8221;Ini pendapat saya pribadi,  bukan bermaksud<br />
memojokkan siapa-siapa,&#8221; katanya. &#8221;Saya merasa bahwa  rokok adalah sesuatu yang mudharat-nya jauh lebih besar daripada manfaatnya.  Itulah yang membuat saya bimbang, saya bekerja di industri yang  seperti itu,&#8221; lanjut bapak satu anak tersebut. &#8221;Makanya, saya lebih  bahagia sekarang, meski pendapatan pas-pasan. Kedamaian hati, itu yang  paling penting,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Saeful  kemudian menuturkan kisahnya.  &#8221;Ketika kuliah, saya sudah bekerja di perusahaan advertising, anak  perusahaan rokok itu,&#8221;<br />
katanya. Itu terjadi pada 1991 saat kuliahnya di  Fakultas Hukum Untag memasuki tahap akhir. Setahun kemudian, dia dipindahkan  ke induknya, bagian legal department. &#8221;Waktu pindah, saya belum lulus,&#8221;  paparnya.</p>
<p>Saeful  baru lulus setahun kemudian. Kelulusan itu mendongkrak  eselon dan gajinya di perusahaan tersebut. Konditenya selalu  baik.<br />
Pelan-pelan gajinya naik. Karena tempatnya bekerja merupakan  salah satu perusahaan dengan rate gaji tertinggi di Surabaya, Saeful   hidup berkecukupan.</p>
<p>Hidupnya mapan, tinggal di rumah tipe 45 di Griyo  Wage Asri. &#8221;Hingga saya resign pada 2009, gaji saya Rp 10 juta. Itu belum  termasuk bonus dan tunjangan lain,&#8221; kenangnya.</p>
<p>Meski gajinya besar,  dia selalu gelisah. Puncaknya terjadi pada 2007. &#8221;Saya merasa industri  tempat saya bekerja tidak cocok dengan hati<br />
nurani saya,&#8221; tuturnya. Rokok,  bagi Saeful, adalah hal paling merugikan dalam kehidupan. Terutama dari sudut  pandang imannya.</p>
<p>Saeful memang religius. &#8221;Sejak kecil, orang tua saya  selalu menekankan nilai-nilai Islam yang kuat kepada saya,&#8221; paparnya.  Ajaran<br />
itu terus terbawa hingga sekarang. Karena itu, Saeful  selalu  berusaha ikut pengajian di mana pun. &#8221;Untuk menambah ilmu,&#8221;  tuturnya.</p>
<p>Hampir semua pengajian di Surabaya dan Sidoarjo pernah dia  datangi. Bahkan, dia selalu menyempatkan ikut kuliah subuh di TVRI. Tapi,  dia mengaku tak ikut sebuah organisasi keagamaan apa pun. &#8221;Saya tak  ikut PKS atau apa pun. Saya lebih suka begini saja,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam  Islam, rokok dianggap makruh (sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan).  Bahkan, sebagian ulama menilai haram. &#8221;Itu yang<br />
memengaruhi pemikiran  saya,&#8221; katanya.</p>
<p>Apalagi, ikhwan-ikhwan (saudara) sepengajian sering  mengingatkan dia. Juga mengirim e-mail berisi tulisan dan gambar tentang  akibat merokok. &#8221;Ngeri, ngeri, kalau melihat gambarnya. Paru-paru yang  hitam membusuk, orang yang kondisinya sekarat, wahh&#8230;  pokoknya<br />
mengerikan,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Satu pemikiran mulai menusuk  dirinya. &#8221;Masak sih saya memberi makan anak dan istri dengan uang yang  dihasilkan dari industri yang merusak masyarakat,&#8221; katanya lalu  buru-buru menambahkan bahwa itu pendapatnya pribadi.</p>
<p>Sejak itu,  kinerja Saeful  melorot drastis. Manajemen perusahaan melihat perubahan  tersebut. Manajemen yang bijak mengajak Saeful<br />
berbicara dari hati ke hati.  Karena memang sudah bimbang, Saeful memutuskan mundur dari perusahaan pada  Juni 2009. &#8221;Saya akan<br />
merugikan perusahaan bila tidak bisa kerja maksimal.  Karena situasinya seperti itu, saya pikir inilah titik untuk hijrah. Saya  keluar secara<br />
baik-baik,&#8221; urainya.</p>
<p>Atas jasa-jasanya selama 16 tahun  bekerja, perusahaan memberi pesangon Rp 400 juta. Selepas dari perusahaan,  Saeful  melakukan apa saja yang halal untuk menyambung hidup. Di antaranya,  menjadi sales parfum tiruan. &#8221;Saya menemukan dunia yang asyik.. Ternyata,  saya juga punya potensi di bidang marketing,&#8221; katanya dengan mata  berbinar.</p>
<p>Untuk menambah penghasilan, Saeful  berjualan es tebu. &#8221;Saya  bertemu pemilik Mr Tebu dan saya membeli franchise-nya seharga Rp 10 juta.  Itu sudah dapat rombong dan peralatannya,&#8221; tuturnya. Dia  menggenjot sendiri rombong tersebut.</p>
<p>Perubahan hidup itu membuat Sri  Lestari -istri yang kini telah berpisah- kaget. Kata-kata seperti terus kerjo  opo, Pa? sering kali<br />
terucap. Ketika Saeful  memutuskan menggenjot sendiri  rombong es tebunya, Sri nyaris tak percaya. &#8221;Sing bener ae, Pa?&#8221; ujar  Sri<br />
sebagaimana ditirukan Saeful .</p>
<p>Namun, Saeful  bergeming. Melihat  keteguhan hati suaminya, Sri bisa memahami. &#8221;Apalagi, tetap harus ada  penghasilan kan,&#8221; katanya.<br />
Saeful  tak bersedia mengungkapkan alasan pisah  dari istrinya.</p>
<p>Selain parfum dan es tebu, Saeful  mencoba jual beli apa  saja. Mulai seprai hingga mobil. Namun, hanya eceran. &#8221;Maklum, dana terbatas  dan penghasilan harus ditingkatkan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dari berjualan  parfum, Saeful  hanya mendapatkan rata-rata Rp 600 ribu per bulan, sedangkan  dari es tebu dapat Rp 700 ribu-Rp 800 ribu. &#8221;Tapi, saya bangga dengan  pilihan ini. Meski hanya jadi tukang es tebu dan sales parfum, saya jauh  lebih berbahagia daripada saat masih kerja di industri rokok,&#8221; tegasnya.  (*/cfu)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/artikel/meninggalkan-gaji-besar-mengharap-ridho-allah-dengan-berdagang.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menguak Misi Terselubung di Balik Infoteinmnet</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/menguak-misi-terselubung-di-balik-infoteinmnet.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/menguak-misi-terselubung-di-balik-infoteinmnet.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 15:38:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bayong_smd</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Penguasaan media merupakan salah satu alat penting dalam penanaman nilai-niai dalam kehidupan masyarakat. Saking pentingnya media, Paul Friedman sampai mengatakan, “Siapa pun yang menguasai media, maka ia akan merubah masyarakat.” Pernyataan yang cukup beralasan, sebab media sekarang justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab yang berupaya mencari keuntungan dengan dengan segala cara, sehingga menimbulkan ekses-ekses negatif. Lebih memprihatinkan lagi, ekses-ekses negatif ini telah merubah gaya hidup sebagian masyarakat kita, khususnya para remaja yang sedang berupaya utuk mencari jati diri mereka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Penguasaan media merupakan salah satu alat penting dalam penanaman nilai-niai dalam kehidupan masyarakat. Saking pentingnya media, Paul Friedman sampai mengatakan, “<em>Siapa pun yang menguasai media, maka ia akan merubah masyarakat.</em>” Pernyataan yang cukup beralasan, sebab media sekarang justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab yang berupaya mencari keuntungan dengan dengan segala cara, sehingga menimbulkan ekses-ekses negatif. Lebih memprihatinkan lagi, ekses-ekses negatif ini telah merubah gaya hidup sebagian masyarakat kita, khususnya para remaja yang sedang berupaya utuk mencari jati diri mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Masyarakat modern, meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang, berada pada sebuah realitas semu, mereka berada pada homogenisasi budaya dan nilai-nilai sehingga seakan kehilangan makna dan jati diri mereka. Apalagi nilai lebih yang ditawarkan media tertentu bearda pada kontrol pasar dan harus menyesuaikan dengan keinginan pangsa pasar, sehinga prioritas utama yakni orientasi pada keuntungan semata. Akibatnya masyarakat dituntut untuk terus mengkonsumsi atau pihak perusahaan akan kehilangan profit mereka. Orientasi untuk profit (<em>profit oriented</em>) harus terus dikerahkan, sementara masyarakat hanya boleh menonton.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Salah satu elemen media yang paling sering kita hadapi adalah dunia Infotainment. Muncul sebuah pertanyaan, sebegitu burukkah peranan media dalam era kapitalisme global yang mana nilai-nilai komoditas menjadi tujuan utama melalui budaya konsumtifnya? Kenapa penulis hanya memusatkan peranan media hanya sebatas seputar infotainemnt belaka, sementara masih banyak elemen-elemen atau ranting-rating media lainnya yang juga perlu menjadi pembahasan?. Hemat penulis, infoteinment merupakan sebuah instrument praktis yang kerapkali dipakai dan ditonton masyarkat. Oleh karenanya misi terselubung dibalik maraknya infoteinment patut kta cermati dan perlu telaah lebih mendalam secara bersama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"><strong>Infoteinment Sampai Mati</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Infotainment; informasi enterteinment adalah sebuah penyampai informasi ringan yang berisi hiburan. Rating penonton di Indonesia yang menyaksikan tayangan infoteinment mencapai hampir 10 juta (viva.news.com), dengan kata lain sekitar 6,25% penduduk Indonesia menjadi penikmat tayangan infoteinment.<span> </span>Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita sebagian besar menggandrungi infotainment. Padahal, dunia hiburan dan kepuasan yang menjadi tujuan dari kapitalsme telah meracuni pemikiran sebagian masyarakat kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Seorang ibu-ibu rela menyisakan waktu luang mereka, hanya untuk menyaksikan kehidupan beberapa artis, sekalipun mereka tidak tahu atau bahkan tidak akan pernah merasakan kehidupan artis idaman mereka. Beberapa remaja terkontaminasi serangan budaya yang globa (<em>culture attack</em>), sehingga kehilangan identitas diri. Rasanya tidak asik kalau seorang remaja tidak mempunyai band favorit atau mengikuti gaya pakaian idola mereka. Bahkan anak-anak yang masih harus mendapat perlindungan -bukan hanya secara pemenuhan kebuthan fisik seperti yang lazim kita ketahui- akan kehilangan hak intelektual mereka dengan semakin meningkatnya jenis-jenis infotainment yang ditayangkan setiap harinya. Dunia anak-anak yang peuh dengan hiburan seakan-akan hilang ketika gaya hidup orang dewasa telah berhasil masuk dalam pemikiran dan merusak kehidupan mereka.<span> </span><span class="deskripsi">Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengantongi data, hanya 30 persen acara televisi yang aman ditonton anak-anak pada 2006, dan tidak ada perubahan tahun 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Ini hanya segelintir fakta yang sekarang sedang terjadi di depan mata kita. Kepandaian atau kepiawaian dunia enterteinment terlihat, ketika mereka berhasil masuk kedunia imajinasi masarakat yang secara psikologis mengalami kejenuhan serta berhasil mengangkat pencitraan yang dinilai tabu menjadi biasa. Manusia memiliki rasa keingintahuan sangat besar terhadap suatu hal. Selama yang disampaikan merupakan sesuatu yang tabu atau jarang tersentuh dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat menyenangkan untuk dilihat. Dunia glamour para artis yang disajikan adalah contohnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Bukan hanya itu, munculnya tayangan-tayangan yang berusaha untuk menunjukan pencitraan manusia juga mendapat nilai komodoti tertinggi. Lihat saja dari tayangan Take Me/Him Out yang merupakan acara pencarian jodoh. Pencarian pasangan hidup yang semestinya merupakan urusan pribadi, jurtru telah berhasil dijadikan sebagai sebuah tontonan menarik bagi para pemirsanya. Sekalipun penonton tidak punya urusan dengan tawaran pasangan yang ditampilkan, namun kemasan atau pengolahan pencitraan yang menyajikan hiburan secara mengasikkan telah berhasil meghipnotis berjuta-juta penonton di Indoneisa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Tayangan Curhat yang ditayangkan salah satu satasiun TV Swastamenanyangkan persoalan pribadi masyarakat, juga berhasil menjadi tontonan menarik. Betapa tidak, problematika rumah tangga sampai prerselinguhan pasangan yang semestinya diselesaikan secara kekeluargaan, malah ditayangkan secara vulgar di televisi. Bahkan salah satu stasuun TV Swastalain, setiap malam menayangkan problem keluarga-keluarga bermasalah dengan wajah mereka yang disensor.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Dunia infoteinmen pun telah berhasil masuk kedalam dunia privat para figur publik, sebut saja selebriti. Seperti kejadian yang menimpa artis Luna Maya. Merasa dirugikan oleh ulah para wartawan infotainment, Luna Maya mengeluarkan pernyataan emosional melalui Twitter, sehingga menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan Infotainmen menyerang balik dengan menggunakan kekuatan hukum untuk demi melindungi kepentingan di balik acara infoteinment tersebut. Tidak heran mulai bermunculan kecaman untuk mengharamkan inofeteinmemt mulai dari keputusan PBNU sampi kepada fatwa haram MUI (detik.com)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Apa yang membuat acara-acara ini dapat tetap bertahan?<em> Rating</em>, itulah kiranya yang menjadikan tayangan-tayangan hiburan tersebut selalu dapat bertahan. Jumlah rating yang tinggi musti tetap dipertahankan, itulah barangkali yang terjadi di salah satu stasiun TV Swasta di Indonesia yang menepati urutan kedua terbesar. Tayangan mulai Take Me/Him Out, Curhat, bahkan Mama Mia yang pernah fenomenal menempati rating teringgi yang selalu ditonton banyak orang. Sebagai misal, Mama Mia menurut hasil survey yang dilakukan AC Nielsen, dinyatakan meraih rating rata-rata 6.5 dengan share penonton 19,4 %. Bahkan pada tayangan hari Jumat 15/6-2007, Mama Mia mampu meraup 20 juta pemirsa untuk <em>Coverage</em> Indosiar, mengalahkan jumlah penonton `Indonesian Idol` pada jam tayang yang sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Menurut pihak Indosiar tentang kesuksesan acara Mama Mia, ”<em>Fokus penggarapan 70 % pada anak dan 30 % pada peran ibu memang telah menjadi target format kami sejak awal. Terlebih-lebih program ini memiliki keistimewaan tidak memilih-milih peserta untuk ikut. Artinya untuk yang bertubuh normal atau cacat. Siapa saja boleh ikut, dan ini yang menjadikan format Mama Mia jadi <strong>lebih punya daya jual</strong>.&#8221;</em> Rating yang semakin tinggi akan memliki daya jual yang tinggi pula, apa pun bentuknya harus tetap dipertahankan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Bahkan, agama tak luput dari cengkraman racun infoteinment. Pembauran antara dunia hiburan dengan dunia spiritual telah memudarkan atau mengaburkan makna lain dari dunia ritual tersebut. Dunia ritual yang ditawarkan para penguasa entertainment-enterteintment tidak lebih dari ajang bisnis yang menampilkan sesuatu yang sifatnya semu. Jean Baudrillard menyebutnya dengan <em>Hiperrealitas</em>, yakni kenyataan yang semu seakan-akan nyata, kenyataan adalah kesemuan itu sendiri. Tidak ada perbadaan fiksi dan kenyataan, karena garis pemisahnya benar-salah menjadi satu, palsu atau buram.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang lagi, fenomena ini termasuk kedalam <em>aestetichism</em> yaitu pengindahan visual menjadi seakan-akan nyata dengan begitu indahnya. Semua wacana dijadikan dan ditata secara begitu indah dengan menonjolkan kesenangan-kesenangan atau hiburan, sehingga tidak terlihat keburukan yang ditampilkan di belakangnya, atau misi terselubung di baliknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"><strong>Orientasi Keuntungan Kebablasan, Ancaman Masa Depan Manusia</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Kenyataan tersselubung tersebut bukan hanya pembodohan secara tidak langusng, namun juga berakibat pemiskinan-pemiskinan intelektual maupun pemiskinan material. Dunia infotainment yang berlindung di balik tirai kapitlaisme global melalui mekainsme pasarnya secara tidak langsung telah mematikan industri hiburan yang jauh lebih mendidik. Apalagi dengan dibukanya pasar bebas atau <em>free trade area</em> (pasar bebas 2010) semakin membuka harapan sekalgus Ancaman. Harapan bagi para pengusaha infotainment untuk memajukan bisnis mereka yang mengalami peningkatan rating dari tahun ke tahun. Pertahankan keuntungan atau akan<span> </span>jatuh bangkrut tak peduli bagaimana caranya. Sementara industri hiburan yang lebih edukatif, selain miskin pangsa pasar, malah akan tersisihkan dan kalah bersaing. Inilah pemiskinan secara struktural di kancah doemsetik. Karenanya pembukaan pasar bebas bukan hanya mematikan industri-industri kecil masyrakat kita, namun juga masa depan hiburan yang jauh lebih edukatif akan mati.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Apalagi<span> </span>bila sampai memasukan unsur agama yang begitu sakral ke dalam mekanisne pasar, maka secara tidak langsung nilai-niai kebajikan yang ditawarkan agama akan pudar, bahkan kehilangan maknanya sebagai control sosial dan sakral. Agama akan mengalami semacam <em>“privatisasi agama”</em> (khoirul faizin) atau komodivikasi agama, yaitu sekadar pemuas indivudu dan harus menyesuaikan dengan kemauan pasar, bukan lagi pemaknaan agama secara spiritual, moral, sakral dan sosial. Singkat kata, dunia infoteinment yang berusaha masuk ke dalam agama telah merusak pemaknaan agama secara lebih mendalam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Menurut Eko Prasetyo bahwa bisnis adalah bisnis, dan akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berbujung pada pencarian keuntugan. Atau seperti kata Karl Marx dalam Das Capital, kapitalisme berorientasi pada keuntungan, dan untuk mendapat keuntungan dibutuhkan modal. Dari mana modalnya? Eksploitasi segala hal yang menguntungkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Bisnis infoteinment hanya akan berujung pada keuntungan, bukan trasnformasi nilai yang lebih konstruktif. Perubahan sosial yang ditawarkan adalah perubahan yang berupaya menjadikan hiburan sebagai komoditas utama selama dapat meningkatkan keuntungan finansial dalam skala dan jumlah yang besar, itulah rekayasa sosial yang terjadi. Itulah sisi terleubung dari dunia infoteinment yang setiap hari menyajikan hiburan tanpa tapal batas, dan manusia menjadi objek yang dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pasar. Manusa ditentukan dari pemberitaan yang disampaiakan, bukan berdasarkan kemauan sendiri, akibanya ialah <em>dehumanisasi</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Memang tidak bisa dipungkiri era globalisasi sekarang tidak ada sekat antara kebijakan (policy) dan moral (morality), sehingga menciptakan tatanan masyarakat glamour, hedonis dan konsumtif. Hal ini mengakibatkan dekadensi moral, krisis identitas, dan kerancuan nilai. Dunia yang mengalami keterbukaan berlebihan (<em>overtrasnparansi</em>) yang di luar batas nalar dan etika manusia telah menimbukan efek-efek negatif dalam kehidupan kita. Dunia hiburan yang tadinya menjadi kebutuan sekunder, nyatanya telah menjadi sebuah kebutuhan primer..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;">Masyarakat yang terpengaruh media infotainment bukan hanya menghilangkan daya kritis, sikap rasional dan bijaksana masyarakat, namun juga menciptakan homogenisasi kehidupan yang seolah dipaksakan. Akhirnya manusia akan mengalami kepunahan, yakni kepunahan rasionalitas dan berkurangnya kebijaksanaan. Mungkinkah ini tanda kalau Kiamat 2012 akan terjadi?</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 200%;">Oleh: <strong>Baharunsyah</strong><br />
Aktivis PII dan mahasiswa FISIPOL Universitas Mulawarman Kaltim</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/menguak-misi-terselubung-di-balik-infoteinmnet.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Malaysia Menculik Doktor-Doktor Indonesia</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/malaysia-menculik-doktor-doktor-indonesia.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/malaysia-menculik-doktor-doktor-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 15:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ali Asnawi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan bahwa banyak orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, yang kemudian memilih tinggal dan bekerja di Malaysia, Singapura atau Brunei. "Parahnya, mereka ini yang benar-benar jago-jago. Doktor-doktor lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain," ujar Satryo ketika ditemui seusai acara Seminar Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi di Komplek Bidakara, Jakarta, Kamis (19/6) siang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan bahwa banyak orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, yang kemudian memilih tinggal dan bekerja di Malaysia, Singapura atau Brunei. &#8220;Parahnya, mereka ini yang benar-benar jago-jago. Doktor-doktor lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain,&#8221; ujar Satryo ketika ditemui seusai acara Seminar Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi di Komplek Bidakara, Jakarta, Kamis (19/6) siang.</p>
<p>Menurut Satryo, mereka yang kabur ini semuanya adalah doktor bidang ilmu eksakta seperti teknik, fisika, computer dan sejenisnya. Data yang pada pihak Dikti, saat ini sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri telah &#8220;diculik&#8221; Malaysia. &#8220;Sisanya, sekitar 2-3 orang bekerja di Brunei dan sekitar lima orang bekerja di Singapura,&#8221; katanya.</p>
<p>Eksodus orang-orang jenius ini, menurut Satryo, disebabkan PTN tempat mereka bekerja sebelumnya tidak mampu memberikan renumerasi yang layak. &#8220;Guru besar (profesor) seperti saya hanya menerima Rp 2,5 juta per bulan. Sementara gaji mereka di Malaysia, kalau dikonversi ke rupiah, sekitar Rp 50 juta per bulan. Itu belum termasuk fasilitas perumahan dan pendidikan gratis untuk anak mereka,&#8221; katanya dengan senyum miris.</p>
<p>Selain alasan renumerasi, banyak dari mereka yang merasa membutuhkan situasi tempat kerja yang benar-benar membawa tantangan. Mereka, kata Satryo, ingin sekali agar ilmu yang mereka dapatkan benar-benar dapat didayagunakan secara optimal.</p>
<p>&#8220;Dan harus diakui, Malaysia dan Negara-negara lain mampu menghadirkan hal tersebut,&#8221; ujar Satryo. Salah satunya contohnya, adalah Malaysia saat ini telah mengembangkan Pusat Biotech Valley di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, semacam Silicon Valley di Amerika Serikat.</p>
<p>Pihaknya, menurut Satryo, sebenarnya sudah mencoba habis-habisan untuk membujuk mereka tetap tinggal. Tetapi karena kebanyakan dari mereka sudah menyelesaikan ikatan dinas mengajar selama sembilan tahun, maka ia tidak punya kekuasaan untk menahan.</p>
<p>&#8220;Bahkan saat ini saya sudah menerima 20-an permohonan ijin dari doktor-doktor lain untuk bekerja di Malaysia. Bahkan perusahaan disana, sudah bersedia mengganti biaya kompensasi beassiwa pendidikan dan ikatan dinas yang sudah dibayar pemerintah,&#8221; katanya lagi-lagi dengan nada miris.</p>
<p>Padahal biaya yang telah dikeluarkan pihak penyedia dana di luar negeri (tempat belajar sebelumnya) dan pemerintah tidaklah sedikit. &#8220;Untuk satu tahun pendidikan doktor di luar negeri, mereka bisa menghabiskan biaya sekitar US $ 30 ribu,&#8221; ujar Satryo.</p>
<p>Satryo menilai, hal ini harus mendapat perhatian yang serius karena kalau ini dibiarkan, Indonesia akan kehilangan banyak SDM berkualitas yang notebene tidak mudah untuk menghasilkannya. &#8220;Sementara Malaysia yang akan ongkang-ongkang kaki menikmati kerja keras kita,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Pihak Dikti sebenarnya hendak mengusulkan agar pemerintah melakukan langkah khusus dengan meluncurkan crash program untuk memperbaiki renumerasi mereka. &#8220;Banyak dari mereka yang bicara sama saya, asalkan digaji Rp 7 juta sebulan, mereka mau bekerja di sini,&#8221; kata Satryo. Ia mengusulkan dana yang diterima Dirjen Dikti yang hanya Rp 4 milliar pertahun, menjadi Rp 14 milliar pertahun. (Amal Ihsan-TNR)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/malaysia-menculik-doktor-doktor-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Persyaratan LAT dan PID Kalimantan Barat</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/info-training/persyaratan-lat-dan-pid-kalimantan-barat.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/info-training/persyaratan-lat-dan-pid-kalimantan-barat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 01:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Training]]></category>

		<category><![CDATA[ALT]]></category>

		<category><![CDATA[Kalbar]]></category>

		<category><![CDATA[Kalimantan Barat]]></category>

		<category><![CDATA[PID]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=627</guid>
		<description><![CDATA[PERSYARATAN
LEADERSHIP ADVANCED TRAINING (LAT)
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)
KALIMANTAN BARAT
22 Februari s.d. 3 Maret 2010
PERSYARATAN UMUM
1.    Pernah aktif di Pengurus Daerah atau sedang aktif di Pengurus Wilayah.
2.    Telah lulus mengikuti Intermediate Training (INTRA) minimal 5 bulan terahir.
3.    Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training atau Ta`lim Wustho secara penuh.
PERSYARATAN KHUSUS:
1.    Mendapat surat mandat dari Pengurus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>PERSYARATAN<br />
LEADERSHIP ADVANCED TRAINING (LAT)<br />
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)<br />
KALIMANTAN BARAT</strong></p>
<p style="text-align: center;">22 Februari s.d. 3 Maret 2010</p>
<p style="text-align: left;"><strong>PERSYARATAN UMUM</strong><br />
1.    Pernah aktif di Pengurus Daerah atau sedang aktif di Pengurus Wilayah.<br />
2.    Telah lulus mengikuti Intermediate Training (INTRA) minimal 5 bulan terahir.<br />
3.    Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training atau Ta`lim Wustho secara penuh.</p>
<p><strong>PERSYARATAN KHUSUS:</strong><br />
1.    Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah (PW) PII<br />
2.    Mampu membaca Al-Quran dengan fasih (Tajwid, makhrajul huruf) dan lancar<br />
3.    Telah berumur minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat<br />
4.    Membuat tugas tulis berupa makalah dan resensi secara orisinil dan mampu  mempertanggungjawabkannya di hadapan tim instruktur.<br />
<strong>Makalah:</strong><br />
a.    Tema Makalah (pilih salah satu), antara lain:</p>
<ul>
<li>Eksistensi organisasi dakwah di era pasar bebas (tantangan dan prediksi masa depan)</li>
<li>Membangun PII sebagai organisasi moderen</li>
<li>Mengurai konsep masyarakat Islam (Persfektif Falsafah Gerakan PII).</li>
<li>Mengurai konsep kepemimpinan di PII (Solusi untuk menjawab problem kepemimpinan PII Nasional).</li>
<li>Aqidah dan transformasi kebudayaan Islam (strategi penguatan ummat).</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">b.    Minimal 15 (Lima Belas) Halaman, 1,5 spasi, Times New Roman, 12 pt, Kertas A4<br />
c.    Referensi yang dipakai minimal 5 buku.<br />
d.    Ada lembar pengesahan dari Pengurus Wilayah yang memberi mandat.<br />
e.    Meresensi buku minimal 5 (Lima) halaman, 1,5 spasi, Times New Roman, 12 pt, Kertas A4</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Daftar Buku Yang di resensi (<em>pilih salah satu</em>), antara lain:</strong></p>
<p style="text-align: left;"><!-- 	 --></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="7" width="634" bordercolor="#000000"><col width="24"></col> <col width="187"></col> <col width="209"></col> <col width="156"></col></p>
<tbody>
<tr valign="TOP">
<td width="24" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>NO</strong></p>
</td>
<td width="187" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>JUDUL</strong></p>
</td>
<td width="209" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>PENGARANG</strong></p>
</td>
<td width="156" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>PENERBIT</strong></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">1.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Prophetic 			Intelligence (Kecerdasan Kenabian)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Hamdani 			Bakran Adz-Dzakiey</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Al Furqan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">2.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Dua 			Wajah Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Stephen 			Sulaiman Schwartz</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Blantika, 			The Wahid Institute</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">3.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Dimensi-dimensi 			Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">John 			Renard</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Inisiasi 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">4.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Kepribadian 			dalam Psikologi Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Dr. 			H. Abdul Mujib, M. Ag</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Rajawali 			Pers</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">5.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Berlian 			Pribadi Sukses (Membangun Akhlak Pribadi Muslim yang Sukses di 			Masyarakat)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ichwan 			Ishak</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Grafindo</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">6.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Menanam 			Sebelum Kiamat</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Fachruddin 			M Mangunjaya, dkk</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Yayasan 			Obor Indonesia</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">7.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Kontribusi 			Islam atas Dunia Intelektual Barat</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Mehdi 			Nakosteen</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Risalah 			Gusti</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">8.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Beragama 			dengan Akal Jernih</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Idrus 			Shahab</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Serambi</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">9.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Negara 			Madinah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Khalil 			Abdul Karim</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">LKiS 			Yogyakarta</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">10.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			Sebagai Ilmu</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Kuntowijoyo</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">11.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Muhammad 			sang Tauladan</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Abdurrohman 			Asy-Syarqawi</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Irsyad 			Baitus Salam</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24" height="8">
<p align="JUSTIFY">12.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Orientalis 			dan Diabolisme Pemikiran</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Dr 			Syamsuddin Arif</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Gema 			Insan Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24" height="8">
<p align="JUSTIFY">13.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">50 			Pemikir Pendidikan (Dari Piaget sampai Masa Sekarang)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Joy 			A. Palmer (ed)</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Jendela</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">14.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Filsafat 			Etika Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Amin 			Abdullah</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">15.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Merajut 			Persatuan di Tengah Badai</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">ZA. 			Maulani</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Daseta</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">16.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Muqaddimah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ibnu 			Khaldun</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Firdaus</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">17.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Sekolah 			Gratis</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Utomo 			Dananjaya</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Paramadina</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">18.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Dari 			Gerakan ke Negara</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">H. 			M. Anis Matta</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Rabbani</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">19.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Tasawuf 			Modern</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Hamka</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Panji Mas</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">20.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Minhaj 			Al Abidin ila Al Jannah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Abu 			Hamid Al Ghazali</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Diva 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">21.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Wawasan 			Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">H. 			Endang S. Anshari, MA</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Gema 			Insani Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">22.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Paradigma 			Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Drs. 			Hujair AH. Sanaky, M.Si</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Safiria 			Insania Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">23.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Iklan 			dan Politik</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Budi 			Setiyono</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Galang 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">24.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Budaya 			Populer sebagai Komunikasi</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Idi 			Subandy Ibrahim</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Jala 			Sutra</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">25.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			dan Pluralisme</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Jalaluddin 			Rahmat</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Serambi</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">26.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Manajemen 			Ruh</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Prof. 			Kamal Haydari</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Cahaya</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">27.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Al 			Qur&#8217;an Kitab Zaman Kita</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Syaikh 			Muhammad Al Ghazali</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">28.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Spiritualitas 			dan Realitas Kebudayaan Kontemporer</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Alfathri 			Adlin (editor)</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Jala 			Sutra</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">39.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Benturan 			Antar Peradaban</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Samuel 			P. Huntington</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Qalam</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">30.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Manipulasi 			dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Kasiyan</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Ombak</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">31.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Titik 			Balik Peradaban</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Fritjof 			Capra</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Jejak</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">32.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Genealogi 			Intelegensia Muslim</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Yudi 			Latif</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Teraju</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">33.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Cita 			Humanisme Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">George 			A Maqdisi</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Serambi</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">34.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Renaisans 			Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Joel 			L. Kraemer</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">35.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam, 			Doktrin dan Peradaban</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Nurcholis 			Madjid</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Paramadina</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">36.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			agama semua zaman</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Shabbir 			Akhtar</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Az-Zahra</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">37.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Para 			Pencari Tuhan</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Syaikh 			Nadim Al-Jisr</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Putaka 			Hidayah</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">38.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Pragmatisme 			dalam Politik Zionis Israel</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Adian 			Husaini</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Khairul 			Bayan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">39.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Kebhinekaan 			masyarakat Indonesia</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Budiono 			kusumoharmidjojo</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Grasindo</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">40.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			Dihujat (menjawab buku Robert Morey :Islamic Invasion)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Hj. 			Irene Handono</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Bima 			Rodeta</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">41.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Anak 			masa depan (imajinasi, kreativitas, dan serbuan budaya baru)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ruben 			A. Alves</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Inisiasi 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">42.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Jihad 			Gerakan Intelektual (masalah langgam doktrinal menunju bahasa 			konsep)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Kreasi 			wacana</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">43.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Satu 			agama atau banyak agama (kajian tentan liberalisme dan pluralisme 			agama)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Muhammad 			leghaussen</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Lentera</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">44.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Tekstualitas 			Al-Qur&#8217;an (kritik terhadap ulumul-Qur&#8217;an)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Nashir 			Hamid Abu Zaid</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">LKIS</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">45.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Filsafat 			Islam (sebuah pendekatan tematis)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Oliver 			Leaman</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">46.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Da&#8217;wah 			(mencari peluang dan problematikanya)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">(Editor: 			Ulil Amri Syafri)</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">STID 			Muhammad Natsir press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">47.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Api 			sejarah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ahmad 			Mansyur suryanegara</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Salamadani 			Pustaka Semesta</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">5.    Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 (dua) tahun kedepan<br />
6.    Membawa buku-buku tentang filsafat, tasawuf, pemikiran, IPTEK, dan agama, pendidikan, sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah dan lain-lain minimal 5 buah.</p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY">
<p style="text-align: center;"><strong>PERSYARATAN<br />
PENDIDIKAN INSTRUKTUR DASAR (PID)<br />
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)<br />
KALIMANTAN BARAT</strong></p>
<p style="text-align: left;">A.    Pendidikan Instruktur Dasar<br />
1.    Pernah aktif di Pengurus Daerah atau sedang aktif di Pengurus Wilayah<br />
2.    Telah  lulus mengikuti kursus pendidikan pemandu /Mu`allim dan Advanced Training (ADVANTRA)<br />
3.    Mendapat Surat Mandat dari Pengurus Wilayah<br />
4.    Mampu membaca Al-Quran dengan fasih (tajwid, makhraj huruf) dan lancar<br />
5.    Telah berumur minimal 17 (Tujuh Belas) tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat<br />
6.    Membuat silabus kursus pra BATRA yang Orisinil<br />
7.    Membuat kliping koran dengan tema pendidikan dan kebudayaan; masing-masing minimal 5 judul.<br />
8.    Membuat tinjauan kritis (critical review) terhadap salah satu judul kliping. Minimal 3 halaman A4, 1,5 spasi, times new roman, 12pt.<br />
9.    Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun kedepan.<br />
10.    Membawa buku-buku referensi tentang pendidikan (kurikulum, psikologi pendidikan, pelatihan, metode dan model pembelajaran) minimal 5 buah.<br />
11.    Membuat Modul Kursus pra BATRA  alternatif.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>CURRICULUM VITAE</strong><br />
Berisi :<br />
<em>1.    Keterangan Identitas Diri<br />
2.    Pengalaman Pendidikan<br />
3.    Pengalaman Kaderisasi<br />
4.    Pengalaman Kepanitiaan<br />
5.    Prestasi Akademik dan Non Akademik</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Download Persyaratan LAT &amp; PID Kalimantan Barat <a href="http://pelajar-islam.or.id/unduh/alt_pid_kalbar.zip" target="_blank">disini</a><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/info-training/persyaratan-lat-dan-pid-kalimantan-barat.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Persyaratan LAT dan PID Jawa Tengah</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/info-training/persyaratan-lat-dan-pid-jawa-tengah.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/info-training/persyaratan-lat-dan-pid-jawa-tengah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 01:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Training]]></category>

		<category><![CDATA[ALT]]></category>

		<category><![CDATA[Jateng]]></category>

		<category><![CDATA[Persyaratan]]></category>

		<category><![CDATA[PID]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[PERSYARATAN
LEADERSHIP ADVANCED TRAINING (LAT)
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)
JAWA TENGAH
Semarang, 12 – 23 Pebruari 2010
PERSYARATAN UMUM
1. Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah.
2. Telah lulus mengikuti Intermediate Training (INTRA) minimal 5 bulan terahir.
3. Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training dan atau Ta`lim Wustho secara penuh.
PERSYARATAN KHUSUS:
1. Mendapat surat mandat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center; "><strong>PERSYARATAN<br />
LEADERSHIP ADVANCED TRAINING (LAT)<br />
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)<br />
JAWA TENGAH</strong></p>
<p style="text-align: center; "><strong><span style="font-weight: normal; ">Semarang, 12 – 23 Pebruari 2010</span></strong></p>
<p><strong>PERSYARATAN UMUM</strong></p>
<p>1.<span> </span>Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah.</p>
<p>2.<span> </span>Telah lulus mengikuti Intermediate Training (INTRA) minimal 5 bulan terahir.</p>
<p>3.<span> </span>Telah lulus mengikuti salah satu kursus pasca Intermediate Training dan atau Ta`lim Wustho secara penuh.</p>
<p><strong>PERSYARATAN KHUSUS:</strong></p>
<p>1.<span> </span>Mendapat surat mandat dari Pengurus Wilayah (PW) PII</p>
<p>2.<span> </span>Mampu membaca Al-Quran dengan fasih (Tajwid, makhraj huruf) dan lancar</p>
<p>3.<span> </span>Telah berumur minimal 17 tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat</p>
<p>4.<span> </span>Membuat tugas tulis berupa makalah dan resensi secara orisinil dan mampu  mempertanggungjawabkannya di hadapan tim instruktur.</p>
<p><strong>Makalah:</strong></p>
<p>a.<span> </span>Tema Makalah (pilih salah satu), antara lain:</p>
<ul>
<li>Melacak Akar Geneologis Ideologi Islam dalam Falsafah Gerakan PII.</li>
<li>Pelajar Berilmu dan Beradab sebagai Jawaban Kader PII di tengah Arus Budaya global (tinjauan Profil ideal kader PII).</li>
<li>Reinterpretasi PII: Menuju Gerakan Ideologis Inklusif.</li>
<li>Menggagas Konsep Gerakan Pelajar (Pendidikan dan Sosial) di tengah Masyarakat Urban.</li>
<li>Membangun Kader Intelektual Muslim dalam Menjawab Problem Kebangsaan dan Penguatan Orientasi Gerak PII.</li>
<li>Membentuk Militansi Kader Umat Sebagai Strategi Transformatif nilai Civil Society dan Konstruksi Gerakan PII (Tinjauan Falsafah Gerakan PII).</li>
<li>Islam Rahmatan lil-Alamin: Kajian Epistemologi Gerakan Meniti Jalan Menuju Masa Depan Peradaban Muslim.</li>
<li>Meluruskan Islam Fobia dalam me-reposisi Fitrah Islam sebagai Agama Cinta Damai.</li>
<li>Tauhid Transformasi Kehidupan dan Peradaban Islam dalam Perspektif cita kemasyarakatan Islam (Tinjauan Falsafah Gerakan PII).</li>
<li>Antara Etika dan Estetika: Mengurai Budaya di Era Komunikasi (Tinjauan Eksistensi dan Hakekat Ilmu Pengetahuan).</li>
</ul>
<p>b.<span> </span>Minimal 15 (Lima Belas) Halaman, 1,5 spasi, Times New Roman, 12 pt, Kertas A4</p>
<p>c.<span> </span>Referensi yang dipakai minimal 5 buku.</p>
<p>d.<span> </span>Ada lembar pengesahan dari Pengurus Wilayah yang memberi mandat.</p>
<p>e.<span> </span>Meresensi buku minimal 5 (Lima) halaman, 1,5 spasi, Times New Roman, 12 pt, Kertas A4</p>
<p><strong>Daftar Buku Yang di resensi (<em>pilih salah satu</em>), antara lain:</strong></p>
<p><!-- 	 --></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="7" width="634" bordercolor="#000000"><col width="24"></col> <col width="187"></col> <col width="209"></col> <col width="156"></col></p>
<tbody>
<tr valign="TOP">
<td width="24" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>NO</strong></p>
</td>
<td width="187" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>JUDUL</strong></p>
</td>
<td width="209" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>PENGARANG</strong></p>
</td>
<td width="156" bgcolor="#c0c0c0">
<p align="JUSTIFY"><strong>PENERBIT</strong></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">1.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Prophetic 			Intelligence (Kecerdasan Kenabian)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Hamdani 			Bakran Adz-Dzakiey</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Al Furqan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">2.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Dua 			Wajah Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Stephen 			Sulaiman Schwartz</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Blantika, 			The Wahid Institute</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">3.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Dimensi-dimensi 			Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">John 			Renard</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Inisiasi 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">4.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Kepribadian 			dalam Psikologi Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Dr. 			H. Abdul Mujib, M. Ag</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Rajawali 			Pers</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">5.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Berlian 			Pribadi Sukses (Membangun Akhlak Pribadi Muslim yang Sukses di 			Masyarakat)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ichwan 			Ishak</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Grafindo</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">6.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Menanam 			Sebelum Kiamat</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Fachruddin 			M Mangunjaya, dkk</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Yayasan 			Obor Indonesia</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">7.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Kontribusi 			Islam atas Dunia Intelektual Barat</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Mehdi 			Nakosteen</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Risalah 			Gusti</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">8.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Beragama 			dengan Akal Jernih</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Idrus 			Shahab</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Serambi</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">9.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Negara 			Madinah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Khalil 			Abdul Karim</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">LKiS 			Yogyakarta</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">10.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			Sebagai Ilmu</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Kuntowijoyo</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">11.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Muhammad 			sang Tauladan</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Abdurrohman 			Asy-Syarqawi</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Irsyad 			Baitus Salam</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24" height="8">
<p align="JUSTIFY">12.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Orientalis 			dan Diabolisme Pemikiran</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Dr 			Syamsuddin Arif</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Gema 			Insan Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24" height="8">
<p align="JUSTIFY">13.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">50 			Pemikir Pendidikan (Dari Piaget sampai Masa Sekarang)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Joy 			A. Palmer (ed)</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Jendela</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">14.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Filsafat 			Etika Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Amin 			Abdullah</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">15.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Merajut 			Persatuan di Tengah Badai</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">ZA. 			Maulani</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Daseta</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">16.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Muqaddimah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ibnu 			Khaldun</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Firdaus</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">17.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Sekolah 			Gratis</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Utomo 			Dananjaya</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Paramadina</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">18.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Dari 			Gerakan ke Negara</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">H. 			M. Anis Matta</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Rabbani</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">19.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Tasawuf 			Modern</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Hamka</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Panji Mas</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">20.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Minhaj 			Al Abidin ila Al Jannah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Abu 			Hamid Al Ghazali</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Diva 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">21.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Wawasan 			Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">H. 			Endang S. Anshari, MA</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Gema 			Insani Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">22.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Paradigma 			Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Drs. 			Hujair AH. Sanaky, M.Si</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Safiria 			Insania Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">23.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Iklan 			dan Politik</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Budi 			Setiyono</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Galang 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">24.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Budaya 			Populer sebagai Komunikasi</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Idi 			Subandy Ibrahim</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Jala 			Sutra</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">25.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			dan Pluralisme</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Jalaluddin 			Rahmat</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Serambi</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">26.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Manajemen 			Ruh</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Prof. 			Kamal Haydari</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Penerbit 			Cahaya</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">27.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Al 			Qur&#8217;an Kitab Zaman Kita</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Syaikh 			Muhammad Al Ghazali</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">28.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Spiritualitas 			dan Realitas Kebudayaan Kontemporer</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Alfathri 			Adlin (editor)</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Jala 			Sutra</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">39.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Benturan 			Antar Peradaban</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Samuel 			P. Huntington</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Qalam</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">30.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Manipulasi 			dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Kasiyan</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Ombak</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">31.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Titik 			Balik Peradaban</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Fritjof 			Capra</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Jejak</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">32.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Genealogi 			Intelegensia Muslim</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Yudi 			Latif</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Teraju</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">33.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Cita 			Humanisme Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">George 			A Maqdisi</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Serambi</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">34.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Renaisans 			Islam</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Joel 			L. Kraemer</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">35.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam, 			Doktrin dan Peradaban</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Nurcholis 			Madjid</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Paramadina</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">36.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			agama semua zaman</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Shabbir 			Akhtar</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Pustaka 			Az-Zahra</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">37.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Para 			Pencari Tuhan</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Syaikh 			Nadim Al-Jisr</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Putaka 			Hidayah</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">38.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Pragmatisme 			dalam Politik Zionis Israel</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Adian 			Husaini</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Khairul 			Bayan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">39.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Kebhinekaan 			masyarakat Indonesia</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Budiono 			kusumoharmidjojo</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Grasindo</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">40.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Islam 			Dihujat (menjawab buku Robert Morey :Islamic Invasion)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Hj. 			Irene Handono</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Bima 			Rodeta</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">41.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Anak 			masa depan (imajinasi, kreativitas, dan serbuan budaya baru)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ruben 			A. Alves</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Inisiasi 			Press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">42.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Jihad 			Gerakan Intelektual (masalah langgam doktrinal menunju bahasa 			konsep)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Kreasi 			wacana</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">43.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Satu 			agama atau banyak agama (kajian tentan liberalisme dan pluralisme 			agama)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Muhammad 			leghaussen</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Lentera</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">44.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Tekstualitas 			Al-Qur&#8217;an (kritik terhadap ulumul-Qur&#8217;an)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Nashir 			Hamid Abu Zaid</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">LKIS</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">45.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Filsafat 			Islam (sebuah pendekatan tematis)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Oliver 			Leaman</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Mizan</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">46.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Da&#8217;wah 			(mencari peluang dan problematikanya)</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">(Editor: 			Ulil Amri Syafri)</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">STID 			Muhammad Natsir press</p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="24">
<p align="JUSTIFY">47.</p>
</td>
<td width="187">
<p align="JUSTIFY">Api 			sejarah</p>
</td>
<td width="209">
<p align="JUSTIFY">Ahmad 			Mansyur suryanegara</p>
</td>
<td width="156">
<p align="JUSTIFY">Salamadani 			Pustaka Semesta</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>5.<span> </span>Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 (dua) tahun kedepan</p>
<p>6.<span> </span>Mengirim curriculum vitae, makalah dan resensi (H-3) via email: zainul_pii@yahoo.com.</p>
<p>7.<span> </span>Membawa buku-buku tentang filsafat, tasawuf, pemikiran dan agama, pendidikan, sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah dan lain-lain minimal 5 buah.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PERSYARATAN</strong><strong><br />
PENDIDIKAN INSTRUKTUR DASAR (PID)<br />
PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)<br />
JAWA TENGAH</strong></p>
<p style="text-align: center;">Semarang, 12 – 23 Pebruari 2010</p>
<p><strong>A.<span> </span>Pendidikan Instruktur Dasar</strong></p>
<p>1.<span> </span>Pernah aktif di Pengurus Daerah dan atau sedang aktif di Pengurus Wilayah</p>
<p>2.<span> </span>Telah  lulus mengikuti kursus pendidikan pemandu /Mu`allim dan Advanced Training (ADVANTRA)</p>
<p>3.<span> </span>Mendapat Surat Mandat dari Pengurus Wilayah</p>
<p>4.<span> </span>Mampu membaca Al-Quran dengan fasih (tajwid, makhraj huruf) dan lancar</p>
<p>5.<span> </span>Telah berumur minimal 17 (Tujuh Belas) tahun atau jenjang pendidikannya di kelas 2 SLTA/sederajat</p>
<p>6.<span> </span>Membuat silabus kursus pra BATRA yang Orisinil</p>
<p>7.<span> </span>Membuat kliping koran dengan tema pendidikan dan kebudayaan; masing-masing minimal 5 judul.</p>
<p>8.<span> </span>Membuat tinjauan kritis (critical review) terhadap salah satu judul kliping. Minimal 3 halaman A4, 1,5 spasi, times new roman, 12pt.</p>
<p>9.<span> </span>Menyatakan kesediaan untuk aktif di struktur kepengurusan PII minimal 2 tahun ke depan.</p>
<p>10.<span> </span>Membawa buku-buku referensi tentang pendidikan (kurikulum, psikologi pendidikan, pelatihan, metode dan model pembelajaran) minimal 5 buah.</p>
<p>11.<span> </span>Mengirim curriculum vitae dan Modul Kursus pra BATRA  alternatif (H-3) via email: zainul_pii@yahoo.com.</p>
<p><strong><br />
CURRICULUM VITAE</strong></p>
<p>Berisi :</p>
<p><em>1.<span> </span>Keterangan Identitas Diri</em></p>
<p><em>2.<span> </span>Pengalaman Pendidikan</em></p>
<p><em>3.<span> </span>Pengalaman Kaderisasi</em></p>
<p><em>4.<span> </span>Pengalaman Kepanitiaan</em></p>
<p><em>5.<span> </span>Prestasi Akademik dan Non Akademik</em></p>
<p>Download Persyaratan LAT &amp; PID Jawa Tengah <a href="http://pelajar-islam.or.id/unduh/alt_pid_jateng.zip" target="_blank">disini</a><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/info-training/persyaratan-lat-dan-pid-jawa-tengah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pedang Nabi Muhammad SAW Ada di Blok M</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pedang-nabi-muhammad-saw-ada-di-blok-m.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pedang-nabi-muhammad-saw-ada-di-blok-m.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 19:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[blok m]]></category>

		<category><![CDATA[pedang nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pedang-nabi-muhammad-saw-ada-di-blok-m.html</guid>
		<description><![CDATA[
PERNAKAH Anda melihat pedang Nabi Muhammad SAW?
Jika belum pernah, inilah kesempatan untuk menyaksikannya dalam pameran yang akan diadakan di Hall Utama Blok M Square, Jakarta Selatan. Pameran dengan tema Pedang Nabi yang merupakan kerjasama antara Blok M Square dan Kedutaan Besar Turki akan berlangsung pada tanggal 23 Januari hingga 21 Februari 2010.
Dalam pameran ini terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="pedang" src="http://toko165.com/wp-content/uploads/2010/01/pedang4.jpg" alt="" width="299" height="183" /></p>
<p>PERNAKAH Anda melihat pedang Nabi Muhammad SAW?</p>
<p>Jika belum pernah, inilah kesempatan untuk menyaksikannya dalam pameran yang akan diadakan di Hall Utama Blok M Square, Jakarta Selatan. Pameran dengan tema Pedang Nabi yang merupakan kerjasama antara Blok M Square dan Kedutaan Besar Turki akan berlangsung pada tanggal 23 Januari hingga 21 Februari 2010.</p>
<p>Dalam pameran ini terdapat tiga ruangan, ruangan yang pertama adalah ruangan video dimana pengunjung dapat menyaksikan sejarah tentang Salahudin Al Ayubi dengan durasi 10 menit. Setelah itu, menuju ruangan kedua, pengunjung akan menyaksikan reliki secara nyata dan juga leteratur-literatur penjelasannya. Di ruangan ini pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar tanpa izin khusus dari pihak panitia. Sedangkan pada ruangan ketiga atau terakhir, pengunjung dapat berfoto dengan latarbelakang pedang Al Mathur dan Al Qadib, yaitu pedang peninggalan Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Hall Utama Blok M Square kami desain sedemikian rupa hingga menyerupai Istana Topkapi di Istanbul Turki.. Disaat mal lainnya menyambut Imlek, justru kami membuat terobosan baru yang spektakuler, kata Tatu Hartoyo, Asisten General Manager Blok M Square, kemarin.</p>
<p>Menurut Tatu, dalam pameran Pedang Nabi ini masih ada kaitannya dengan Imlek yaitu pengunjung dapat menyaksikan Busur Panah hadiah dari kaisar China kepada Nabi Muhammad SAW serta pedang dari perbatasan China dan India.</p>
<p>Tidak hanya itu berbagai benda lain peninggalan para Nabi zaman dahulukala yang akan dipamerkan di ruangan berukuran 12 x 18 meter ini seperti pedang al Battar yang pernah dipergunakan Nabi Daud, tongkat Nabi Muhammad SAW, dan jejak kaki Nabi Muhammad SAW pada saat melaksanakan Isra Miraj dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha.<br />
Pameran yang rencananya akan dibuka resmi oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia Aidyn Evirgen dan akan dihadiri oleh Walikota Jakarta Selatan pada tanggal 23 Januari 2010 pukul 11.00 WIB ini diharapkan dapat dijadikan sebagai ajang edukasi bagi masyarakat.</p>
<p>Selama ini masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim banyak yang salah kaprah mengira peninggalan para Nabi banyak terdapat di Arab, padahal peninggalan para Nabi banyak terdapat di Turki, tepatnya di Istana Topkapi, Istanbul, Turki.</p>
<p>Pameran ini merupakan pameran sejarah dimana banyak pembelajaran sejarah yang bisa dipelajari baik oleh siswa maupun guru. Bayangkan benda-benda bersejarah para Nabi dibawa langsung dari Turki ke Indonesia, benar-benar menakjubkan, jelas Tatu.</p>
<p>Untuk menyaksikan pameran ini para pengunjung harus membeli tiket masuk sebesar Rp15.000/orang hari Senin-Sabtu untuk umum, dan Rp20.000 pada hari Minggu. Sementara untuk siswa Rp10.000 pada hari Senin-Minggu dengan. Jam buka pukul 10.00-21.00 WIB.<br />
Sejarah</p>
<p>Siapa yang membawa benda-benda bersejarah tersebut hingga ke Turki? Hal itu berawal dari perjuangan Salahudin Al Ayub yang mendirikan dinasti Ayubi di Mesir pada tahun 1174 Masehi. Dalam perkembangannya, Salahudin mengembangkan Islam sampai ke Eropa sehingga hampir seluruh bagian Negara Eropa dikuasainya.<br />
Dalam perjuangannya Salahudin membebaskan budak-budak dari mamluk sebanyak 12.000 budak yang nantinya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mamluk yang menggulingkan dinasti Ayubid sepeninggalan Salahudin Al Ayubi. Di sisi lain tepatnya di Turki berdiri kerajaan kecil yang didirikan oleh Ertugul. Dalam perkembangannya kerajaan yang didirikan oleh Ertugul tersebut berkembang pesat hingga generasi ke generasi.<br />
Pada saat kepemimpinan Sultan Selim I, yaitu Sultan generasi ke sembilan kesultanan Turki, Selim I berupaya mengembangkan daerah kekuasaannya hingga sampai ke Mesir. Pada saat menguasai mesir Sultan Selim I menemukan peninggalan para Nabi (reliki) yang dibawa oleh Salahudin Al Ayubi dari Irak sehingga ia memutuskan untuk membawanya ke Turki dan menyimpannya di Istana Topkapi Turki hingga saat ini.(evi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/berita/pedang-nabi-muhammad-saw-ada-di-blok-m.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PII Sulut Tolak Ujian Nasional</title>
		<link>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/pii-sulut-tolak-ujian-nasional.html</link>
		<comments>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/pii-sulut-tolak-ujian-nasional.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 11:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[Info PII]]></category>

		<category><![CDATA[pii sulut]]></category>

		<category><![CDATA[Tolak Ujian Nasional]]></category>

		<category><![CDATA[Tolak UN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelajar-islam.or.id/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Manado (13/01/2010), penolakan atas pelaksanaa Ujian Nasional (UN) kembali terjadi. Kali ini datang dari Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Sulawesi Utara. Dalam Press Reliesnya yang disampaikan pada Selasa (12/01/2010) kemaren melalui PJS Ketua Umum Abdul Manaf Jamil, PII menegaskan bahwa pelaksanaan Un telah mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak-hak anak, berupa gangguan psikologis dan mental [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manado (13/01/2010), penolakan atas pelaksanaa Ujian Nasional (UN) kembali terjadi. Kali ini datang dari Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Sulawesi Utara. Dalam Press Reliesnya yang disampaikan pada Selasa (12/01/2010) kemaren melalui PJS Ketua Umum Abdul Manaf Jamil, PII menegaskan bahwa pelaksanaan Un telah mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak-hak anak, berupa gangguan psikologis dan mental peserta didik. Ini sebuah fakta bahwa UN dengan segala resikonya telah menimbulkan korban. Sementara fakta ini berlangsung dengan konsekwensi banyaknya dana negara yang terkuras.</p>
<p>PII berargumen bahwa dana ini seharusnya bisa digunakan untuk mencapai tujuan nasional yakni mencerdaskan tujuan bangsa menjadi dana perusak mental penerus bangsa. Padahal lanjut mereka UN hanyalah satu dari sekian banyak persoalan pendidikan di negeri ini. Fasilitas belajar, kesejahteraan guru, sistem kurikulum adalah adalah pekerjaan besar lembaga pendidikan di Indonesia.</p>
<p>Selain itu juga putusan Mahkamah Agung (MA) tentang UN seharusnya dijalankan sebagaimana mestinya dengan meniadakan UN atau setidaknya menundanya hingga sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar terpenuhi. Mereka punberpendapat bahwa DPRD sebagai perwakilan rakyat harus mengambil sikap tegas menyikapi hal ini. Di sisi lain, PII meminta Depdiknas harus bertanggungjawab atas peningkatan kualitas guru dan merehabilitasi para korban UN.</p>
<p>Harian Media Sulut (13/01/2010)</p>
<p>Stenny Wolajan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelajar-islam.or.id/virtual.pii/info/pii-sulut-tolak-ujian-nasional.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
